
Malam ini Tiara dan Alvaro menginap di rumah orang tua Tiara. Baru besok siang mereka akan pindah ke apartemen milik Alvaro setelah pulang sekolah.
"Emang lo punya apartemen Al?" tanya Tiara yang duduk di samping Alvaro di sofa dalam kamarnya.
"Hmm." jawab Alavro yang masih sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Lo beli sendiri?" tanya Tiara yang masih penasaran dengan suaminya.
"Hmm."
"Lo gak dapet uang dari nyuri kan Al?"
"Ck lo tuh cerewet banget sih Ra? tenang aja! gue gak bakalan nafkahin lo pake uang haram." seru Alvaro yang terganggung dengan pertanyaan istrinya.
"Ya gue kan cuma penasaran. Masa sih anak semuda lo udah bisa beli hunian sendiri." Tiara cemberut saat suaminya kembali menyebalkan.
"Lo gak perlu pusing mikirin itu. Yang jelas gue gak bakal bawa lo hidup susah." jawab Alvaro yang kembali menekuni laptopnya.
Bagi Alvaro, tidak perlu istrinya itu tahu apa pekerjaannya. Biar dia yang usaha mencari uang untuk kehidupan mereka kedepannya.
Alvaro bersyukur menekuni dunia yang dia geluti sekarang. Siapa yang menyangka jika mereka akan menikah semuda itu. Dan sekarang Alvaro tetap bisa mengangkat tegak kepalanya, karena dia punya penghasilan untuk menafkahi istrinya. Jika dirinya belum ada pekerjaan, pasti Alvaro akan malu sekali sekarang. Tidak mendapat uang bulanan dari ayahnya lagi dan harus menumpang hidup kepada mertua.
"Lo mau tidur dimana Al?" tanya Tiara yang sudah memeluk bantalnya di atas tempat tidur.
"Menurut lo, orang tidur itu dimana?" menutup laptopnya dan berjalan mendekati istrinya.
Tiara mulai waspada saat Alvaro berdiri di sisi tempat tidur.
"Tempat tidur." jawab Tiara gugup.
"Terus kenapa lo tanya gue mau tidur dimana?"
"Kita gak mungkin tidur satu ranjang kan Al?" tanya Tiara dengan rengekan.
"Kenapa gak mungkin? kita kan udah nikah!"
"Tapi aku belum siap, Al jadi istri kamu." ucap Tiara dengan mendudukkan tubuhnya "Paling gak, karena awalnya kita musuhan, kita kembangin aja dulu jadi temenan, terus sahabatan, terus tar kalo kita udah sama-sama ada rasa baru kita pacaran. Nanti kalau kita udah lulus kuliah, baru deh kita jalanin rumah tangga yang sesungguhnya."
__ADS_1
Alvaro terkekeh dalam hati mendengar serentetan kalimat Tiara, lucu sekali istrinya ini. Jika bukan karena gengsi, ingin sekali Alvaro mencubit gemas pipi istrinya dan ia peluk.
Alih-alih menuruti kata hatinya untuk memeluk, Alvaro malah menyentil dahi istrinya. "Lo tuh mikir apa sih? gue juga gak bakal minta hak gue sebagai suami kali! gue sadar kita masih sekolah kok. Gue juga masih punya banyak mimpi, gak pengen ribet ngurusin anak dulu!"
Tiara cemberut. Walau pun dia juga belum ingin punya anak, tapi rasanya menyebalkan saat suaminya bilang tidak ingin ribet mengurus anak.
Lagi pula, di mana-mana yang mengurus anak itu kan istri bukan suami.
"Kalo gitu kenapa kita tidur satu ranjang?"
"Tiara Ashana Mahesa. Gue gak mau lo suruh tidur di sofa. Kita menikah bukan untuk satu dua hari, tapi untuk selamanya! Lo tega gue sakit pinggang tidur di sofa tiap hari!" seru Alvaro yang kini ikut mendudukan tubuhnya di samping Tiara.
"Kan ada kamar tamu di bawah Al!" ucap Tiara masih tidak mau berbagi tempat tidur.
