DEMI DIA

DEMI DIA
Memulai dari Awal


__ADS_3

" Jadi lo beneran udah ceraiin Tania ?? " Kini mereka tengah berbaring dan saling menghadap satu sama lain.


" Bener lah yank.. Buat apa aku bohong masalah begini. Dan sekarang jangan pake lo gue lagi. Aku gak suka !! "


" Siapa suruh nyebelin weeekk. " Alvin terkekeh saat istrinya memeletkan lidahnya.


" Namanya juga dijebak yank.. Selama kita jauhan kamu bisa tidur yank ?? "


" Bisa lah.. Kenapa harus gak bisa.. Ogah banget mikirin kalian sampai gak bisa tidur !!"


" Jahat banget si yank. Padahal aku paling sehari tidur tiga jam mikirin kamu sama Tiara. " Alvin mengelus perut datar sang istri.


" Aku juga merasa bersalah banget sama anak kedua kita. " Shevi yang diingatkan kembali dengan calon anaknya yang pergi menjadi bersedih kembali.


Shevi menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untuk menghilangkan sesak didadanya. " Aku juga ngerasa bersalah banget.. Aku ngerasa bukan ibu yang baik sampai gak tau kalau ada dia didalam rahimku dulu. " Matanya berkaca - kaca.


" Maaf yank.. Gara - gara aku, kita jadi kehilangan anak kita. " Alvin memeluk istrinya.


" Udah lah mas.. Semua udah berlalu. Tinggal gimana usaha kita memperbaiki semuanya. Anak kita itu pasti sudah bahagia di surga sana. " Shevi tersenyum menenangkan hatinya dengan harapan yang dia miliki. Dia yakin Tuhan lebih sayang kepada anaknya makanya anaknya dipanggil lebih dulu untuk menghiasi taman surga.


" Kamu udah pulang ke rumah papi mas ?? "


" Udah tadi sore.. Makanya aku tau kamu disini. " Menyurukan kepalanya erat didada sang istri. " Aku kangen yank. " Tambahnya semakin erat memeluk.


" Bodo amat. Awas ah.. " Menolak seperti apapun kedudukannya tetap kalah. Dia wajib melayani suaminya kalau tidak ingin suaminya mencari kesenangan lain diluar sana.


" Kita buat adik baru buat Tiara. " Bisiknya ditelinga sang istri.


Maka malam itu mereka habiskan dengan saling menyatu. Menyatu dalam gairah dan kebahagiaan. Kebahagiaan setelah sekian bulan mereka tersiksa dengan keterpisahan dan masalah yang mereka jalani. Mereka hanya berharap kebahagiaan kali ini akan abadi. Jangan ada lagi masalah yang memisahkan mereka. Cukup maut saja yang memisahkan mereka berdua.


***

__ADS_1


Shevi menggeliat meregangkan badannya yang terasa remuk dengan pergumulan semalam bersama sang suami. Dipandanginya wajah tenang Alvin yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Menyingkirkan anak rambut yang menjuntai menutupi wajah suaminya sambil tersenyum. Dia berharap ini bukanlah mimpi yang ketika bangun nanti kenyataan pahit masih menghantuinnya.


Hantinya sudah lelah merasa tersakiti dan mengalah semenjak dia merelakan Alvin bertunangan dengan Shera. Dan jika ini hanya mimpi biarkan dia tidur dan jangan ada yang membangunkannya dari mimpi yang membahagiakan ini.


" Emang aku ganteng banget ya yank? gak berkedip gitu liatin akunya sampe senyum - senyum sendiri lagi. " Shevi kanget saat Alvin tiba - tiba membuka matanya dan langsung melontarkan pertanyaan.


" Da-dari kapan kamu bangun mas ?? " Mukanya merona malu terpergok sedang memandangi suaminya. Dan sejak kapan Alvin bangun?? Bukankah dia tertidur sejak tadi.


" Dari kamu bangun. " Alvin tersenyum lebar melihat istrinya yang malu dengan menutup wajahnya.


" Mau kemana?? " Memegang lengan istrinya yang akan beranjak.


Shevi semakin mengeratkan selimut yang membalut tubuh polosnya. " Mau mandi. Bentar lagi pasti Tiara kesini. Mas mau dia masuk pas kita masih gak pake baju begini? " Alvin mengalah dan membiarkan istrinya untuk mandi. Namun belum lama Shevi menutup pintu kamar mandi Alvin menyusul masuk dan ikut berendam bersama istrinya.


