
"Jadi.. di dalam sini ada dede bayinya yank?" tanya Alvaro. Mengusap dan mencium perut istrinya yang masih rata.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar kembali. Setelah makan malam dan bercengkrama bersama keluarga, mereka memutuskan untuk beristirahat setelah kepulangan orang tua Alvaro.
Tiara lebih dulu membantu suaminya untuk berganti baju dengan baju yang di ambilkan pelayan dari apartemen mereka. Karena Alvaro datang tidak membawa apa pun.
"Iya.. disini ada anak kamu. Darah daging kamu. Buah cinta kita dari usaha yang kita lakukan selama ini." ucap Tiara yang membelai rambut suaminya yang merebahkan kepalanya di atas pangkuan.
"Usaha aku kali yank! kamu mah gak usaha."
"Iihh.. Kamu mah! kalau aku gak usaha, gak mungkin ada dia di dalam sini!" sungut Tiara dengan bibir yang sudah mulai mengerucut. Kalau saja Alvaro masih sesehat dulu, pasti sudah langsung bangun dan melahap habis bibir yang menggemaskan itu.
"Iya. Iya sayang.. Kamu paling jago pokoknya di atas ranjang."
Tiara mencebik. "Emang kamu pernah nyoba sama siapa aja sampai bilang aku paling jago."
"Eh? mana ada. Cuma sama kamu lah yank." Alvaro bingung sendiri. Kenapa istrinya sensitif begini. Apa yang dia ucapkan seakan serba salah untuk istrinya.
"Awas aja kalau ada yang lain!" tatapan tajam Tiara berikan kepada sang suami.
"Tuh dek.. Lihat mama-mu galak banget sama papa." adu Alvaro kepada calon anak mereka dengan wajah memelas.
"Abis kamu tuh nyebelin!" serunya.
Keheningan mengambil alih. Alvaro masih menempelkan wajahnya pada perut sang istri. Mengganti waktu ketiadaannya selama beberapa hari kebelakang. Waktu dimana seharusnya dia menemani istrinya yang sedang hamil muda. Memani istrinya yang tidak enak badan karena mengandung anaknya. Waktu dimana seharusnya di hadir dengan membawa kasih sayang, bukan malah membawa kesedihan untuk istri dan anaknya.
Alvaro menarik napas berat. Merasa bersalah dengan semua yang sudah ia lakukan. Hampir saja dia kehilangan anak serta istrinya. Jika saja dia telat menyadari kesalahannya, pasti kini istrinya sudah pergi menjauh membawa anaknya pergi dari hidupnya.
Jika sampai itu terjadi. Penyesalan seumur hidup tidak akan pernah cukup untuk menghukum dirinya.
"Maafin aku ya yank. Aku udah nyakitin kamu. Jahatin kamu. Bikin kamu sedih. Bikin kamu terluka." dapat Tiara tangkap ketulusan dalam permohonan suaminya ini.
"Seperti apa yang daddy katakan tadi Al. Aku tau posisimu. Dan aku juga gak dendam kok. Meskipun tetep aja menyakitkan." tangannya tak berhenti membelai rambut suaminya. Melabuhkan kecupan-kecupan ringan di sana.
__ADS_1
"Maaf yank.. Maaf untuk itu." Alvaro menoleh, menatap mata istrinya. "Kemarin aku bener-bener jadi lelaki bodoh yang hampir saja melepas kamu. Hanya karena berpikir kamu akan lebih bahagia jika bukan di samping cowok cacat kaya aku. Kamu bisa dapetin segalanya jika kamu bisa menikah lagi dengan laki-laki lain."
Tiara diam. Membiarkan sang suami mengungkapkan seluruh istri hatinya.
"Aku lagi berada di titik terendah hidupku Ra. Dimana aku udah gak percaya diri untuk berdiri di hadapan siapapun. Dan jika aku mempertahankan kamu, itu hanya akan membawa kamu dalam kesusahan. Dan aku gak mau itu terjadi."
"Tapi aku gak sadar. Jika kamu bisa saja memberikan semangat untuk aku kembali sembuh. Kembali bisa berjalan untuk bisa kembali pantas di sisi kamu lagi."
Tiara tersenyum. Baginya yang sudah berlalu biarlah berlalu. Bisa kembali bersama dengan suaminya seperti ini saja Tiara sudah bahagia. Mengubur kesalah pahaman yang terjadi kemarin sebagai pelajaran.
"Karena sekarang kamu sudah sadar, jangan lagi nyuruh aku buat menjauh. Oke?"
