
Akhir pekan ini adalah hari pertunjukan Shevi. Dia akan menampilkan penampilan terbaiknya. Lagu aransemen terbarunya yang diproduseri salah satu produser ternama yang Ray kenalkan padanya dan sangat tertarik dengan lagu instrumental ciptaannya.
Banyak pers yang hadir untuk mengulas acara malam hari ini. Inilah kesempatan emas untuk Shevi agar dunia semakin mengenalnya. Begitulah yang Ray katakan waktu itu.
Tribun penonton penuh dengan pengunjung. Dibagian paling depan duduk dengan manisnya Tiara yang di apit oleh Bi Nah dan Ray yang mengabadikan permainan Shevi nanti.
Sebenarnya Shevi ingin keluarganya juga hadir menyaksikan pertunjukannya. Tapi sayangnya mereka tidak ada yang bisa hadir ditengah - tengah hari pentingnya.
Alunan lagu bernada cepat mengalun indah sampai kesudut gedung Broadway. Ditengah panggung Shevi memainkan jarinya diatas tuts piano tunggal dengan lincahnya. Shevi memejamkan matanya menikmati lagu yang dia bawakan. Membayangkan perjalanan hidupnya dengan Tiara. Ya. lagu ini terinspirasi dari Tiara si malaikat kecil dalam hidupnya.
Suara gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh gedung aula setelah Shevi menyelesaikan lagunya. Semua yang datang dapat merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan dari alunan yang Shevi bawakan.
Orang-orang membahas pertunjukan itu dengan nada kagum. Pers memuji-muji
penampilan drama musikal yang baru saja dibawakan lulusan Juilliard termasuk pertunjukan piano Shevi dalam ulasan mereka di berbagai media. Kini orang-
orang mengenal nama Shavina Almahyra dan mengakuinya sebagai salah satu pianis terbaik lulusan tahun ini.
" Mommy.. " Tiara langsung berlari kedalam pelukan Shevi saat Shevi sedang berada dibelakng panggung setelah pertunjukannya.
" You are amazing mom " Satu kecupan mendarat dipipi Shevi.
" Ahh manis sekali anak mommy. Kamu memang selalu bisa membuat mommy bahagia sayang " Shevi membalas dengan lebih banyak ciuman diwajah Tiara sampai anak itu tertawa geli.
" Ya. Benar kata Ara. You are amazing mom.. Uncle juga mau dicium juga seperti Ara... " Ray mendekatkan wajahnya ke arah Shevi dan Tiara. Bukanya ciuman malah dorongan diwajahnya oleh Shevi yang dia dapatkan.
" Makan tuh ciuman.. " Shevi dan Tiara terkekeh melihat Ray cemberut.
" Okey untuk merayakan keberhasilan pertunjukan kamu hari ini. Ayo besok kita ajak princess kita jalan - jalan " Shevi mengangguk setuju dan Tiara bersorak senang.
***
__ADS_1
Alvin beserta kedua orang tuanya sedang berkumpul di kediaman Shandika. Mereka sedang membahas kelanjutan hubungan pertunangan antara Alvin dan Shera.
" Maaf nih Rin.. Mungkin anak kita sudah lama bertunangan, tapi umur mereka kan masih muda, Bolehkah jika Alvin belajar mengurus perusahaannya dulu " Papi Dion belum ingin menikahkan Alvin. Dia lebih ingin Alvin belajar memimpin perusahaan. Apa lagi usia Alvin masih cukup muda.
" Tapi pih.. Alvin kan sudah mau dua puluh enam tahun. Mami juga pengen cepet punya cucu kaya Karina " Mami Lyra tidak setuju dengan pendapat Papi Dion.
" Sudah lah ra.. Bener kata Kak Dion anak - anak masih muda. Apa lagi Shera baru dua puluh tiga tahun. Biar Alvin belajar dulu mimpin perusahaan. Aku gak keberatan kok " Bunda Karina juga belum siap menikahkan Shera karena masih ragu dengan perasaan Alvin. Bunda Karina tidak melihat cinta dalam tatapan mata Alvin untuk Shera. Bunda takut Shera tersakiti.
" Biarkan Alvin belajar paling tidak satu atau dua tahun. Tapi kalau dalam satu tahun Alvin bisa membawa perkembangan diperusahaan ayo kita nikahkan mereka. Bagaimana menurutmu Alvin ?? " Papi Dion melihat Alvin yang ada disampingnya.
