
Shevi berlari keluar dari gedung kantor milik papi mertuanya dengan berurai air mata. Saat di lobi dia bertemu dengan papi Dion.
" Lho Shevi.. Kenpa nangis ?? udah ketemu sama Alvin ?? " Papi Dion memegang kedua bahu menantunya yang langsung mendapatkan pelukan dari Shevi.
" Papiiiii... " Mungkin karena dirinya tidak mempunyai sosok seorang ayah makanya dia mudah untuk mengeluarkan keluh kesahnya kepada papi mertuanya dan juga Om Julian. Tapi untuk kali ini dia belum sanggup menceritakan apa yang terjadi.
" Kamu kenapa ?? kenapa menangis ?? " Papi Dion mengusap lembut punggung Shevi dengan bingung karena tangisannya semakin keras saja. Untung masih pagi dan belum banyak karyawan yang ada disana.
" Ayo keruangan papi.. Kamu bisa ceritain semuanya ke papi " Shevi menggeleng serta melepaskan pelukannya kepada papi Dion.
" Aku gak mau disini.. Aku mau pergi dulu pi.. Papi tanya aja sama anak papi yang sialan itu " Shevi tidak bisa menahan emosinya lagi. Di ambilnya tangan kanan mertuanya kemudian dicium sebelum dia melangkah keluar dan menaiki mobil meninggalkan tempat terkutuk itu.
Saat ini pikiran Shevi kacau. Dia sangat kecewa dengan Alvin yang telah menghianatinya. Bahkan mereka baru beberapa bulan menikah dan sekarang dirinya sudah dihianati. Sungguh takdir terlalu tega padanya. Perasaan yang kacau bercampur antara sakit hati, sedih, kecewa, marah, dan bingung apa salahnya. Rasa itu membawanya menuju apartemen Nurin. Hanya tempat itu yang terlintas dalam pikirannya kali ini.
***
Shevi langsung membuka apartemen yang dia tau password nya. Ternyata masih sepi, mungkin Nurin masih tidur. Dan benar saat Shevi masuk ke kamar, Nurin masih terlelap di bawah selimutnya.
Shevi langsung menghambur menelungkupkan badannya di sebelah Nurin. Guncangan keras dari tubuh Shevi membuat Nurin terlonjak kaget dan langsung membuka matanya.
Nurin kaget saat melihat Shevi ada disebelahnya tengah menangis terisak. Ada apa sampai sahabatnya ini bisa menangis seperti ini. Nurin duduk dan membelai rambut Shevi.
" Lo kenapa vii.. Terakhir kali lo nangis begini saat dulu Alvin nidurin lo.. Sekarang gak mungkin kan lo nangis gara - gara dia nidurin lo " Nurin terkekeh mencoba menghibur dengan mencoba bercanda.
Shevi langsung bangkit duduk bersila dihadapan Nurin.
" Tapi dia nidurin sekretarisnya Rinnn " Tangisan Shevi semakin mengeras.
" Aa-apa ?? Maksudnya gimana gimna.. ?? Kok gue rada lemot ya ?? Alvin nidurin sekretarisnya ? maksudnya ?? " Nurin mengedipkan matanya berkali - kali tidak mengerti, atau mencoba menyangkal apa yang dikatakan Shevi. Dia tak ingin sahabatnya ini terluka lagi. Dan setahunya Alvin sangat mencintai sahabatnya ini. Masa sih Alvin setega itu ??
Shevi menceritakan semuanya dari Alvin yang sering pulang telat sampai semalam yang Alvin tidak pulang, dan saat dirinya mencari kekantor dirinya menemukan Alvin sedang tidur mendekap sekretarisnya tanpa busana. Hatinya hancur lebur melihat kenyataan ini. Melihat suami yang dia cintai dan dia percaya berkhianat dibelakangnya.
__ADS_1
" Brengsekkk.. Lagi - lagi dia nyakitin lo.. !! Maunya tuh orang apaan si ??!! " Nurin benar - benar tak terima sahabatnya selalu disakiti oleh Alvin seperti ini.
" sayang jangan sedih ya.. masih ada kita " Nurin memeluk Shevi mencoba memberikan ketenangan.
" Gimana gue gak sedih Riinn.. Coba aja Leon yang begitu.. gimana sakitnya.. hiks.. hiks.. "
" Iya sayang.. Maaf... " Nurin bingung harus bagaimna. Yang saat ini dia inginkan hanya memukul Alvin dan selingkuhannya itu sampai menjadi bubur. Apa salah Shevi sama mereka menyakitinya begini.
