
Dengan wajah gembira Tiara memasuki Mall dengan kursi roda yang di dorong oleh sopir keluarga. Di sampingnya Alvaro berjalan dengan tertatih menggunakan tongkat.
Perkembangan suaminya sudah cukup bagus. Sudah mulai bisa melepas tongkat dan melangkahkan kaki. Namun masih akan terasa ngilu dan lelah jika terlalu lama berjalan tanpa alat bantu.
Tidak ingin terlalu terburu-buru dan terlalu memaksakan. Alvaro akhirnya masih setia membawa dua kaki tambahan untuknya itu.
"Kita ke sana dulu ya Al.." tunjuknya pada baby shop terdekat.
Manik mata Tiara langsung berbinar begitu melihat semua pernak-pernik untuk bayi. Mulai dari baju, selimut dan lainnya.
Alvaro hanya mengijinkan Tiara membeli satu pasang barang untuk satu jenis. Biar sisanya nanti di beli ketika umur kehamilan Tiara sudah menginjak tujuh bulan atau lebih.
Bukan dia percaya mitos. Hanya saja, mendengarkan nasehat orang tua biasanya berakhir baik.
Jadi, meski dengan wajah di tekuk. Tiara menurut dan hanya mengambil satu pasang barang untuk setiap jenis perlengkapan bayi.
Setelah segala perlengkapan yang di butuhkan baik untuk baby maupun untuk Tiara terbeli. Mereka melanjutkan untuk makan di tempat yang sudah menggugah air liur Tiara sejak menyebutkan tempatnya tadi saat di rumah sakit.
Mereka memesan dua meja. Agar mamang tidak merasa sungkan jika harus satu meja dengan anak majikannya.
"Gimana kalau aku hubungi Dika." celetuk Tiara di tengah kesibukan mereka menyantap makanan yang baru saja di suguhkan di hadapan mereka.
Alvaro mengernyit tidak suka. "Buat apa kamu hubungi dia?"
"Ya buat bujuk dia biar mau nemenin Sheril kemo lah." jawab acuh dari Tiara semakin membuat Alvaro tidak suka. Dasar istri tidak peka.
"Kasihan kan Al, lihat Sheril lemah kaya tadi. Mana gak ada semangat buat sembuh gitu lagi."
"Kaya kamu pas baru kecelakaan tau gak? maunya menyendiri. Patah semangat. Padahal cuma butuh motivator aja kan?"
"Dan Dika pasti bisa jadi motivasi Sheril buat sembuh. Dia kan..."
Alvaro tidak terlalu menanggapi celotehan istrinya. Sejak nama Dika di sebut. Dia sudah merasa malas dulu. Dan hanya merespon dengan dehaman. Tangannya masih sibuk menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Dari pada mendengarkan istrinya cerita tentang orang lain. Lebih baik ia mengisi perut yang sudah keroncongan minta di isi.
"Ish kamu dengerin gak si Al?!"
"Dengar kok sayang.." ucapnya dengan senyum lebar tanpa dosa sudah mengabaikan istrinya.
"Denger tapi gak ada tanggapannya! kaya ngomong sama patung tau gak sih!"
__ADS_1
Alvaro meringis dan menarik piring istrinya yang sudah cemberut. "Sini biar aku suapin. Biar kamu bisa bebas cerita tapi tetap makan."
Meski menggerutu tak jelas. Tiara tetap membuka mulutnya ketika Alvaro menyodorkan sendok ke depan mulut.
"Duuhh udah mau jadi mama tapi masih belepotan gini makannya sih?" dengan senyum kecil, Alvaro mengelap sudut mulut istrinya yang menempel saos dengan tissu.
"Gak perlu kamu yang hubungin dia. Biar nanti aku aja yang datengin dia langsung di kampus." ucap Alvaro lembut. Mengalah karena istrinya masih saja cemberut.
"Kalau kamu yang hubungin dia. Nanti dia malah sakit hati karena kamu hubungin cuma karena ada maunya."
Secara Dika pernah ada rasa pada istrinya. Jadi bisa di pastika bagaimana perasaan laki-laki itu jika nanti Tiara menghubungi hanya untuk membujuk Dika menemui Sheril.
Hati yang di lambungkan tinggi begitu tahu sang pujaan hati menghubungi, akan langsung terhempas saat mengetahui tujuan gadisnya.
