
"Maaf bu.. Maafkan Tiara.. Saya akan lebih mendidiknya lagi." Shevi menunduk beberapa kali untuk meminta maaf atas kenakalan yang dibuat anak gadisnya.
Ini bukan kali pertamanya ia di panggil ke sekolah gara-gara anak itu berkelahi.
"Jangan terlalu keras kepada Tiara bu. Saya paham posisi dia yang membela harga dirinya untuk tidak dihina. Tapi saya juga meyayangkan emosinya yang langsung terpancing dan main fisik. Itu alasan kenapa Tiara di skors untuk merenungkan kesalahannya, dan juga agar yang lain tidak mencontoh perilaku Tiara terutama adik kelasnya." ujar Ibu kepala sekolah dengan lembut tapi tetap tegas. Bukan hanya Tiara, tapi Sheril juga diskorsing dan orang tuanya langsung membawa gadis itu pulang sebelum orang tua Tiara datang.
Shevi sudah pasrah anaknya dikenai hukuman skorsing lagi. Dalam waktu hampir satu setengah tahun anak itu sekolah di SMA Putra Bangsa (tempat kedua orang tuanya juga menempuh pendidikan) ini sudah kali ke delapan anak itu di skorsing dengan masalah yang sama.
Shevi sampai hafal betul anak yang berkelahi dengan putrinya. Jika tidak dengan geng perempuan yang kata Tiara di ketua oleh Sheril, pasti dengan anak lelaki yang menurut Tiara sudah sering mengatainya semenjak sekolah menengah pertama. Walaupun Shevi tidak pernah melihat tatapan benci dari pemuda itu untu Tiara. Tapi tatapannya tidak juga hangat. Entah lah pemuda jaman sekarang selalu susah di tebak. Atau dia yang tidak peka.
Putrinya yang dulu sangat manis, sekarang berubah menjadi urakan semenjak sekolah menengah atas. Hal yang diajarkan oleh adik bungsunya Rasya agar jangan mau untuk di injak-injak harga diri kita oleh orang lain. Mengajari Tiara bela diri sampai adu mulut.
Sebenarnya Tiara tidak akan berkelahi dengan orang yang tidak mengusiknya melewati batas. Tapi dia akan dengan sangat brutal jika ada yang merendahkan orang yang dia sayang, terutama orang tuanya.
Prestasi Tiara cukup bagus di sekolah. Dia tidak pernah keluar lima besar juara kelas. Dia juga mengikuti seni musik seperti jejak ibunya dulu.
Terkenal karena kecantikan dan keramahannya. Tapi lebih terkenal lagi dengan hobi berkelahinya. Shevi hanya bisa mengelus dada melihat tingkah putrinya. Sudah berbagai cara dia lakukan, tapi jika akar permasalahannya ada pada masa lalunya, Shevi bisa apa? Tidak ada orang yang bisa merubah masa lalu. Kesalahan Shevi dan Alvin dimasa lalu ternyata membuat anak sulungnya sering dirundung.
"Baik bu, kalau begitu kami permisi." Shevi pamit dan menjabat tangan kepala sekolah. Begitu juga Tiara yang mencium tangan kepala sekolah dan berlalu mengikuti ibunya yang sudah berjalan keluar.
***
Sesampainya di rumah Shevi langsung turun dari mobil setelah mengatakan menunggu Tiara di dalam kamarnya.
Berjalan dengan kepala menunduk menuju kamar orang tuanya yang ada di lantai bawah. Tiara membuka perlahan daun pintu kamar dimana ibunya menunggu.
__ADS_1
"Mommy harus bagaimana sih Tiara? ini sudah delapan kalinya kamu kena skors. Mommy harus bilang apa pada daddy-mu nanti?"
Tiara hanya menunduk dengan menautkan jari-jarinya.
"Mommy tau itu gak sepenuhnya kesalahan kamu. Mommy tau akar permasalahannya adalah kesalahan mommy dan daddy di masa lalu. Kita gak bisa merubah masa lalu, jadi kita harus bisa memperbaiki masa depan kan?" Shevi yang duduk ditepi tempat tidur menarik pelan putri sulungnya untuk duduk disebelahnya.
"Jangan memberi contoh yang tidak baik untuk adik-adikmu." Mereka gak akan nyontoh Ara mom. Karena mereka tidak lahir dari hubungan tanpa pernikahan. batin Tiara.