***
Seperti biasa setelah Shevi lelah menangis dirinya akan langsung tertidur. Nurin menghela nafas merasa prihatin pada sahabatnya itu. Sejurus kemudian terdengan panggilan masuk pada ponsel Shevi yang tergeletak di atas tempat tidur setelah puluhan kali Shevi meriject panggilan Alvin. Tapi kali ini yang menghubungi Shevi adalah Ray.
Nurin keluar dari kamar dan menutup pintunya secara perlahan agar tidak mengganggu tidur sahabatnya. Nurin duduk di ruang depan TV dan mengangkat panggilan dari Ray.
" Hallo Ray.. " Sapa Nurin lebih dulu.
" Lho ini bukan suara Shevi ?? Shevi nya kemana ?? " Tanya Ray setelah melihat ulang nomor yang dihubunginya takut salah nomor.
" Aku Nurin sahabatnya Shevi.. Dan maaf Shevi sedang istirahat jadi tidak bisa mengangkat panggilan darimu "
" Ooh tidak.. tidak.. Shevi tidak sakit secara fisik.. Tapi hatinya yang sedang terluka "
" Terluka bagaimana maksudmu ?? " Tanya Ray langsung. Kemudian Nurin menceritakan semua yang Shevi ceritakan tadi.
" Tolong jaga Shevi.. saya akan segera kesana " Ray langsung menutup panggilannya sebelum Nurin sempat menjawab.
" Waahhh kayaknya bakalan ada perang Baratayuda nih" Gumam Nurin memandang ponsel yang panggilannya dimatikan sepihak oleh Ray.
***
Setelah Alvin menyelesaikan laporannya dan memberikan kepada Jodi untuk menyerahkannya kepada klien, Alvin bergegas pulang untuk memberikan penjelasan kepada istrinya.
__ADS_1
Alvin akan menaiki lift saat sekretaris papinya memanggil dirinya kalau Papi Dion ingin bertemu.
" Kenapa pi.. " Alvin langsung ke intinya saat sudah berada diruangan CEO tempat papinya menjabat. Dirinya ingin segera bertemu Shevi.
" Kamu apain menantu papi ?? " Papi Dion bertanya dengan pelan namun nada dan tatapannya tajam menghunus ke Alvin.
" Papi ketemu sama Shevi?? Apa dia sudah dirumah pi ?? "
" Papi tanya kamu apakan menantu papi sampai menangis seperti itu ??!! " Kali ini suara Papi Dion naik satu oktaf.
" A-aku... Shevi liat... Liat aku tidur sama Tania tanpa baju pi " Pandangan Alvin menunduk takut kepada papinya.
Papi Dion yang geram saat mendengar jawaban Alvin langsung berdiri danendekati Alvin. Sedetik kemudian tamparan keras melayang ke wajah putra semata wayangnya. Membuat darah mengalir dari sudut bibir Alvin karena robek.
" PAPI TIDAK MEMBESARKAN KAMU MENJADI LAKI - LAKI BRENGSEKK ALVIN !!... CUKUP TIARA YANG MENJADI KESALAHAN KAMU !!... JANGAN ADA TIARA YANG LAIN !!.. DAN JANGAN LAGI KAMU MENYAKITI SHEVI, ALVIN !! " Papi Dion sangat murka mendengar kelakuan anaknya itu. Teriakannya sampai terdengar keluar ruangan. Untung lantai itu hanya ada dua ruangan yaitu CEO dan Direktur.
" Papi malu sama ayahnya Shevi viin.. Dia pasti tidak akan terima putrinya disakiti seperti ini.. Bagaimana papi harus mempertanggung jawabkannya jika papi bertemu dengan Jovan nanti setelah papi meninggal.. Papi malu Alvin... Papi malu... " Papi Dion duduk kembali dengan lemas menundukan pandangannya.
" Maaf pih... " Ujar Alvin lirih.
" Tapi sungguh Alvin gak ngapa - ngapain.. Aku gak tau apa yang terjadi " Kemudian Alvin menceritakan semua yang dirinya ingat kepada papinya.
" Sudah lah.. Lebih baik kamu pulang.. kejar istrimu sebelum dia tidak akan pernah memaafkanmu " Papi Dion masih tak mau menatap Alvin.
Alvin berdiri dan melangkah untuk keluar dari ruangan papinya. Baru dia memegang handel suara papinya membuatnya mematung ditempat.
" Kalau sampai Shevi tidak mau memaafkanmu dan memilih bercerai darimu.. Kamu bukam lagi anak papi vinn.. Papi lebih baik tidak punya anak dari pada harus menanggung malu dihadapan Jovan kelak "
*
*
__ADS_1
*
Kalian Tim Daddy Al atau Uncle Ray gaes.. Happy Reading 💕