" Mas ngapain ?? " Protes Shevi saat membuka mata karena tubuhnya yang sedang berendam tergeser oleh Alvin yang menyusup disampingnya.


" Mau ikutan mandi.. Biar hemat waktu. " Jawab Alvin dengan senyuman yang mengandung arti yang lain dari ucapannya.


***


" Daddy.. Daddy... " Tiara menggedor kamar orang tuanya yang masih terkunci. Untung saja acara mandi plus - plusnya sudah selesai dan sekarang mereka berdua pun sudah dengan pakaian yang lengkap.


" Untung aja anak itu baru kesini.. " Shevi meletakkan hairdryer yang dia pegang untuk mengeringkan rambutnya dan melangkah mendekati pintu untuk membukanya.


" Mommy dimana daddy.. Kata aunty Shera daddy pulang.. " Binar dikedua mata anaknya membuat Shevi lagi - lagi merasa bersalah karena mereka harus berpisah lagi kemarin.


" Daddy disini sayang.. " Sahut Alvin yang bangkit dari duduknya dan mendekat kepada anak dan istrinya.


Tiara langsung berlari dan langsung ditangkap Alvin untuk ia peluk dalam gendongannya. " Ara kangennn.. " Ucap anak itu didalam pelukkannya.


" Daddy juga kangen sama Tiara.. Selama daddy pergi Tiara jadi anak baik kan ?? Nurut sama Mommy ?? "

__ADS_1


" Tiara nurut dan jadi anak baik. Iya kan mom ?? " Tiara menjauhkan pelukkannya untuk menghadap sang mommy.


" Tentu dong.. Tiara kan anak mommy yang baik." Shevi tersenyum dan ikut memeluk anak dan suaminya.


" Ayoo kita turun sarapan.. Nenna udah nungguin pasti." Alvin masih menggendong anaknya dan satu tangannya menggandeng istrinya untuk turun ke meja makan sarapan bersama keluarga istrinya.


" Wah.. Wah.. Wah.. Yang sekian lama gak ketemu segitunya ngabisin malem sampe jam segini baru bangun bikin yang lain kelaperan aja.ck " Shera berdecak sembari menggelengkan kepala dan melipat kedua tangannya didepan dada.


" Sirik aja lo Raa.. Bilang aja lo semalem ga dijatah sama bang Bayu. " Protes Alvin kepada kakak iparnya yang sangat menyebalkan ini.


" Jangan salah.. Bilang mas berapa ronde kita semalam. " Tanya Shera kepada suaminya. Yang di tanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya.


" Kok kamu gampang banget sih vii maafin Alvin.. Kalo aku jadi kamu pasti aku hukum dulu tuh Alvin. Boleh tidur bareng tapi gak boleh pegang - pegang. Itu hukuman terberat untuk laki - laki dek.. Gak bakal tahan dia, kakak jamin. " Alvin menengguk ludahnya kelu. Jangan sampai istrinya terpengaruh dan mengikuti saran Shera. Karena benar kata Shera dia tidak akan pernah tahan jika hanya memandang istrinya tanpa bisa menyentuh.


" Jangan gitu sunshine.. Kamu gak lihat muka Alvin udah pucet banget begitu. " Bayu terkikik melihat ekspresi wajah adik iparnya setelah mendengar kalimat provokasi dari istrinya untuk Shevi.


" Haha biar tau rasa dia.. " Bunda Karina hanya menggelengkan kepalanya melihat anak pertamanya yang semakin berubah semenjak hamil.


" Jangan dengerin yank.. Dia cuma sirik liat kita harmonis. " Alvin memeluk pinggang istrinya dan kecupan ringan dipipi. Membuat Shera yang melihat berekspresi ingin muntah.


" Anak aku pengen muntah liatnya vinn !! " Shera mengusap perutnya yang sudah kelihatan membuncit. Terbesit kembali rasa sesal dihati Alvin atas kehilangan calon anak yang dikandung istrinya.


Shevi menangkap tatapan sendu Alvin kepada Shera yang sedang mengelus perutnya. Dia tahu suaminya pasti merasa bersalah. Digenggam tangan suaminya dan ditepuknya lembut.


" Yang udah berlalu biarlah berlalu. Aku pengen mulai semuanya dari awal lagi dengan lebih bahagia bersama keluarga kecilku." Ditatapnya mata Alvin yang juga menatapnya. Dikecupnya sekilas bibir yang sedang merekah itu dan beralih mengecup pipi anaknya yang masih dalam gendongan Alvin.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2