Tiara membantu suaminya yang akan beranjak duduk. Alvaro ikut duduk bersandar di samping istrinya. Memeluk bahu sang istri dan menyandarkan kepala Tiara di bahunya. Mengusap rambut istrinya lembut. Sebelah tangan lagi mengusap perut dimana anaknya perada.
"Gak akan pernah. Sekarang, sekalipun kamu yang ingin menjauh sendiri. Aku gak akan pernah ngelepasin kamu dan anak kita."
Tiara mengangguk dan mengeratkan pelukan di pinggang suaminya. Mendongak untuk menatap mata yang ia rindukan sorot hangatnya. Membalas senyum sang suami. Dan entah siapa yang memulai, kini bibir keduanya saling menyatu. Bertukar saliva menghanyutkan rasa rindu setelah berpisah.
"Kamu gak kangen yank?" tanya Alvaro dengan napas yang masih memburu setelah melepaskan ciuman dan mendekap istri dalam dada.
"Bukan itu.."
Tiara mendongak. "Terus apa..?"
"Kangen sama kewajiban aku sebagai suami di atas ranjang." bisik Alvaro di telinga istrinya. Membuat tengkuk Tiara meremang merasakan napas panas suaminya di sana.
"Kata kamu, kamu gak bisa kasih nafkah batin buat aku." cicit Tiara malu-malu. Sebagai seorang wanita yang bersuami, tentu saja Tiara juga merindukan kegitan malam mereka. Apa lagi hamil membuat hormonnya bertambah. Tapi Tiara tidak ingin egois, disaat kondisi suaminya seperti ini, Tiara tidak akan meminta hal itu. Dia masih bisa menahannya hingga Alvaro sembuh suatu hari nanti.
Alvaro terkekeh melihat wajah malu istrinya. Ia mengerti jika istrinya sebenarnya juga ingin. "Sebenernya aku bisa sih yank. Aku kan gak lumpuh total."
Tiara kembali mendongak dan mengerjapkan matanya berulang-ulang. "Tapi kata kamu.." Tiara ingat saat Alvaro mengatakan dia tidak bisa menafkahi lahir dan batin.
"Maksud aku, kaki aku kan gak bisa di gerakin. Jadi aku gak bisa ngelakuinnya seperti biasa." Tiara semakin tidak mengerti.
__ADS_1
Alvaro kembali mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya. Berbisik dengan nada sensasional. "Kecuali kalo kamu yang di atas, kita masih bisa melakukannya."
Tiara melotot dan membuka mulutnya lebar. Hingga beberapa detik kemudian calon ibu itu memekik. "Iiihh Alvaro!!" cubitan bertubi-tubi bersarang di perut suaminya.
Alvaro tergelak dan memohon ampun. Perang gelitik pun terjadi. Tawa mereka mengisi setiap sudut kamar. Mengisi keheningan yang memilukan yang Tiara jalani beberapa hari kemarin. Mengganti dengan gelak tawa dengan rasa bahagia yang membuncah.
Setelah hadir calon anak dalam rahimnya. Suaminya juga kembali kedalam pelukannya. Siapa yang tidak bahagia jika di posisi Tiara saat ini.
Keduanya sudah berbaring dan saling memeluk. Hingga Alvaro kembali memohon.
"Emang kamu beneran gak mau yank? padahal aku pengen."
"Aku maluuuu..."
"Buat apa malu. Kan sama suami kamu sendiri. Apa bedanya kan di atas atau di bawah? hanya sampai aku sembuh." janji Alvaro.
"Gak mau Al. Aku gak seliar itu. Lagi pula aku gak bisa." kekeh tidak ingin menuruti keinginan suaminya kali ini.
"Dosa Ra.. Nolak suami."
Tiara menghela dan mengalah. Jika sudah bawa dosa. Dia bisa apa?
Dengan berbekal video yang mereka dapat, Tiara melayani sang suami seperti apa yang mereka pelajari bersama. Setelah lama tidak melakukan, akhirnya mereka bisa kembali sama-sama merasakan kenikmatan dalam hubungan halal mereka. Melebur menjadi satu dalam penyatuan yang membawa keduanya melayang. Meraih pelepasan yang akan membuat tubuh keduanya lebih rileks dari segala beban yang ada.
*
Mama Tiara siap untuk papa Al malam ini.
*
*
__ADS_1
*
Maaf ya.. Semalem ga up. Abis like-nya masih dikit hihihi. Lop lop buat semua 💕