
Setelah kedua jagoan kecilnya mandi dan wangi, Tiara kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kuliah.
Wanita itu menghela napasnya ketika mendapati Alvaro sudah berada dalam kamar mereka.
"Yank?" Alvaro tersenyum begitu istrinya masuk ke dalam kamar.
Tiara berusaha mengabaikan dan menganggap suaminya tidak ada di sana. Melenggang menuju kamar mandi dan menguncinya.
Mama muda itu perlu waktu untuk memaafkan suaminya. Rasanya masih teramat kecewa dengan apa yang Alvaro ucapkan semalam.
Disini bukan hanya Alvaro yang lelah dengan keseharian mereka. Dirinya juga lelah dengan kewajibannya sebagai istri dan ibu dua anak sekaligus. Belum lagi kewajibannya sebagai mahasiswa.
Tapi Tiara masih bisa membagi waktunya dengan baik. Dan yang paling penting gadis itu tidak pernah mengeluh atau menyesal dengan keadaan.
Karena saat dirinya memutuskan kembali untuk kuliah, Tiara sudah memikirkan matang-matang konsekuensi apa yang bakal ia hadapi ke depannya. Dan wanita itu menerima semua konsekuensi yang ia dapatkan saat ini.
"Aku ada kuliah pagi. Bajunya udah aku siapin di dalem." ucap Tiara begitu keluar dari ruang ganti.
"Maaf yank.. Jangan diemin aku begini." Alvaro dengan memelas mengekori Tiara yang menuju meja rias.
Saat pria itu akan merengkuh istrinya, Tiara mengangkat sebelah tangan.
"Kasih aku sedikit waktu. Dan aku mohon jangan bahas ini di depan anak-anak. Mereka masih takut dengan yang semalam mereka dengar. Tunjukan ke anak-anak kalau kita baik-baik aja." ucap Tiara tanpa menatap suaminya.
Bagaimana tidak takut. Bocah berusia dua tahun sudah harus mendengar teriakan penuh amarah dari kedua orang tuanya. Dari orang yang selama ini mereka lihat penuh kasih.
Pagi tadi ketika Tiara memasuki kamar anaknya, kedua jagoannya langsung berlari dan memeluk kakinya. Mengadu jika semalam mereka takut dan menangis. Meski gaya mengadu mereka sangat lucu bagi Tiara. Tidak ada rasa takut yang terlihat, hanya rasa antusias menceritakan apa yang mereka alami semalam. Sama halnya ketika kedua bocah itu begitu antusias menceritakan teman baru yang mereka temui.
Meski di akhir cerita, ada yang membuat Tiara terenyuh. "Mama dangan nangis agi ya.. Abang aaayang mama." ucap abang Fari dengan begitu manisnya seraya mengecup pipi kanannya, yang di ikuti juga ade Vindra yang mencium pipi kirinya.
"Ade juda tayaang mama. Mama dangan malah. Dangan angis uga. Ade atut.."
Memang masalahnya bukan masalah yang besar. Tapi karena dirinya dan Alvaro yang sama-sama lelah dan menghadapinya dengan kepala panas dan lepas kontrol membuat teriakan-teriakan itu terlontar.
Dan sekarang Tiara merasa bersalah karena telah menorehkan guncangan pada jiwa kecil kedua anaknya.
__ADS_1
Alvaro menjalani pagi seperti kata Tiara ketika di depan anak, mereka akan terlihat harmonis seperti biasa. Dan itu di manfaatkan Alvaro untuk bisa merengkuh dan mencium sang istri yang meski tersenyum dengan terpaksa tapi tidak bisa menolak.
Alvaro tersenyum penuh kemenangan dan memainkan kedua alisnya ketika Tiara menatapnya tajam dengan bibir yang masih setia melengkungkan senyuman.
Pagi itu keduanya jalani dengan aktifitas masing-masing.
Alvaro langsung meluncur ke kantor karena ada agenda meeting. Sedangkan Tiara menuju kampus untuk kuliah paginya.
***
Dengan langkah gontai Tiara kembali ke rumahnya. Masalah antara dirinya dan sang suami sangat berpengaruh pada konsentrasi belajarnya.
Sepanjang tiga mata kuliah yang ia ikuti hari ini tidak ada yang masuk pada otaknya sedikitpun. Bahkan beberapa kali dirinya mendapatkan teguran dari dosen akibat kedapatan melamun.
