DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Dika


__ADS_3

"Kita ke dokter aja ya sayang. Ini gak akan sembuh sendiri kalau tidak di obati." dua hari Tiara hanya bisa terkapar di atas tempat tidur. Bahkan hanya untuk bangun makan saja tidak bisa. Tapi dengan keras kepalanya tidak mau di periksa. Membuat Shevi dan Alvin semakin khawatir.


"Bener apa kata mommy kak. Atau kalau kamu tidak bisa pergi, kita panggil Om Bayu aja."


Tiara hanya setengah mendengarkan ucapan kedua orang tuanya. Tubuhnya terlalu lemah dan pusing. Ia pikir, hanya dengan istirahat tubuhnya akan kembali sehat. Nyatanya sudah dua hari masih saja tidak ada perubahan. Rasa rindu dengan suaminya menambah sakit tidak hanya fisik namun hati.


"Ya udah. Tapi Ara mau aunty Nay aja yang periksa." ucap Tiara lemas. Matanya tetap terpejam. Tulang belulangnya seakan berubah menjadi jelly. Lemas tak sanggup untuk berdiri.


"Mommy telfon aunty kalau gitu." Shevi keluar kamar anaknya untuk menelpon sahabatnya. Untunglah anak itu mau di periksa.


Tiara termasuk anak yang jarang sekali sakit sedari dia bayi. Jadi kalau sakit seperti ini rasa khawatir Shevi dua kali lipat dari pada ketika kedua anak kembarnya yang sakit.


Tak lama Nay datang dengan baju santainya. Karena hari ini dia sedang cuti.


"Kenapa nih ponakan aunty? bisa juga kamu sakit." ledek Nay kepada Tiara sembari mengeluarkan peralatan yang akan di gunakan untuk memeriksa anak sahabatnya ini.


"Tau nih aunty. Rasanya kaya gak punya tulang. Pusing juga sih. Tapi gak pusing banget kok."


"Tekanan darah kamu rendah banget." ucap Nay yang kemudian memeriksa bagian perut dan dada Tiara.


Senyum mengembang di wajah Nay. Jika prediksinya benar, berarti...


"Masa gue udah mau jadi nenek Vi." ucap Nay menoleh ke arah sahabatnya.


Shevi mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Maksud lo? Rena kan baru 10 tahun. Yakali udah hamil."


"Sialan lo! dia mah menstruasi aja belum."


"Lha terus.."


"Kakak kapan terakhir menstruasi?" pertanyaan Nay beralih ke Tiara. Tidak mengindahkan raut bingung Sahabatnya.


Tiara yang juga bingung kemudian berpikir kapan terakhir dirinya menstruasi. Matanya membulat. Sepanjang hidupnya, tidak pernah menstruasinya telat meskipun hanya satu hari. Tapi sepertinya bulan kemarin dirinya tidak menstruasi. Terlebih sibuk dengan ujian dan Alvaro yang sakit, sehingga Tiara tidak memperhatikan detail satu itu.


"Kamu tuh kuliah kedokteran. Masa gak ngenalin tubuh kamu sendiri." ucap Nay tersenyum. Melihat dari ekspresi Tiara saja dia sudah yakin jika prediksinya benar.


"Aku mana ngerti. Ini kan yang pertama buat aku." ada nada bergetar dalam suara Tiara. Antara senang dan juga khawatir.

__ADS_1


Alvaro sedang sakit. Butuh suport dan perhatian lebih. Jika dirinya hamil, apa itu tidak menambah repot keadaan.


Tapi di lain sudut hatinya. Dia juga merasa bahagia. Siapa yang tidak bahagia jika akan menjadi seorang ibu. Lagi pula dia hamil dengan suaminya. Bukan dengan orang lain.


Ini adalah hadiah terindah dari Tuhan dalam hidupnya setelah Alvaro.


Tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Di dalam sana kini ada Alvaro junior. Anak yang akan lahir mirip dengan Alvaro atau dirinya. Ada perpaduan antara dirinya dan Alvaro di sana.


Saat pertama kali berhubungan, Tiara memang mewanti-wanti suaminya agar jangan sampai jadi anak. Dirinya masih ingin kuliah dan jadi dokter.


Tapi kini. Saat mengetahui ada anak dalam rahimnya. Tiara tidak lagi memikirkan pendidikannya. Dia bisa melanjutkan lagi nanti. Pendidikan tidak memandang usia asal ada kemauan.


Tidak menyangka, enam bulan mereka melakukan penyatuan. Ada yang lolos dan berkembang juga. Alvaro pasti senang. Suaminya yang beberapa kali membujuknya. Katanya ingin jadi ayah muda seperti daddy biar keren.


"Kalian tuh ngomongin apa sih?! bisa tolong jelaskan kenapa sebenarnya anak gue!" seru Shevi yang tidak mengerti anak dan sahabatnya ngomong apa dari tadi.


"Mommy akan jadi nenna." ucap Tiara dengan mata berkaca-kaca.


