
Andrian benar-benar datang ke rumah Alvin seminggu kemudian. Beserta istri dan kedua anaknya yang berteman dekat dengan Raka.
"Maaf nih Pak Andrian malah yang repot-repot datang kemari. Seharusnya kita bicarakan kerjaan di kantor bapak, tapi keadaan saya yang belum memungkinkan." Alvaro masih merasa tidak enak saja dengan Andrian yang notabene-nya adalah klien. Apa lagi ini klien besar.
"Satai saja Al. Karena kita di rumah, jadi panggil saja Om seperti Tiara."
Alvaro mengangguk meski berat. Mereka terlibat obrolan yang cukup serius di ruang kerja Alvin.
Para istri juga mengobrol seru di ruang keluarga.
"Jadi kamu hamil anak kembar Ra?" tanya Indah antusias.
"Iya aunty.. Tapi kembar MoMo."
Obrolan mengenai kehamilan mengalir begitu saja. Shevi dan Indah bergantian bercerita tentang kehamilan mereka masing-masing. Menasehati Tiara seharusnya begini dan begitu.
"Setiap kehamilan itu gak ada yang mudah Ra. Sekalipun aunty dan mommy-mu yang anak pertamanya cuma satu, kita sama-sama mengalami kesulitan." nasehat Indah kemudian. "Dan semua kehamilan itu beresiko. Ada yang hamil satu tapi anaknya tidak berkembang di dalam juga banyak. Dan tidak ada orang hamil itu mudah. Mommy-mu pas hamil kamu tuh muntahnya udah kaya apa tau tiap pagi. Auty juga.. Makanya auty di suruh ngerem aja di rumah pas Om Andrian tau aunty hamil."
Sebenarnya Tiara juga sudah tidak memusingkan tentang apa pun jenis kehamilannya. Dia menerima apa pun pemberian tuhan dan berharap semua berjalan lancar dan selamat.
"Yang penting kita happy.. anak kita akan tumbuh sehat di dalam. Percaya begitu aja Ra."
Tema tentang kehamilan tidak akan habis di bahas. Apa lagi pengalaman Shevi dan Indah yang sudah sama-sama berpengalaman hamil dua kali. Dengan keluhan yang berbeda-beda.
Raka, Denish dan David sedang bermain di kamar Raka. Sedangkan Reina duduk cemberut di samping Shevi.
"Ini kenapa anak satu cemberut aja?" Indah mengusak rambut kepala Reina.
"Kenapa aunty tidak punya anak perempuan juga sih? kan kalau aunty main, Reina jadi ada temannya." protes Reina dengan wajah kesal. Membuat Indah terkekeh.
"Aunty juga pengen punya anak cewek. Sayangnya aunty udah gak boleh punya bayi lagi." sesal Indah. "Kalau Reina aja gimana yang jadi anak aunty?"
"Gak mau. Denish nyebelin!"
__ADS_1
Tawa mereka mengisi suasana malam itu.
***
"Gimana Al, proyeknya kamu sanggup?"
Tiara tengah duduk bersandar di atas tempat tidur. Alvaro seperti biasa, tidur di pangkuan Tiara dan mengajak anak mereka berinteraksi.
"Ini bukan yang pertama aku desain Mall. Tapi aku masih takut aja yank.. apa lagi ini buat Mall sekelas Dawson company."
Alvaro masih belum percaya dengan kemampuannya setelah kecelakaan. Rasa kurang percaya dirinya masih berpusat pada kedua kakinya yang belum bisa di ajak berjalan.
"Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin. Om Andrian juga sudah bilang detail-detail pentingnya. Jadi aku udah ada bayangan. Tinggal di tuang di atas kertas aja besok."
Tiara membelai lembut rambut suaminya."Memang besok kamu gak terapi?"
"Setelah terapi sayang.. Lagian mulai besok terapinya gak tiap hari. Katanya seminggu sekali aja udah cukup."
Tiara yang beberapa kali tidak mengikuti suaminya terapi, kaget. "Lho kenapa? kalo mereka sibuk, kita bisa cari terapis lain Al."
"Oh ya.. Kok gak bilang sih Al. Aku kan pengen lihat juga." seru Tiara heboh dengan wajah berseri.
