
Kembali menembus jalan ibu kota setelah selesai mengisi perut mereka untuk wisata ke tempat kedua.
Tiara menjawab pertanyaan Dika dengan tawa yang terbahak. "Lo tuh. Gue masih kecil jangan daftar jadi imam hidup. Khatamin aja dulu suratan pendek, biar gak tengsin pas ngimamin gue!!"
Dika mencebik kesal dan berlalu meninggalkan Tiara yang masih tertawa.
"Ra.. ujannya makin deres kayaknya. Berhenti dulu ya?" teriakkan Dika membuyarkan lamunannya tentang kejadian tadi. Sebenarnya Tiara tadi hanya bingung akan menjawab apa. Bingung, apakah maksud Dika sedang menembaknya?
"Iya berhenti aja dulu!"
Dika menghentikan sepeda motornya di halte yang mereka lewati.
Mereka berdua berlari menghindari hujan, berlindung di bawah naungan halte bus yang saat itu tidak ada siapa pun di sana.
Tiara mengusap bajunya yang sedikit basah. Mengusap berkali-kali lengan atasnya, mengurangi rasa dingin yang mulai menyerangnya.
Pergerakan Tiara tak lepas dari pengawasan Dika. Pemuda itu mekepaskan jaketnya, memasangkan di punggung gadis di sebelahnya yang sedang kedinginan.
Tiara terperanjat kaget. "Eh, gak usah. Lo pake aja!" tangan yang sudah akan melepaskan jaket itu terhenti saat tangan yang lebih besar memegang tangannya yang berada di bahu, menekannya agar tidak melepaskan jaket itu.
"Aku cowok. Aku lebih kuat!" tekannya seraya melepaskan tangannya yang membuat canggung Tiara.
"Lagian aku udah janji jagain kamu tadi pas izin sama Om Alvin. Nanti kalo aku balikin anaknya dalam keadaan sakit, yang ada aku gak di izinin ajak main lain kali."
Tiara berdecih geli. "makasih ya.."
"Jalan-jalannya lanjut lain kali aja ya? Kayaknya ujannya bakalan lama. Nanti kalo kamu pulang kesorean, aku gak enak sama ortu kamu."
"Oke. Lagian juga baju kita udah basah begini. Mana enak buat jalan."
***
"Haciimm.. Haciiimmm.." pagi-pagi dari bangun tidur, Tiara merasa tidak enak badan. Padahal pas hari minggu dia masih sehat, tapi kenapa justru sakitnya hari ini, hari pertama ulangan semester akhir yang tidak memungkinkan untuk dirinya tidak masuk sekolah.
"Kamu yakin mau berangkat?" tanya Mommy Shevi, khawatir melihat putri sulungnya yang terlihat pucat, hidung merah.
"Hari ini ulangan mom. Mana bisa aku bolos! nanti gimana sama nilai akhirnya." menggosok hidungnya yang terasa gatal.
"Ya udah di minum dulu susu jahenya, dulu mommy suka si bikinin itu sama nenna kalau sakit."
__ADS_1
Tiara mengangguk dan meminum sedikit demi sedikit susu jahe hangat di hadapannya hingga habis.
"Daddy yang antar kamu ya?" tawar sang ayah, ingin memastikan anaknya sampai di sekolah dengan baik.
Tiara mengangguk saja tanda setuju. Tapi justru adik bungsunya yang protes.
"Daddy mah gitu! sayangnya sama kak Ara aja! Reina gak pernah di antar sekolah!!" gadis kelas lima SD itu menekuk mukanya dan memainkan sarapan pagi tanpa memakannya.
"Kakak kan lagi sakit. Biasanya juga ade kadang-kadang di anter sama daddy." jawab lembut sang mommy memberikan pengertian kepada anak bungsunya.
"Tau ih. Ade cemburuan aja!" timpal Raka. Meskipun anak laki-laki itu cuek dan jarang ngomong, tapi dia sangat perduli dan perhatian kepada anggota keluarganya.
"Udah, daddy anter Reina sama Raka aja. Aku dianter mamang aja kaya biasa. Lagian aku udah gede dad, malu ih!"
"Kamu benet gak papa?"
Wajah pucat Tiara membuat kedua orang tuanya khawatir membiarkan anak itu sekolah.