Tiara tidak pernah menyalahkan orang tuanya. Karena berkat kesalahan orang tuanyalah dia ada di dunia ini sekarang.
"Apa perlu kamu pindah sekolah biar tidak bertemu lagi sama anak-anak yang sering gangguin kamu??" tanya Shevi lembut.
Tiara langsung mendongakkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia selalu merasa bersalah jika mommy-nya sudah sampai marah seperti ini.
"Kalau begitu janji sama mommy kalau kamu tidak akan kasar lagi!!" Tiara langsung menunduk. Karena dia tahu itu hal yang tidak bisa ia janjikan.
"Kalau itu terlalu sulit untuk kamu. Sebagai gantinya selama kamu di skorsing, kamu gak boleh kemana-mana. Mana Hp? Mommy sita sampai kamu masuk sekolah lagi!" Tiara menatap ibunya dengan wajah memelas, saat wanita yang telah melahirkannya menggeleng, dengan pasrah Tiara mengambil ponsel yang berada dalam tasnya dan memberikannya kepada sang ibu.
"Sekarang kamu boleh keluar. Mommy mau istirahat."
"Mommy capek? Ara pijitin ya??" anak itu beringsut memosisikan dirinya memijat pundak ibunya.
"Iya capek. Pusing mikirin kamu!!"
"Pusing mikirin Ara atau pusing mau punya adek lagiii..??" goda Tiara. Shevi yang memang tidak pernah bisa marah lama - lama dengan anak - anaknya tersenyum di goda seperti itu.
__ADS_1
"Iya Mommy pusing, mau punya adek lagi aja. Biar mommy gak ngurusin kamu lagi. Mommy ngurusin adik-adik aja!! " godaan dari Tiara, Shevi balas dengan godaan juga.
"Aaaahhhh gak mau kalo gitu mah. Udah, cukup Raka sama Reina aja. Jangan ada adik lagiiii!!!" dua adik saja dia sempat terabaikan karena ayah dan ibunya kualahan mengurus dua bayi kembarnya dulu. Apa lagi nambah adik? Tidaaakkk... Tiara menjerit dalam hati.
Shevi tertawa melihat anaknya histeris. "Mommy tuh sayang banget sama kamu Ra.. Kamu itu permata hati mommy untuk pertama kalinya. Mommy gak pernah menyesal melahirkan kamu, meskipun dulu daddy gak tau mommy hamil. Meskipun dulu mommy takut banget pas tau hamil di usia yang mommy baru lulus SMA. Bayangan mimpi mommy yang akan hancur berantakan, bayangan bagaimana kalau badan mommy yang masih gadis bahkan pacaran saja belum pernah akan menjadi melar, bayangan bagaimana mommy bisa menanggung rasa sakitnya melahirkan di usia mommy yang masih sangat belia." Memeluk putri sulung yang pernah ia dekap seorang diri tanpa Alvin sampai usia lebih dari empat tahun.
"Tapi saat pertama mendengar tangisan kamu, saat pertama melihat wajah cantik kamu, pertama memegang tangan mungil kamu, dan pertama mendekap dan menyusui kamu, mommy merasa kamu lah dunia mommy. Mommy tidak takut lagi menghadapi dunia saat melihat kamu." mata Tiara berkaca-kaca mendengar ungkapan ibunya untuk pertama kalinya.
"Mommy tata lagi mimpi dan masa depan mommy, yang akan menentukan masa depan kamu nantinya. Karna dulu mommy gak berfikir untuk menikah dengan daddy-mu. Mommy hanya berusaha untuk lulus dengan nilai tinggi, mengejar karir di negeri orang untuk bisa menghidupi dan membiayai sekolah kamu, untuk mewujudkan masa depan yang cerah untuk kamu." Shevi menangkup dan mengecup dahi putrinya yang sudah melalui banyak hal dalam hidupnya.
"Jadi mommy harap kamu bisa belajar dengan sungguh - sungguh. Jangan terlalu sering membuat masalah! Konsen saja dengan pelajaran kamu di sekolah."
Tiara mengangguk. "Ara gak bisa janji mom. Tapi Ara akan berusaha."
Shevi tersenyum dan kembali memeluk tubuh anak remajanya.
*
*
*
Aku penuhin janji aku buat bikin story secepatnya. Jadi ayo dong ramaikan dengan Like, komen dan vote 🤗
Jangan lupa juga mampir di karya aku yang lain. My Annoying Soulmate
__ADS_1