"Lo mau di marahin daddy sama mommy gara-gara lo ngusir gue dari kamar? lagi pula lo udah harus biasain kita tidur satu ranjang. Karena apartemen gue cuma ada dua kamar, tapi satunya udah gue bikin ruang kerja!"
Bahu Tiara melorot seketika. "Tunggu sampai kita ke tahap pacaran deh Al, baru kita tidur bareng." masih berusaha menawar.
"Gue terima tawaran lo kalau kita mulai semua dari awal, dari tahap pertemanan."
senyum Tiara mengembang. Tapi seketika surut kembali.
Tiara menghela napasnya, jika sudah bawa-bawa dosa, Tiara bisa apa?
Mereka akhirnya tidur satu ranjang. Dengan bantal guling sebagai pembatas.
***
Tiara dan Alvaro sudah siap dengan seragam sekolah mereka. Hari pertama sekolah dengan status baru sebagai suami istri.
Mereka sudah meminta Pricilla dan dewan guru untuk tidak menyebarkan berita tentang pernikahan mereka di sekolah. Mereka akan merahasiakan pernikahan mereka sampai mereka lulus nanti.
Karena pasti banyak pertanyaan yang akan muncul, terutama alasan mereka menikah. Mana mungkim mereka akan memberitahu alasan mereka kepada seluruh sekolah. Yang ada nama baik keluarga mereka akan tercemar dan mereka akan malu untuk menjalani keseharian mereka di sekolah.
"Ini bekal untuk kalian berdua. Kata kakak, abang Al suka bawa bekel bikinan ibu." mommy Shevi menyerahkan paperbag berisi dua kotak bekal dan tumbler untuk anak dan menantunya.
"Iya mom, dan terimakasih untuk bekalnya." jawab Alvaro tersenyum, beruntung dia mendapatkan mertua yang sama baiknya dengan sang ibu.
__ADS_1
"Abang mau belajar di perusahaan daddy? kalau mau datang saja ke kantor setelah pulang sekolah." ucap ayah mertuanya.
Tiara hanya melihat antara orang tua dan suaminya secara bergantian.
"Iya dad. Nanti kalau Al bisa, Al ke kantor." jawab Alvaro tidak enak menolak tawaran mertuanya. "Masih ada kerjaan yang belum selesai soalnya dad." imbuhnya lagi.
"Ooh ya sudah kalau begitu. Sebisa kamu saja nanti. Lagi pula masih muda, masih banyak waktu buat belajar." jawab daddy Alvin yang tahu pekerjaan menantunya. "Yang penting didik putri daddy aja biar bisa jadi istri yang baik. Kalau masalah itu biar masih muda tetap harus belajar, apa lagi sekarang sudah menikah."
"Kalau masalah itu, daddy tidak perlu khawatir."
Percakapan mereka terinterupsi dengan decakan yang keluar dari mulut Tiara.
"Kenapa Al mulu sih yang di ajak ngobrol? bahkan daddy sekarang lupain aku! gak ada yang nanya sama aku!" protes Tiara dengan melipat kedua tangannya dan wajah yang cemberut.
Membuat kedua orang tuanya tertawa dan adik-adiknya serta Alvaro terkekeh.
"Kamu tuh apa sih kak, cemburu sama suami sendiri." ucap sang mommy.
"Ya abisan aku gak di ajakin ngobrol, Alvaro mulu yang di ajak ngobrol."
"Ya udah, ya udah. Gimana semalam tidurnya tuan putri, nyenyak? sudah ada yang menemani tidur seharusnya lebih nyenyak dong?" goda daddy Alvin.
"Iiihh daddy mah nanya begitu! gak bisa tidur, Al tidurnya rese gak mau diem."
"Dih. Lo tuh yang tidurnya geser-geser mulu sampe gue jatoh!" seru Alvaro tidak terima dengan pengaduan Tiara kepada mertuanya.
"Enak aja! lo tuh!"
"Dek, lo percaya kakak apa abang?" tanya Raka pada saudara kembarnya.
"Percaya sama bang Al. Kan kakak tidurnya emang gak bisa diem." jawab Reina dengan polos, dan mendapat tatapan tajam dari Tiara. Membuat semua yang ada di meja makan tertawa.
*
*
__ADS_1
*