DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Tingkah Aneh


__ADS_3

Dengan dibantu mommy Shevi dan daddy Alvin untuk menjaga kedua buah hatinya, Alvaro menyiapkan kejutan untuk sang istri. Sebagai ungkapan terimakasih juga maaf.


Tentu saja ide ini atas saran ayah mertuanya yang sudah berpengalaman. Karena daddy Alvin tahu menantunya bukan pria romantis. Jadilah pria itu mengusulkan ide untuk memberi kejutan sore ini.


"Pokoknya jangan sampai gagal! kalau gagal, mommy aduin kamu sama Tiara!" begitu ancaman ibu mertuanya sebelum mereka meninggalkan rumah.


Alvaro hanya meringis dan menggaruk tengkuknya. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa kecuali mengikuti semua intruksi dari daddy Alvin. Ia juga bukan pria yang mudah mengungkapkan isi hatinya. Ia bahkan tak pandai berbicara.


"Huft.. Semoga aja berhasil." Alvaro menghembuskan napasnya keras, sebagai caranya untuk mengurangi rasa grogi yang mulai menyerang.


Padahal Tiara saja baru mengabarinya kalau wanita itu baru selesai kelas. Masih membutuhkan waktu 45 menit lagi sampai istrinya itu sampai di depan pintu. Tapi rasanya sudah tinggal detik terakhir untuk aksinya.


Alvaro memilih mandi dan bersiap.


***


Tiara yang baru sampai di rumah di buat heran dengan keadaan rumah yang sepi. Jendela juga semua sudah tertutup. Tidak biasanya sekali.


"Apa anak-anak tidak engap jam segini jendela udah pada di tutup." gumam Tiara yang sedang menapaki teras depan. "Apa gak ada orang?" imbuhnya masih dengan rasa heran.


Dibukanya pintu utama yang ternyata tidak dikunci, yang berarti ada orang di dalam. Tapi untuk apa semua di tutup seperti ini. Batin Tiara.


Ruang tamu terasa gelap dengan jendela yang sudah tertutup bahkan hingga semua gordennya.


Sampai di ruang tengah senyum Tiara mengembang. Ada banyak lilin yang berderet rapi di kanan kiri membentuk jalan untuk menuntunnya entah kemana.


Di bawah kakinya, tepat di ujung lilin ada sebuah kertas dengan tulisan Follow Me.


Tanpa ragu Tiara mengikuti lilin-lilin itu. Entah untuk alasan apa Alvaro melakukan semua ini.


Ya. Dia tahu yang melakukan ini pasti suaminya. Karena siapa lagi yang tinggal di rumah ini dan melakukan ini semua jika buka Alvaro.


Tidak mungkin satpam mereka kan yang melakukannya? untuk apa? dan yang benar saja!


Ternyata lilin itu mengarah ke rooftop rumah mereka. Dengan mengedikan bahu, Tiara semakin mempercepat langkah kakinya agar cepat pula dirinya tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Dan disana. Di rooftop mereka. Alvaro duduk memangku sebuah gitar. Menyambutnya dengan senyuman manis yang selalu mampu menggetarkan hatinya.


Senyum hangat yang selalu menemani perjalanan kisah mereka.


Alvaro mulai memainkan sebuah intro lagu. Seiring kakinya yang mulai mendekat ke arah sang suami.


Dan sejak kapan Alvaro jadi seromantis ini?


Bahkan biasanya di paksa seperti apa pun, suaminya tidak akan pernah mau untuk bernyanyi. Katanya suara emasnya terlalu mahal untuk di perdengarkan.


Dan kini, ia tersenyum dengan jantung yang semakin bertalu ketika sang suami mulai bernyanyi.


Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu

__ADS_1


Tiara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ternyata suara suaminya memang cukup bagus dan enak di dengar. Tak disangka, pria yang irit bicara itu memiliki suara emas sungguhan.


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Dan semburat warna jingga ikut mengiringi Alvaro bernyanyi. Membuat suasana kian romantis dengan lampu yang menjadi atap mereka kian terlihat cahayanya.


Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak indah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Karena ia pernah menjadi saksi sang ayah ketika melamar ibunya.


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia, haa-haa


Haa-haa


(Melukis Senja - Budi Doremi)


Alvaro menarik sang istri untuk duduk si sebelahnya begitu pria itu selesai bernyanyi.


"Kamu ngapain, Al? emang ini hari dan tanggal apa sih?" tanya Tiara yang masih belum mengerti dalam rangka apa suaminya melakukan itu semua.


"Dan tumben-tumbenan mau main gitar pake nyanyi segala." imbuhnya yang di warnai kekehan ringan.

__ADS_1


"Demi kamu nih." jawab Alvaro.