"Tiara gak papa daddd.." tersenyum cerah, meyakinkan kedua orang tuanya.
***
Rasa pusing yang ia rasakan membuat konsentrasinya buyar. Beruntung hari ini hanya ulangan Bahasa Indonesia dan Olahraga. Jika hari ini ulangan Matematika atau Kimia, ia yakin akan ikut remidial.
Bel berbunyi tanda waktu mereka telah habis. Salah satu siswa di tugaskan untuk mengumpulkan lembar jawaban mereka.
Tiara menjatuhkan kepalanya menelungkup di atas meja. Mengurangi rasa pening yang semakin lama semakin menyiksa.
"Kenapa lo? kantin yuk?" ajak Pricillia.
"Gue pusing banget! gue pengen tidur aja!!" gumamnya lemah.
Pricilla mengecek dahi Tiara dan kaget dengan panas tubuh temannya itu.
"Gila! panas banget!!" pekiknya cemas.
"Ke UKS aja yuk?!" ajaknya kemudian.
Tiara menggeleng lemah. "Gue mau ikut ulangan."
__ADS_1
"Ya udah, gue beliin makan dulu ke kantin. Jangan pingsan ya!!" Pricilla yang panik langsung berlari ke kantin untuk membeli makanan, dan akan mampir ke UKS untuk meminta obat kepada dokter jaga yang ada di sekolah mereka.
Alvaro yang berdiam di kelas dan tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua gadis itu menjadi merasa kasihan dengan Tiara yang terlihat lemah. Pantas saja tadi saat mengerjakan ulangan Tiara tidak semangat seperti biasanya.
Mengeluarkan air mineral dan makanan yang Ibunya buatkan, saat sebelumnya dia sudah meminta obat ke UKS, pemuda itu mendekati meja Tiara.
"Nih makan." ucap Alvaro dengan dingin seperti biasa.
Tiara kaget saat dentuman tempat makan mendarat di atas mejanya, dan lebih kaget lagi siapa yang memberikan itu.
"Terus minum obatnya, biar nanti lo masih bisa ngerjain ulangan! percuma lo ikut ulangan kalo gak ada tenaga buat ngerjain!!" ejeknya sebelum pergi.
Tiara yang masih tertegun mengerjap beberapa kali dan tersenyum tipis. "Bantuin orang kok jutek gitu!"
Membuka bekal makan di hadapannya yang ternyata berisikan bento. "Lucunya.." gadis itu tersenyum melihat makanan di dalamnya yang di tata dengan cantik dan penuh kasih.
Ada tulisan dengan saus di atas nori "semangat ulangan". Tiara tersenyum, ternyata Alvaro sangat di sayang oleh ibunya. Dia tidak menyangka cowok seperti Alvaro mau membawa bekal seperti ini kesekolah. Bahkan dirinya yang anak perempuan saja sudah tidak pernah mau bawa bekal lagi semenjak kelas tiga SMP.
"Ini gak papa gue makan?" Tiara merasa tidak enak memakan bekal yang di buat penuh cinta untuk Alvaro.
"Gak papa, makan aja!! kata ibu gue, beramal sama yang membutuhkan itu pahalanya gede." jawabnya cuek, memainkan game pada ponselnya.
Tiara mendengus, mengucapkan terimakasih sebelum memakan bekal yang di berikan cowok usil yang biasanya mengganggunya. Kapan lagi kan cowok itu perduli kepadanya.
Tersenyum saat rasa makanan itu terasa enak pada mulutnya yang hambar, menghabiskan tanpa sisa kemudian meminum obat yang di bawakan Alvaro tadi.
"Ini bukan racun kan?" tanya Tiara mengacungkan obat di tangannya kepada Alvaro yang duduk dua kursi di depannya.
"Mending gue siksa dari pada ngeracunin lo. Terlalu gampang matinya kalo di racun!!"
Cemberut mendengar jawaban Alvaro. Lagian ngapain juga Tiara berharap cowok itu bisa ngomong baik-baik dengannya.
Setelah minum obat dia kembali merebahkan kepalanya di meja. Dia menyimpan kotak bekal di laci mejanya, akan membawa pulang kotak bekal itu untuk di cuci sebelum di kembalikan nanti.
*
*
__ADS_1
*