"Ma-maksud kamu..." Shevi menutup mulutnya tidak percaya.


Benarkah dirinya akan menjadi nenek semuda ini. Karmakah dulu ia membuat bunda menjadi nenek muda? tapi bahkan dulu bunda tidak semuda dirinya. Karena bunda menikah di usia yang sudah matang. Jadi saat jadi nenek usia bunda sudah 45 tahun. Sedangkan dirinya kini baru akan 37 tahun.


Shevi menghela napasnya. Mau bagaimana lagi, namanya sudah menikah pasti cepat atau lambat akan ada anak dalam pernikahan mereka juga. Ini saja sudah luar biasa mereka mampu menahan dan menunda untuk hamil hingga satu setengah tahun pernikahan.


"Kamu senang sayang?" tanya Shevi duduk di samping sang putri dan membelai rambutnya. Tiara mengangguk lagi dengan wajah yang sudah berurai air mata.


Tentu saja Tiara senang tanpa perlu ditanya pun Shevi sudah tahu. Dulu saja dirinya meski sempat frustasi saat tahu hamil Tiara. Tapi berjalannya waktu dirinya mulai merasakan ledakan bahagia dalam dirinya. Mengangumi setiap perkembangan anak dalam perutnya.


"Tapi karena kondisi Tiara yang lemah, kita perlu memeriksakannya ke rumah sakit. Ke dokter kandungan langsung. Sekaligus untuk memastikannya juga."


"Aku pengen punya anak kembar biar seru kaya ade." celetuk Tiara membuat Nay dan Shevi terkekeh.


Dikira hamil anak kembar tidak berat. Apa lagi saat mengasuhnya.


***


Tiara hanya di temani Shevi ke rumah sakit. Karena Alvin ada meeting pagi ini. Lelaki itu paling antusias dan bahagia saat mendengar anaknya hamil. Alvin sampai meneteskan air mata dan memeluk anaknya erat. Berbeda dengan Shevi yang belum begitu rela status ibu akan segera berganti dengan nenek. Alvin malah sangat senang akan menjadi kakek muda.

__ADS_1


Tiara sudah di daftarkan ke bagian dokter kandungan yang dulu juga menangani Shevi untuk melahirkan. Kabar kehamilan Tiara langsung tersebar dengan cepat ke keluarga besar Shandika dan Mahesa. Tapi Tiara minta kabar ini di rahasiakan dari keluarga suaminya. Biar nanti dirinya saja yang memberitahu.


Kini Tiara bisa berjalan. Kekuatannya seakan kembali saat tahu dirinya hamil. Setidaknya bersemangat untuk kerumah sakit.


Dikter mengucapkan selamat dan menunjukan hasil USG di layar di hadapan Tiara.


"Wahh.. Belum seberuntung mommy-nya yang punya anak kembar. Tapi tidak apa-apa, yang penting sehat kan?" ucap dokter perempuan itu ramah.


Tiara mengangguk. Tidak apa tidak kembar. Sebagai permulaan satu cukup. Begitu batin Tiara.


"Gak papa kakak. Lagian kamu sama Al masih muda. Masih kuliah pasti repot kalau anaknya kembar."


Tiara kembali mengangguk. Senyum tidak surut dari wajahnya. Foto hasil cetak USG anaknya kini di tangan. Meskipun masih sangat kecil hanya seukuran biji kacang. Tapi Tiara senang. Dan berjanji akan memberikan yang terbaik hingga anaknya bisa berkembang dengan baik juga.


"Biar mommy tebus vitaminnya. Kamu tunggu di sini."


Tiara mengangguk dan duduk di ruang tunggu di depan ruang dokter kandungan tadi. Hingga sebuah suara mengalihkan pandangannya dari foto calon anaknya.


Tiara tersenyum ke arah pemuda di depannya. "Dika. Lo disini?" tanya Tiara yang kemudian berdiri.


"Iya. Gue nganter kakak sepupu gue." tunjuk pemuda itu ke arah perempuan dengan perut besar tidak jauh dari mereka. "Tadi gue liat lo keluar dari ruang kandungan. Aku kira salah lihat."


"Ooh iya.. Ini.. Aku juga." Tiara melambaikan foto calon anaknya dengan tersenyum lebar. Menunjukan betapa bahagianya dirinya saat ini.


"Ooh selamat ya." Dika mencoba tersenyum meski hatinya justru terasa disayat. Dika memang masih sangat mencintai Tiara hingga detik ini. "Kok gak bareng suami lo."


"Al lagi sakit. Jadi di temenin mommy." disaat yang sama Shevi memanggil untuk mereka pulang. "Gue duluan ya Dik."


Dika menatap kepergian gadis yang menempati hatinya dengan perasaan hampa. Sudah tidak ada lagi harapan untuknya bisa bersatu dengan gadis itu. Kini Tiara bukan hanya milik laki-laki lain. Tapi dia juga calon ibu dari anak yang di kandungnya.


*


*


*


Yuhhuuu sorean nih up-nya 💕

__ADS_1


__ADS_2