"Ya tapi dalam rangka apa sayang??" serunya gemas hingga kedua tangannya mencubit pelan pipi suaminya.


Ada pancaran sendu yang Tiara tidak mengerti dari mata Alvaro. Dan terlihat jelas jika suaminya grogi karena menarik napas berkali-kali.


"Aku mau berterimaksih sama kamu, yank." digenggamnya kedua tangan yang sudah berjuang keras untuk keluarga kecil mereka. Tangan kecil ajaib yang bisa membuat semua berjalan baik. Tangan yang selalu menghangatkan baginya dan juga anak-anak.


Tiara mengernyitkan dahinya. Lebih tidak paham lagi. Karena dirinya tidak merasa sudah melakukan sesuatu untuk suaminya.


"Terimakasih udah jadi istri dan mama yang hebat untuk aku dan anak-anak." Alvaro memulai sebelum kata-kata yang sudah ia rangkai di kepala menguap dan mengacaukan apa yang sudah ia kerjakan dari siang.


"Terimakasih karena selama ini kamu gak pernah ngeluh meskipun aku tau, kamu pasti sangat lelah dengan semua aktifitas yang kamu jalani setiap hari."


Tiara menggeleng. "Itu kewajiban aku. Dan aku se-" kalimatnya terpotong dengan jari Alvaro yang menempel di bibirnya.


"Aku belum selesai."


Tiara mengucap 'oke' tanpa suara dan akan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Kamu tetap mampu jadi mama yang selalu ada untuk anak-anak kita. Kamu juga melayani aku dengan baik secara lahir dan batin." suara Alvaro mulai di warnai getaran.


"Kamu gak pernah ngeluh sama itu semua. Padahal kamu juga lelah dengan kuliah dan tugas-tugas yang harus kamu kerjakan."


Tiara semakin bingung dan bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa? dan kenapa dengan suaminya?


"Kamu gak marah meski aku suka minta tolong ambilkan atau buatkan sesuatu disaat kamu sibuk mengerjakan tugas. Padahal aku sendiri mampu untuk nyari dan bikin sendiri. Tapi kamu selalu memberi yang terbaik untuk kami."


Meski bingung, tapi kalimat suaminya sukses membuat air matanya menetes.


"Maafin aku, yank." Alvaro menunduk. Merasa belum bisa menjadi suami yang baik. Bahkan sangat jauh dari kata baik.


"Maafin aku yang gak pernah bantuin kamu apa-apa soal urusan rumah tangga. Maafin aku yang gak bisa ngertiin kamu selama ini. Padahal aku tau kamu lelah. Aku tau kamu sibuk. Tapi aku malah menganggap kamu mulai membosankan."


Tiara menatap suaminya tajam ketika kata 'membosankan' itu keluar.


"Maafin aku yang ngerasa begitu yank. Abis kamu sibuk kuliah sampai aku di cuekin. Kita jadi jarang ngobrol. Jarang punya quality time kecuali di atas ranjang. Itu pun kamu biasanya langsung tidur."


Mulut Tiara semakin ternganga. Merasa kesal dengan sang suami. "Alvarooo!" serunya dengan tangan yang langsung memukul lengan atas suaminya.


"Iya maaf yank. Makanya dengerin dulu." Alvaro mencoba menangkap dan kembali menggenggam kedua tangan istrinya.


"Jujur aja. Aku emang sempet bosen sama hubungan kita. Hubungan yang semakin hari semakin terasa hambar buat aku. Komunikasi kita bahkan hampir bisa di bilang gak pernah ada, kan?"


Tiara menggigit bibir bawahnya. Ia mengakui jika komunikasi di antara mereka memang jadi sangat kurang akhir-akhir ini. Mereka sama-sama sibuk.


Tapi Tiara kira Alvaro tidak merasa keberatan dengan semua itu. Karena toh bukan hanya dirinya saja yang sibuk. Alvaro juga sibuk dengan kerjaan dan Skripsi.


"Tapi kan bukan cuma aku yang sibuk! kamu juga sibuk! aku kira kamu ngerti!" ucap Tiara tidak tahan untuk mengeluarkan isi hatinya.


"Iya aku tau. Makanya aku minta maaf. Dan aku mau kita memperbaiki semua itu. Selagi masalahnya belum menjalar kemana-mana dan tidak terlalu serius. Selagi kita masih mampu memperbaiki."


Tiara menghela napas dan menyandarkan duduknya.


"Kamu ngelakuin ini semua bukan karena kamu lagi selingkuh terus baik-baikin aku kan?!"


"Bu-bukan lah!" Alvaro merasa tertohok. Dia memang tidak selingkuh kan? dia hanya hampir tergoda saja.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2