Akhirnya usaha suaminya untuk kembali berjalan sedikit demi sedikit terbayarkan. Alvaro mulai ada perkembangan yang berarti. Tidak hanya mengangkat kaki. Tapi kini pemuda itu bisa menopang tubuhnya dan berjalan dengan tongkat. Tiara berharap, tidak lama lagi Alvaro akan kembali seperti semula. Menyambut kedua anak mereka dengan tubuh yang sehat, agar Alvaro bisa langsung menggendong anak mereka setelah lahir. Bisa bergantian dengannya untuk menjaga anak mereka ketika terbangun malam hari.
"Kamu kan sibuk yoga. Tapi aku bisa tunjukin sekarang." Alvaro duduk di tepi tempat tidur. Meminta istrinya untuk mengambil tongkat yang ia simpang di sudut kamar dekat meja yang di siapkan untuknya bekerja.
Berpegangan kuat pada kedua tongkat di kiri dan kanannya, ia mencoba mengangkat tubuhnya dan menyelipkan kedua tongkat di bawah ketiaknya.
Sampai situ Tiara sudah bersorak bahagia. Perempuan itu bahkan sampai melompat-lompat di atas tempat tidur.
"Ra! hati-hati. Ada anak-anak di dalam!" seru Alvaro memperingati istrinya yang ia rasa tledor.
Tiara terkekeh dan turun dari tempat tidur. "Maaf sayang.. abis aku seneng banget liat kamu bisa pakai tongkat."
__ADS_1
Memeluk suaminya dan menyandarkan kepala di dada bidang milik Alvaro. "Anak-anak seneng juga lihat papanya sudah banyak perkembangan."
Mengecup dahi dan mendorong istrinya menjauh. "Gak pengen lihat aku jalan?"
Tentu saja Tiara langsung mengangguk semangat. Kembali bersorak di tempat saat Alvaro sudah lancar berjalan menggunakan tongkat. Memutari kamar mereka dan duduk setelah di rasa kakinya mulai ngilu.
"Besok lagi. Kakinya udah gak kuat."
Kini Alvaro sudah tidak perlu di bantu untuk naik ke tempat tidur. Pemuda itu bisa kembali melakukan banyak hal sendiri. Meski belum semuanya. Beberapa dia masih membutuhkan bantuan orang lain seperti istrinya.
"Ternyata benar ya Al. Kalau kita menjalaninya dengan bahagia, saling menguatkan, kita akan lebih mudah melaluinya." Tiara yang berada dalam dekapan sang suami mendongak, menjangkau wajah suaminya.
"Buktinya baru beberapa kali kamu terapi setelah kita baikan, sudah sejauh ini perkembangan kamu."
Alvaro mengangguk setuju. Mungkin jika dulu ia tetap keras kepala untuk menjauhi Tiara, dia akan tetap sulit untuk kembali berjalan. Karena tidak ada hal yang membuatnya kembali bersemangat. Apa lagi sekarang semangatnya bertambah dua kali lipat.
Kehadiran anak dalam rumah tangganya yang meski jauh dari kata sempurna ini, memberikan semangat untuk Alvaro. Memberi warna cerah yang berbeda dari sebelumnya. Hatinya melambung. Merasa kini dia punya tanggung jawab besar. Tanggung jawab yang akan menjadi penerus masa depannya.
"Kamu benar. Tanpa kamu sama anak-anak. Aku gak akan berkembang sejauh ini sekarang." mendekap sang istri dengan tangan yang mulai menjalar kemana-mana. "Dan aku bersyukur memiliki kalian sebagai penyemangatku. Ada di saat aku berada di titik terendah."
Tiara mencebik. "Tangan kamu tuh ganggu suasana tau gak Al!"
Alvaro terkekeh dan mengecup bibir istrinya. "Abis gimana. Anak-anak kangen katanya sama papa mereka."
Jadilah malam mereka di tutup dengan malam panas bertabur kebahagiaan.
*
*
*
Sedikit dulu ya.. Aku lagi gak enak body hihihi
__ADS_1
Padahal hari ini cuaca panas. Tapi tiba-tiba flu. Dasar aku 😂
Jangan lupa jejeknya biar othornya semangat 😘💕