
Semua berjalan normal kembali. Alvin kembali bekerja dikantor sang papi. Bukan kembali pada posisinya semula, melainkan menjabat sebagai CEO menggantikan Papi Dion yang ingin pensiun menghabiskan waktu bersama istri dan cucuk dirumah.
Shevi juga kembali aktif dengan studio serta manggungnya. Semua berjalan sesuai yang ia harapkan. Bahagia bersama keluarga kecilnya. Walaupun sama - sama sibuk tapi mereka tetap meluangkan waktu untuk putri semata wayangnya. Mereka selalu pulang tepat waktu dan weekend selalu mereka habiskan bertiga. Mereka meningkatkan kualitas kebersamaan mereka bertiga.
Akhir pekan ini rencananya mereka akan mengajak Tiara untuk jalan - jalan. Tapi bukannya menuju mall tujuan yang mereka rencanakan, Alvin malah membawanya kesebuah komplek perumahan elit dekat dengan perumahan orang tua mereka.
" Mau ke rumah siapa mas ?? " Shevi semakin bingung saat security perumahan itu sudah mengenal Alvin.
" Nanti juga kamu tau.. " Alvin menoleh sekilas dengan senyum dan kembali melihat jalan menuju rumah yang dia tuju.
Mobil berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam. Alvin membunyikan klakson mobil dan Security langsung membuka pintu untuk Alvin.
Mereka berhenti didepan rumah besar yang bahkan lebih besar dari rumah orang tua mereka. Rumah dengan cat warna putih dengan pilar - pilar besar menyangga balkon diatas teras.
" Rumah siapa mas ?? " Tanya Shevi lagi yang tidak tahan dengan rasa penasarannya.
" Udah ayo masuk dulu. "
Alvin menggandeng tangan Tiara yang berada diantara dirinya dan Shevi. Pintu dibuka oleh seorang pelayan saat security memberitahukan kedatangan Alvin.
" Selamat datang tuan, nyonya dan non Tiara. " Wanita paruh baya dengan seragam warna putih dan banyak lagi wanita dan pria yang berbaris rapi di belakangnya dengan seagam berwarna hitam menyambut kedatangan keduanya yang dijawab senyuman oleh Shevi dan Alvin.
" Perkenalkan nyonya. Nama saya Reva, saya kepala pelayan di rumah baru nyonya ini. " Reva memperkenalkan dengan sopan dirinya dan seluruh pelayan serta sopir dan penjaga yang ada.
" Rumah baru kita mas ?? " Akhirnya ada kesempatan untuk Shevi bertanya setelah Reva selesai memperkenalkan pegawai yang lumayan banyak itu.
" Iya sayang.. Ini rumah baru kita. Kita akan tinggal dengan anak - anak kita mulai sekarang. " Alvin memberikan tanda supaya mereka kembali kepekerjaan mereka masing - masing.
__ADS_1
Shevi mengedarkan pandangannya mengamati rumah barunya yang jelas ditata oleh orang profesional karena tatanannya begitu serasi dan pas dilihat. Shevi yakin semua prabot di rumah ini adalah barang - barang mewah. Dia tau gimana selera kedua orang tua mereka yang memang terlahir dalam keluarga berada. Walaupun sebenarnya Shevi lebih ingin tinggal di rumah yang lebih sederhana. Tapi jika di kasih rumah semewah ini dirinya tidak akan menolak.
" Mau tour rumah baru sayang ?? " Shevi tersenyum dan mengangguk.
Rumah dengan luas 1000 meter persegi dengan halaman luas serta carpot terpisah dengan kapasitas lima belas mobil yang rofftopnya dilapisi rumput sintetis sehingga bisa digunakan untuk berkumpul dan BBQ bersama teman - teman.
Satu kolam renang disamping rumah seperti di kediaman Shandika. Dan halaman belakang yang dimanfaatkan untuk taman yang nyaman untuk anak - anak bermain yang dikelilingi beraneka ragam bunga kesukaan Shevi.
Bagian dalam ada ruang tamu yang mewah dan luas. Foto keluarga kecil mereka menggantung dengan tatanan unik dan rapi didinding utama. Ruang keluarga yang nyaman dan luas untuk berkumpul keluarga dan sahabat mereka yang memang banyak.
Ada toilet diujung ruang keluarga itu.
