DEMI DIA

DEMI DIA
Prospek Kedepan


__ADS_3

Akhir pekan ini Alvin mengajak Shevi jalan - jalan ke pantai. Tempat yang mereka sering kunjungi dulu sewaktu kecil bersama keluarga mereka. Dimana mereka banyak menghabiskan tawa kebahagiaan.


" Kenapa Tiara gak diajak juga si mas ?? Dia pasti seneng kita ajakin main kepantai.. Dia paling suka main pasir. Di New York hampir setiap weekend aku ajakin ke pantai, kecuali musim dingin tentunya" Mereka sedang menyusuri bibir pantai sambil berpegangan tangan.


" Aku kan pengen ngajakin kamu kencan. Masa ngajakin Tiara " Alvin mencebik kesal dengan ketidak pekaan wanita yang tangannya dia genggam sebelum melanjutkan lagi kata - katanya.


" Aku kan juga pengen ngerasain namanya pacaran. Secara seumur hidup aku belum pernah pacaran.. Kamu juga kaaann " Goda Alvin yang langsung mendapat hadiah tabokan dilengan Alvin.


" Kita nikmati lah waktu kurang dari satu bulan yang kita miliki buat pacaran. Masa belum pernah pacaran tiba - tiba nikah.. Nikah punya anak lagi !! " Sungguh takdir mengajaknya bercanda. Malangnya nasibnya yang tidak sempat menikmati masa muda dengan pacaran seperti teman - temannya. Tapi dia bersukur juga si bisa langsung nikah apa lagi dapet bonus bidadari kecilnya yang cantik.


" Itu salah siapa ??!! " Alvin terkekeh saat Shevi kesal dan memanyunkan bibirnya.


" Iya sayang.. Salah aku.. maaf ya ?? " Alvin menarik Shevi menghadapnya dan memeluk pinggang Shevi.


" Tapi mungkin kalo aku gak bikin salah kaya gitu kita pada akhirnya gak akan nikah. Mungkin aku akan tetep nikah sama Shera " Alvin menyelipkan rambut Shevi yang tertiup angin kebelakang telinganya.


" Maaf ya mas, Kamu harus ngorbanin perasaan kamu demi nurutin permintaan aku " Tatapan mata Shevi mulai sendu.


" Gak papa.. itu bukti cinta aku ke kamu sangat besar " Alvin mengecup bibir Shevi sekilas.


" Tapi kamu perlakuin Shera dengan baik kan mas ?? "


" Tentu dong.. Tiap hari aku videocall sama dia. Ya walaupun lebih banyak dengerin dia cerita dan paling aku jawab yang dia tanya."

__ADS_1


" Walau bagaimana juga aku sayang sama Shera sayang.. Aku memeperlakukan dia dengan baik karena aku menganggapnya adik. Aku gak akan mungkin kan ngacuhin adik aku sendiri ?? " Alvin menaikan kedua alisnya dengan bibir tertarik membentuk senyum tipis.


" Makasih ya mas.. Makasih.. " Shevi memeluk Alvin dan air matanya tak dapat lagi dia bendung. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alvin yang dipaksa mencintai wanita lain sedangkan hatinya mencintai dirinya.


" Heii kenapa harus nangis.. " Alvin menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat wajah wanita dalam pelukannya ini.


" Aku udah bahagia sekarang sama kamu. Dan aku juga bahagia akhirnya Shera nemuin orang yang bisa mencintai dan menyayanginya dengan tulus " Diusapnya air mata Shevi dengan kedua ibu jarinya.


" I Love You mas " Alvin terpaku, untuk pertama kalinya Shevi menyatakan perasaannya tanpa dia tanya. Setelah beberapa saat hanya terdiam, Alvin tersenyum dan mendekatkan bibirnya dengan bibir ranum milik Shevi. Mereka menikmati ciuman mereka dengan perasaan penuh cinta. Bukan ciuman penuh nafsu, tapi ciuman yang mengalirkan segala perasaan yang mereka punya untuk pasangan mereka. Tak peduli jika sekarang mereka sedang berada ditempat umum dan pantai juga dalam keadaan yang cukup ramai karena akhir pekan.


***


Setelah puas berjalan dipantai mereka memutuskan untuk berteduh dari teriknya matahari dan mencari restoran yang berada dipinggir pantai. Agar mereka bisa mengisi perut sekaligus mata mereka dengan melihat indahnya hamparan laut dihadapan mereka.