"Mama pulang.." serunya seperti biasa ketika memasuki rumah. Tapi sayangnya tidak ada sahutan dari kedua jagoan yang biasanya sedang menggelar semua mainannya di ruang tengah.
"Kok sepi bi, anak-anak kemana?" tanya Tiara ketika tidak mendengar tawa buah hatinya.
Padahal biasanya menjelang sore seperti iini bukan waktu anak-anak tidur. Dan mommy Shevi mau pun ibu mertuanya tidak ada yang menghubunginya untuk meminta ijin menjemput kedua buah hatinya.
"Dijemput papanya? kemana?" tanyanya bingung. Tidak biasanya sekali Alvaro pulang di jam makan siang hanya untuk menjemput kedua anak mereka. Dan kenapa pria itu tidak memberitahunya.
"Bibi kurang paham non."
"Tapi nanny-nya anak-anak ikut kan?" Tiara sama sekali tidak percaya Alvaro bisa menjaga kedua buah hati mereka seorang diri. Anaknya begitu aktif. Dan Alvaro belum begitu paham apa yang anaknya butuhkan. Terutama jam menyusu.
"Ikut non.."
Tiara mencari ponsel dalam tas dan menghubungi babysitter anaknya. "Dimana?" tanya Tiara tanpa basa-basi atau salam sapaan.
"Di mall, bu." jawaban dari seberang telephone yang memang terdengar bising.
"Kenapa gak ijin dulu sama saya?" rasanya Tiara yang masih di rundung rasa amarah semakin marah dengan suaminya yang bersikap seenaknya seperti ini.
"Ma-maaf bu.." terdengar babysitter yang usianya beda lima tahun dengan Tiara itu terdengar merasa bingung. Pasalnya mereka pergi dengan ayah anak-anak. Jadi dia merasa tidak perlu meminta ijin.
__ADS_1
Tiara yang mengetahui apa yang di pikirkan oleh babysitternya menghela napas dan memijit dahinya. "Ya sudah. Bilang sama tuan, sebelum malam sudah harus di rumah. Kasihan anak-anak lelah."
Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Tiara langsung mematikan panggilan. Wanita itu sedang malas berbasa-basi karena suasana harinya yang masih tidak bagus.
Ia melangkah menuju kamarnya berada. Melempar tas dan meletakan tas laptop di atas meja. Melepaskan pakaiannya dan melempar pada keranjang baju yang berada dalam kamar mandi dan berakhir dengan berendam. Melemaskan otot tegangnya, dan berusaha melepas sedikit rasa kesal di hati.
***
Alvaro sedang mengajak anak-anaknya bermain di Playground sebuah mall tak jauh dari rumah barunya.
Fari dan Vindra sendang tertawa-tawa berseluncur di atas prosotan yang dibawahnya ada ribuan bola warna-warni. Mandi bola selalu menjadi favorit keduanya.
"Maaf tuan, tadi ibu telefon dan titip pesan untuk tuan." ucap babysitter yang mendekat ke arah Alvaro setelah Tiara memutuskan panggilan.
"Titip pesan apa? kanapa tidak telefon ke saya langsung?" tanya Alvaro. Pertanyaan yang membuat wanita di depannya bingung harus menjawab apa.
"Kurang tahu tuan. Tadi ibu cuma pesan kalau sebelum malam anak-anak sudah harus berada di rumah."
Alvaro mendesah ketika melihat pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul empat sore. Pantas saja istrinya sudah pulang. Dan berarti dia sudah harus membawa kedua jagoannya pulang sebelum Tiara semakin marah dan mengunci pintu kamar tanpa mengijinkannya masuk seperti semalam.
Sampai di rumah, anak-anak sudah tertidur. Alvaro menggendong Faro dan Vindra dengan nanny-nya.
Begitu membuka pintu utama, telinga mereka disambut dengan suara dentingan piano dari ruang tengah. Dimana grand piano istrinya berada.
Salah satu kebiasaan Tiara ketika tengah banyak pikiran, sedang sedih, atau sedang ngambek. Pasti gadis itu akan menyibukan dirinya dengan permainan piano. Katanya bermain piano selalu bisa melarikan pikirannya.
Sebelum menuju sumber suara. Alvaro menuju kamar anak-anak untuk menidurkan buah hatinya.
*
*
*
Jangan lupa Like dan Komennya ya gaes 💕
__ADS_1