Alvin membuka satu pintu yang ternyata kamar utama yang sangat luas. " Ini kamar untuk kita. Kamar Tiara ada di lantai atas. " di kamar itu ada ranjang king size dengan lampu kristal menggantung mewah di tengah ruangan. Dua kursi yang empuk dan satu meja kecil yang memisahkan berada di dekat jendela kaca yang langsung menuju kolam renang. Serta satu sofa panjang disisi pintu masuk. Ada dua pintu di dalam sana. Shevi membuka salah satu pintu yang ternyata walkin closet yang sudah berisi barang - barang brended dengan baju - bajunya yang berada disisi kiri dan Alvin disisi kanan. Serta ada rak berisi sepatu dan tas diujung ruangan serta meja berisi jam tangan dan aksesoris ditengah.
" Ini semua kamu yang beli mas ?? "
Di dalam sana juga ada pintu penghubung ke dalam kamar mandi yang juga mempunyai akses langsung ke dalam kamar.
Dilantai bawah ada satu kamar utama dan satu kamar tamu, ruang kerja Serta satu dapur bersih dan satu dapur kotor di belakang dekat tempat mencuci baju.
Selesai melihat - lihat lantai bawah Alvin menuntun istrinya dan menggendong anaknya menuju lantai dua. Melihat semua ruangan yang ada.
Dilantai atas ada tiga kamar dan ruang bermain anak serta ruangan yang luas seperti ruang keluarga di lantai bawah. Ruang yang langsung menuju balkon utama yang nyaman untuk menikmati sore hari dengan minum teh dan cemilan. Karena rumah menghadap ke arah barat sehingga bisa menikmati sunset dari balkon.
Kamar Tiara ada disalah satu kamar yang ada disana. Tema kamarnya sama dengan kamar Tiara yang ada di rumah Mahesa.
Ruang bermain juga terisi banyak sekali mainan untuk Tiara juga ratusan boneka terpajang rapi dalam rak memenuhi dinding utama.
__ADS_1
" Ini mas mau bikin toko mainan ?? " Shevi menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan suaminya. Kenapa berlebihan sekali seperti ini.
" Ini semua buat nebus waktu yang Tiara habiskan tanpa aku. " Mata Alvin terlihat sendu meski bibirnya tersenyum melihat betapa senangnya Tiara saat dia turunkan diruangan itu.
" Gak perlu kamu lakuin ini pun gak papa mas.. Itu semua bukan sepenuhnya salah kamu. " Shevi mengusap sebelah pipi suaminya dan berjinjit mengecup bibir itu sekilas.
" Makasih udah mau maafin semua kesalahan aku selama ini sayang. " Alvin memeluk erat istrinya.
" Udah ahh.. Makasih sama maaf mulu !! " Shevi melepas pelukannya. " Ngomong - ngomong kamu punya uang buat beli rumah ini dan segala isinya mas ?? " Imbuhnya.
" Kamu lupa sekarang suami kamu udah jadi CEO ?? ya walaupun masih kredis sih.. " Alvin menggaruk tengkuknya dan nyengir kuda merasa malu. Membuat Shevi tertawa dibuatnya.
" Gak apa apa sayang.. Kamu cuma niat aja aku udah seneng kok.. Apa lagi kamu wujudin seperti ini.. Aku bersyukur banget mas. "
" Manis banget sih istri aku ini.. " Dicubitnya gemas kedua pipi istrinya.
" Aku tuh udah manis dari lahir mas.. Gak sadar apa ??!! " Seru Shevi dengan mengerucutkan bibirnya yang langsung dikecup singkat oleh Alvin. Mengingat diruangan itu ada Tiara. Jika tidak pasti mereka sudah berakhir di tempat tidur saking gemasnya Alvin dengan tingkah Shevi yang masih kekanakan meski kadang sifat dewasanya muncul.
" Tapi kalo disini gak ada mami dong mas.. Kalo aku kerja siapa yang jagain Tiara ?? "
" Kan ada nenny khusus buat Tiara.. Lagian deket juga dari rumah mami sama bunda jadi mereka bisa tiap hari kesini kalo kangen. "
Shevi setuju saja dengan semua yang sudah Alvin urus. Dia percaya suaminya tahu yang terbaik untuk keluarganya.
*
*
__ADS_1
*