DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Berbagi Tugas


__ADS_3

"Al.. bangun dong.. udah siang.." Tiara mengguncang bahu suaminya pelan. Mereka memang baru tertidur beberapa jam. Tapi pagi ini mama muda itu ada kuliah pagi. Jadi masalah anak dan suami sudah harus selesai sebelum ia berangkat kuliah.


Dan pria yang di bangunkan hanya menggumam tidak jelas dan membalikan badan.


"Jagain ade bentar.. biar aku mandiin abang duluan."


Tiara masih mencoba mengguncang bahu sang suami yang masih belum menunjukan tanda-tanda akan bangun.


Tiara belum bisa memandikan kedua anaknya sekaligus. Kamar mandi bukan tempat yang tepat membiarkan mereka yang aktif tanpa pengawasan yang ketat.


Pernah sekali Tiara mencoba memandikan mereka secara bersamaan. Dan hasilnya, saat wanita itu tengah menyabuni Vindra, abang Fari hampir tenggelam dalam bathup. Dan sejak saat itu Tiara memilih untuk memandikan mereka bergantian. Kecuali Alvaro ikut membantu memandikan si kembar.


"Aku udah siang, Al.. Jagain ade bentaaaarrr.."


"Iya.. iya.. aku jagain." dengan berat Alvaro membuka kedua matanya yang terasa sangat lengket dan enggan untuk di ajak melihat dunia pagi ini.


"Gitu dong bangun." Tiara tersenyum dan meletakan Vindra untuk duduk di sebelah papanya yang masih berbaring mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.


Beralih mengambil Fari dan melepaskan kain yang melekat pada tubuh batita gempal itu untuk di mandikan.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Tiara memandikan Fari.


Saat keluar dari kamar mandi-dengan Fari yang terbalut handuk dalam gendongan- Tiara menggeleng mendapati suaminya yang kembali terlelap. Vindra sudah di kelilingi bantal agar batita yang mulai merangkak itu tidak turun dari tempat tidur.


Batita itu masih anteng duduk dengan tangan yang memukul-mukul wajah papanya dengan tergelak khas batita.


"Papa kalian tuh bilangnya aja mau jagain. Tapi di tinggal tidur!" gerutu Tiara yang juga meletakan Fari di sisi Vindra.


Tiara mengambil baju dan segala perlengkapan anaknya setelah mandi.


"Bantuin pakein baju abang dong Al.. Aku mau mandiin ade.."


Terdengar Alvaro mengembuskan napasnya kasar. Dan terduduk di atas tempat tidur.


"Kamu marah?" tuduh Tiara yang tidak suka mendengar suaminya menghembuskan napas sekasar itu. "Kalau kamu gak mau bantuin gak papa. Biar aku suruh nenny aja yang pakein baju anak-anak."


Ayo lah. Tiara tahu Alvaro masih mengantuk. Dia juga sama. Jadi jangan membuat suasana hatinya sepagi ini menjadi buruk.


"Aku gak marah sayang.. Aku cuma ngantuk." ucap Alvaro yang menarik lembut tangan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


Tiara masih menekuk wajahnya meskipun Alvaro sudah memeluk dan menciumi wajahnya.


"Kamu pakein baju abang. Biar ade, aku aja yang mandiin. Nanti kalau aku disini malah ngantuk lagi."

__ADS_1


Tiara hanya menjawab dengan anggukan. Masih enggan menatap suaminya. Masih belum ada senyum di wajahnya.


Alvaro tersenyum dan mengacak rambut istrinya sebelum meraih Vindra dalam gendongan. "Ayo ade mandi bareng papa..."


***


Suasana kantor terlihat sepi saat siang setelah kuliah Alvaro baru bisa menyambangi kantornya.


"Orang-orang pada kemana, La?" tanya Alvaro pada resepsionis bernama Nila.


"Bang Bobby lagi ketemu klien yang kemarin datang, mas. Beberapa yang lain cek lapangan. Kalau bang Dika ada di ruangannya lagi ada tamu."


Nila satu-satunya karyawan yang tidak melanjutkan kuliah karena kendala biaya. Tapi sejauh ini pekerjaan gadis itu selalu bagus. Maka Alvaro dan yang lain sepakat untuk menyisakan keuntungan yang mereka dapat untuk mendaftarkan Nila kuliah di semester depan.


"Tamu siapa?"


Nila mengangkat bahu. "Cewek."


Alvaro yang penasaran menuju ruangan dimana Dika tempati sebagai marketing sekaligus asistennya. Meski awalnya sempat ragu untuk bisa kerja secara profesional dengan pemuda itu, tapi setelah melihat bakat Dika dalam menarik hati klien untuk menggunakan jasa mereka, Alvaro berjanji akan mempertahankan Dika dalam perusahaan rintisannya ini sampai kapan pun. Kecuali Dika sendiri yang angkat kaki untuk meraih pekerjaan yang lebih dari yang pemuda itu dapatkan di tempatnya.