" Aku setuju aja pih.. Toh aku juga belum siap buat menikah sekarang. Pernikahan bukan hal yang bisa dipermainkan. Aku akan menikah saat aku siap tapi bukan sekarang. " Alvin menjawab acuh. Dia masih marah karena mereka merahasiakan tentang Shevi dan sekarang maminya malah mengajaknya untuk merencanakan pernikahan. Keterlaluan sekali mereka.
Shera sebenarnya kecewa dengan Alvin yang justru malah setuju dengan papinya. Shera sudah menunggu terlalu lama Alvin pulang dari pendidikannya dan dia berharap akan langsung menikah dengan Alvin setelah Alvin pulang. Sekarang malah kenyataannya seperti ini. Shera menghela nafasnya untuk mengurangi rasa sesak didadanya.
" Bunda lihat... !! " Rasya berlari dari ruang keluarga ke arah bunda dan yang lainnya yang sedang berada diruang tamu.
" Apa si Rasya.. Gak boleh ganggu kalo orang tua lagi ngomong serius " Tegur Bunda Karina karena menurutnya sikap Rasya kurang sopan.
" Hmm.. Boleh aku lihat " Alvin berdeham untuk menghilangkan bongkahan ditenggorokannya yang rasanya berat untuknya berbicara.
Rasya menyodorkan gadgetnya kepada Alvin. Benar kata Rasya penampilan Shevi sangat bagus dan memukau. Alvin memang selalu terpesona jika melihat Shevi sedang memainkan pianonya.
Dan Alvin melihat anak kecil itu. Anak kecil yang kata maminya bernama Tiara. Anak kecil yang pernah dia lihat dan menggetarkan hatinya dulu saat videocall dengan Shera empat tahun lalu. Dan sekarang bayi itu sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan masih sama menggetarkan hati Alvin saat dia melihatnya.
***
" Haiii... " Nurin , Indah, Lidia dan Nay heboh menyapa Shevi dan Tiara yang sedang ada dilayar ponsel Nurin.
Nurin langsung mengumpulkan sahabatnya saat mendapatkan kiriman video penampilan Shevi yang luar biasa.
" Haii aunty.. " Tiara memang dekat dengan mereka meskipun hanya bertemu berapa kali tapi mereka tidak pernah lupa untuk videocall setiap hari sehingga Tiara sudah terbiasa dengan kehadiran mereka.
__ADS_1
" Hai cantikk.. Kamu menemani mommy'mu manggung tadi ? " Tanya Lidia pada gadis kecil menggemaskan itu.
" Iya. Mommy luar biasa kan aunty ?? Mommy juga cantik seperti Ara " Celotehan gadis itu membuat mereka yang diseberang tertawa.
" Tapi bener deh vi.. Lo luar biasa !! gue bangga atas pencapaian lo yang baru lulus udah bisa release lagu. Udah punya produser sama manager segala lagi " Indah tersenyum lebar terlihat jelas rasa bangga dalam tatapannya.
" Gue juga bangga sama pencapaian kalian.. Selamat buat kita bersama !! " Shevi berteriak semangat.
Memang sekarang Nay sedang koas. Nurin punya butik sendiri sesuai bidangnya yang lulusan designer. Lidia punya cafe yang berkembang pesat, cafe yang dia bangun dari nol. Indah sedang belajar diperusahaan papanya.
" Andai lo disini vii.. Kita bisa rayain ini semua bareng - bareng. Kita kumpul - kumpul " Nay mulai sedih.
" Ini kan kita kumpul Nay.. Lagian kalo gue langsung pulang pas gue lulus kemaren belum tentu disitu gue bisa kaya sekarang. Jalan gue disini lebih gampang gaes.. Nanti saat pengalaman gue sudah banyak pasti gue pulang "
" Udah ahh.. jangan sedih - sedih. " Potong Indah dan merangkul Nay yang berada tepat disampingnya.
" Ngomong - ngomong lo masih kaya gadis aja vii.. makin cantik malah. Padahal anak lo udah segede gitu. Liat gue yang masih gadis malah tua begini kebanyakan tugas diperusahaan bokap gue.huaaa " Semua terkekeh dan melanjutkan obrolan yang lebih menyenangkan tanpa harus bersedih - sedih lagi.
***
Saat Shevi Tampil
*
*
*
Happy Reading 💕
__ADS_1