"Bedanya sama kamu apa?" cibir Tiara tidak terima. Toh dia hanya bertujuan baik kan?
"Beda dong sayang. Aku akan ngomong langsung dan jelasin keadaan Sheril yang sesungguhnya. Bicara dari sisi laki-laki yang gak akan membuatnya tersinggung."
'Dan dia gak pernah punya rasa sama aku, tentunya.' imbuhnya dalam hati dan geli sendiri dengan kalimatnya.
"Emang aku mau ngapain sampai nyinggung perasaan dia? yang ada kalau kamu yang ngomong, belum ke tujuan awal kalian udah pada berantem!"
Alvaro mengernyit tidak mengerti. "Berantem kenapa?"
Alvaro tersenyum jahil dan mencolek dagunya. "Mau banget di rebutin sampai berantem mbak-nya?" goda Alvaro.
Tiara berdecak dan memalingkan wajahnya yang memerah. Bukannya terlalu percaya diri. Hanya saja, terakhir bertemu Dika dia kampus-lebih tepatnya berpapasan- Dika seperti orang yang tidak kenal dan tidak menyapanya. Bahkan lebih sering menghindarinya dengan mengambil jalan yang berbeda.
Mengindikasikan jika laki-laki itu masih memiliki perasaan untuknya, dilihat dari pengamatan dirinya yang amatir.
Dan bukan pilihan yang baik untuk mempertemukan Alvaro dan Dika. Bukan hanya tidak ingin terjadi pertumpahan darah. Tapi juga tidak ingin melukai hati Dika. Karena bagaimana pun, Dika pernah menjadi teman yang baik untuknya dulu.
"Lagian aku gak mungkin berantem juga sama dia yank.. Emang kita anak kecil yang rebutan mainan apa?"
"Mau dia bikin aku babak belur kaya apa juga gak bakal bisa bikin kamu berpaling ke dia. Dan begitu juga sebaliknya. Meski posisi dia yang di tuker sama aku sekarang. Meski aku bikin dia babak belur juga gak akan bikin kamu berpaling ke aku."
"Masalah hati tuh gak bisa di rebutin pakai otot. Dapet hatinya enggak.. Malah dapat sakitnya."
"Dan beruntungnya aku yang miliki kamu sekarang. Nanti dan selamanya."
Tiara tersipu mendengar penuturan suaminya yang memang bukan seperti anak SMA lagi. Dimana masih mengedepankan otot dari pada otak.
__ADS_1
Mengelus pipi suaminya dan berujar bangga. "Uluhh.. Calon papa yang satu ini keren banget sih.."
Alvaro membalas senyum istrinya. Menumpukan tangannya pada tangan sang istri dan menciumnya. "Tapi gak sehebat calon mama yang mau berjuang dan membawa dua anaknya kemana-mama ini."
"Calon mama terhebat yang aku kenal. Dan mereka pasti bangga." tambah Alvaro sembari sebelah tangannya mengusap perut yang langsung di respon dengan tendangan kecil anak-anak mereka. Membuat keduanya tertawa bahagia dan takjub sekaligus.
Semakin hari, rasa cinta yang Alvaro rasakan untuk istrinya semakin bertumbuh dan bertumbuh. Terlebih melihat betapa beratnya Tiara berjuang untuk anak-anak mereka.
Mendesis saat tidur, ketika anak mereka menendang-nendang. Atau melihat wajah letih istrinya sebelum tidur. Di tambah Tiara yang sudah lebih sulit melakukan aktifitasnya dengan perut sebesar itu. Yang akan lebih bertambah besar untuk kurang lebih dua atau tiga bulan ke depan.
Membuatnya semakin menghargai dan mencintai istrinya. Berjanji akan memberikan yang terbaik untuk wanita yang di cintainya itu.
Dari atas panggung live musik terdengar sebuah lagu yang menjadi latar belakang mereka.
Sudah dengan berbagai cara
Agar tak terlewatkan hari yang indah
Banyak hal yang tlah kita lewati
Di setiap harinya
Denganmu ku mengerti arti cinta
Arti cinta sesungguhnya
Tumbuh di setiap saat
Dan mengerti makna cinta
Makna cinta yang abadi
Kan kujaga cinta ini
Kita di pertemukan oleh cinta
Kita tak saling ingkar janji
Kita saling melengkapi
Hingga tua
__ADS_1
(Makna Cinta - Rizky Febian)