Selama ini tak sekali pun Alvaro mendengar atau melihat Dika dekat dengan seseorang. Bahkan dengan Sheril. Alvaro yakin dulu hanya demi rasa kemanusiaan Dika mau menemani Sheril menjalani pengobatannya hingga gadis itu sembuh. Terakhir Alvaro melihat mereka berdua saat menjenguk Tiara pasca melahirkan dulu.


Karena kebiasaan, Alvaro langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Saat itu juga Alvaro menyesali kebiasaannya.


***


Ketika makan siang. Sheril mendatangi kantor milik Alvaro. Kantor dimana pujaan hatinya bekerja.


Saat gadis itu baru keluar dari taxi online, ia melihat tubuh tegap yang baru turun dari sepeda motor dan melangkah menuju pintu bangunan bertuliskan "Kaisar Company". Tempat yang menjadi tujuannya.


"Dika." panggil Sheril sembari mendekati pria tegap tersebut.


"Eh Sher? kok gak bilang-bilang mau ke sini?" terlihat jelas jika Dika tidak menyangka Sheril akan menemuinya di tempat kerja.


Hari ini Dika memang tidak ada jadwal kuliah jadi bisa ke kantor dari pagi untuk bertemu beberapa klien yang baru saja di temuinya di luar.


"Gue baru bikin resep baru.. Mau ya cobain?" Sheril menunjukan paperbag dalam tangannya dengan mata berbinar indah.


"Yuk masuk. Cobain di dalam aja. Disini panas."


Sheril mengangguk dan mengikuti Dika masuk. Pemuda itu menyapa dengan akrab gadis cantik yang berdiri di belakang meja resepsionis. Sedangkan ia hanya mengangguk sopan.


Didalam ruangan yang cukup luas untuk perusahaan yang baru dirintis itu, Sheril mulai membuka tempat makan yang ia bawa. Mengangsurkannya pada Dika.

__ADS_1


"Gue makan ya?"


Sheril mengiyakan. Karena memang ia membawa makanan itu untuk pemuda di sampingnya ini.


"Lo.. masih belum bisa move on dari Tiara, ya Dik?" tanya Sheril dengan ragu. Membuat Dika terbatuk-batuk karena tersedak makanan yang sedang dikunyahnya.


"Kok lo ngomong gitu?"


"Kayaknya gue gak lihat lo deket sama cewek mana pun setelah lo di tolak Tiara dulu. Bahkan sama gue aja cuma karena lo kasihan kan?"


Sheril tercekat saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Sekuat apa pun dia menolak kenyataan bahwa Dika ada di sampingnya karena keterpaksaan. Tetap saja hatinya sakit membohongi diri sendiri. Berpura-pura Dika benar-benar tulus berada di sampingnya.


Dika meletakan kotak makan ke atas meja. Dia beringsut mendekati Sheril dan menggenggam kedua tangan gadis yang sedang menunduk sedih itu.


"Gue udah gak punya perasaan apa-apa sama Tiara. Lagian dia udah jadi milik orang lain. Udah punya anak juga. Jadi apa yang mau gue harapin dari dia, Sher?"


Sheril tidak menjawab. Masih menundukan wajahnya. Setelah mengalami penyakit mematikan kemarin, Sheril mulai berubah menjadi gadis baik. Tidak bar-bar dan sombong lagi.


"Gue nemenin lo selama ini memang awalnya karena Alvaro yang nemuin gue buat nolong lo. Tapi semakin sering kita bertemu, perasaan gue ke elo tulus Sher.. Bukan karena gue kasihan, kalo itu yang lo takutin."


Mata Sheril mulai berkaca-kaca.


"Ayo kita jadian biar lo percaya kalau gue tulus."


Sheril langsung mendongakan kepalanya. Menatap Dika tak percaya. Maksudnya apa? Dika mau mempermainkan perasaannya.


"Lo gak perlu maksain buat pacaran sama gue kalau memang lo gak ada rasa apa pun buat gue, Dik." ucap Sheril lirih. "Biarpun gue udah cinta sama lo dari jaman kita SMA. Tapi bukan berarti lo bisa mempermainkan perasaan gue."


"Gue bukan mau mempermainkan lo. Gue serius." tidak ada keraguan dalam suara Dika. "Dan perasaan bisa tumbuh dengan seiring perjalanan kita."


Sheril menggeleng tidak setuju. Belum gadis itu menjawab, Dika sudah mengikis jarak dan menyatukan bibir mereka.


Hanya menempel tanpa melakukan lebih. Dan di saat yang tidak tepat itu Alvaro masuk tanpa permisi.


Membuat Sheril seketika menjauhkan tubuh Dika darinya.


*


*


*


Apa-apaan bang Dika nembaknya begitu 😑

__ADS_1


Takut ada yang penasaran sama mereka. Tapi gak janji buat di lanjut cerita Dika sama Sheril-nya wkwkwk


__ADS_2