" Apa aja.. Mas kan tau aku bukan pemilih " Alvin manggut - manggut dan memilih menu untuknya dan Shevi.


Mereka banyak mengobrol dari hal - hal ringan sampai rencana mereka kedepannya. Melihat Shevi tertawa lepas rasanya melegakan untuk Alvin. Sudah lama Shevi tidak tertawa selepas itu untuknya.


" Terimakasih Tuhan.. kau persatukan aku dengannya. Gadis cantik yang selalu membuatku terpesona. Wanita tegar dan ibu yang hebat untuk anakku.. Aku janji tidak akan menyakitinya.. Aku janji akan selalu menyayanginya apapun yang terjadi nantinya. Setelah sekian lama memendam rasa ini, setelah rasa sakit yang begitu menikam. Kau hadirkan keindahan dan kebahagiaan untukku Tuhan. Kau kembalikan dia kembali kesisiku. Kau juga hadiahkan bidadari kecil untukku. Terimakasih tidak akan cukup untuk semua kebahagiaan yang kau beri Tuhan " Alvin tersadar dari lamunannya setelah beberapa kali Shevi memanggil namanya.


" Kenapa si mas senyum - senyum sendiri begitu ?? Kirain kesurupan senyum - senyum begitu " Shevi begidik ngeri.


" Pengen tau aja kamu " Alvin mencolek hidung Shevi dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Shevi hanya mencebik kesal lalu kembali memakan makanannya.


" Abis kita nikah kamu masih tetep mau kerja yank ?? " Alvin juga ikut memakan makanan miliknya.


" Ya aku kan mau nyelesein kerjaan di NY dulu.. Abis pulang lagi kesini si rencananya mau nyari gedung buat aku buka tempat les musik sekalian studio. Aku pengen punya grup orkestra sendiri. Yang kecil aja dulu tiga puluh atau empat puluh pemain. Kalau itu sukses baru dikembangin jadi orkes simfoni / Filharmoni" Shevi menopang dagunya dengan kedua tangan. Dia paling semangat jika membahas rencananya untuk memiliki grup orkes sendiri.


" Emang kamu udah nemu orang - orangnya ?? " Alvin akan selalu mendukung cita - cita Shevi. Dia tidak akan membatasi ruang gerak Shevi nantinya. Asalkan masih hal yang wajar dan tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu dia tidak akan melarangnya.


" Belum si mas. Rencananya nanti setelah pulang aku mau ngadain audisi atau mencari dari lulusan beberapa universitas aku pilih yang bagus buat jadi guru lesnya dan juga grup orkestranya. " Shevi sudah punya rencana yang matang untuk itu semua. Dia juga dibantu teman SMA'nya yang juga lulusan musik di Jakarta.


" Terus masalah biaya untuk beli gedung dan lain - lain gimana ?? Kamu minta Bunda ?? " Jika ada kendala untuk biaya Alvin akan dengan senang hati membantunya. Tapi Alvin tidak mau meremehkan Shevi, Karena pasti wanitanya itu sudah punya segala sesuatu yang dia butuhkan makanya dia sudah semantap itu bercerita.


" Gak lah mas.. Uang aku banyak lagi hehe " Shevi tertawa karena sedikit menyombong.


" Aku jadi pianis di NY bukan baru - baru ini. Tapi semenjak kuliah aku udah banyak manggung. Cuma belum terkenal ke Internasional seperti sekarang aja. Tapi bayaran aku disana cukup tinggi. Makanya aku bisa hidupin Tiara pake uang aku sendiri dan aku punya cukup tabungan buat usaha aku disini." Shevi tersenyum mengingat pencapaian dimasa mudanya yang bisa menghidupi dirinya serta anaknya selama kuliah dulu.


" Saham ayah yang 40% diperusahaan yang diikelola Om Julian juga kan udah buat aku sama Shera semenjak kita umur dua puluh satu tahun karena Rasya yang akan nerusin usaha milik ayah sendiri. Jadi tabungan aku cukup untuk memulai usahaku sendiri " Alvin bangga dengan calon istrinya ini. Dia tidak menyangka jika Shevi yang dulu manja sekarang menjadi wanita yang dewasa dengan segala pemikirannya untuk masa depan. Walau sifat manja dan menyebalkannya belum sepenuhnya hilang.


*


*


*

__ADS_1


Happy Reading 💕


__ADS_2