
Pagi hari rumah Tiara sudah di sibukkan dengan aktifitas dadakan orang-orang yang menghias ruang tamu dan keluarga untuk acara dadakan yang baru di tentukan semalam. Untung acaranya nanti sore, sehingga mommy Shevi bisa menyiapkan semuanya secara sempurnya.
Setidaknya karena belum bisa mengadakan pesta untuk pernikahan anaknya ini, mommy Shevi ingin ijab kabul yang sempurna, agar ada sedikit saja kenangan manis yang bisa anak dan menantunya kenang.
Semua pegawai di kediaman Shandika dan Mahesa juga di datangkan untuk membantu. Para kakek dan nenek di buat syok dengan kabar cucu mereka yang akan menikah. Mereka sempat mengira Tiara hamil duluan makanya di nikahkan padahal masih sekolah. Tapi setelah daddy Alvin menjelaskan, semua orang tua setuju dan ikut membantu acara.
"Wahhh ponakan lucknut lo! Om aja masih jomblo, lo udah mau nikah aja!" gerutu Rasya saat pagi tadi di adakan rapat keluarga dadakan. "Lagian gue ajarinnya buat ngelawan Alvaro, bukan nikahin!"
"Kalau Om jomblo, jangan salahin Ara dong! Om aja yang gak laku! kasian si kembar gak dikasih-kasih mama." Tiara tergelak.
Orang tua hanya menggelengkan kepalanya, karena begitulah Tiara dan Rasya jika sudah bertemu, selalu saja ribut dan saling ejek. Tapi sebenarnya saling menyayangi.
Setelah kehebohan orang tua, tinggal kehebohan aunty Nurin.
"Aaahh dasar kalian keluarga kurang ajar! bisanya bikin orang jantungan! dulu emaknya hamil! sekarang anaknya nikah!" omel aunty Nurin yang membawa kebaya untuk acara nanti sore. Untung ada kebaya yang ukurannya pas di badan Tiara.
"Waaahh emang kecantikan aunty nurun ke kamu sih.." puji aunty Nurin saat melihat Tiara dengan balutan kebaya modern yang ia bawa.
"Ara kan anak mommy.. Masa cantiknya mirip aunty."
"Hei. aunty juga cantik ya!" protes aunty Nurin.
"Iya iya. Aunty memang cantik, dan aunty yang terbaik. Makasih aunty bajunya." Tiara memeluk tubuh sahabat mommy-nya yang sudah ia anggap ibu sendiri.
"Ya ampun, kenapa kamu cepet banget gede sih Ra? aunty sedih tau gak denger kamu mau nikah?" membalas pelukan Tiara dan mengusap punggung gadis itu lembut.
"aunty gak ingin, Leona tumbuh secepat kamu. Aunty ingin mendekap Leona lebih lama lagi." lirih aunty Nurin yang sudah mulai neneteskan bulir bening di kedua sudut matanya.
"Ara juga masih mau di dekap lebih lama lagi sama mommy.." tangis gadis itu, membuat mommy Shevi yang baru masuk kamar kaget.
"Lo apain anak gue Rin? kok nangis gini?"
"Ck. lo tuh, ngerusak suasana haru aja!" protes aunty Nurin. "Jangan kasih tau mommy kamu, biar ini jadi rahasia kita."
__ADS_1
Sebenarnya bukan itu alasan aunty Nurin tidak ingin Tiara membahas yang mereka bahas tadi. Aunty Nurin hanya tidak ingin membuat mommy Shevi sedih. Sebagai sesama ibu, aunty Nurin tahu jelas bagaimana perasaan mommy Shevi saat ini.
Pricilla masih berada di rumah Tiara. Melihat semua adegan yang terjadi dalam keluarga itu. Tiara juga menceritakan semua yang terjadi semalam, hingga membuat sore nanti sahabatnya itu harus menikah dengan pemuda yang selama ini di anggapnya musuh.
"Inget Ra. Jangan bikin adek bayi dulu. Nanti aja kalo kalian udah lulus sekolah! kalo udah kuliah gak papa kamu hamil, tapi kalo sekolah malu Ra." nasihat aunty Nurin membuat Tiara malu sendiri mendengarnya. Sedangkan Pricilla sudah cekikikan.
"Aunty apaan sih? kita belum mikir sampe kesitu ya!" protes Tiara yang sudah salah tingkah.
"Sekarang kamu bisa ngomong kaya gitu. Tapi nanti kalo kalian udah tidur satu ranjang bareng, godaannya banyak" aunty Nurin mengulum bibirnya agar tidak meledakkan tawa melihat anak sahabatnya yang wajahnya bersemu merah.
Memang tidak mommy, tidak aunty Nurin sama-sama suka menggoda Tiara sejak dulu.
***
Kehebohan bukan hanya terjadi di rumah Tiara. Di kediaman Alvaro juga kesibukan terjadi.
Orang tua Alvaro juga mengumpulkan semua saudara dekat untuk rapat dadakan dan membeli semua keperluan untuk besanan nanti sore.
Membelikan semua seserahan terbaik untuk calon mantunya. Walaupun ini bukan pernikahan yang di inginkan, tapi ayah Alvaro menyiapkan segalanya seperti pernikahan pada umumnya. Tidak di persiapkan bukan berarti asal-asalan dan tidak bisa memberikan yang terbaik bukan?
"Alvaro, kamu tanya ukuran jari calon menantu ayah. Biar orang perhiasan kirim cincinnya kerumah, nanti kamu yang milih." titah sang paduka raja pada putra mahkotanya.
Masuk kamar dan mengambil ponsel, untuk pertama kalinya setelah mengenal Tiara selama sebelas tahun, baru kali ini pemuda itu menghubungi Tiara.
Alvaro : ukuran cincin lo berapa?
menunggu beberapa saat baru calon istrinya itu menjawab.
Tiara : size 10. Cari yang bagus! Jangan karena nikah dadakan terus lo beliin yang jelek buat gue!
Alvaro mendengus dan langsung mengetikkan balasan.
Alvaro : bawel lo! dandan aja yang cantik ntar sore. Gue gak mau punya istri jelek!
__ADS_1
Alvaro yakin, pasti Tiara saat ini sedang keluar tanduk menahan geram padanya.
Tiara : gue udah cantik dari lahir! kayaknya lo deh yang perlu luluran dulu. Biar gak dekil di foto pernikahan kita.
Ya ampun, jantung Alvaro berulah saat membaca kata pernikahan kita. Benarkan nanti sore mereka akan menikah? benarkan cewek yang selalu ribut dengannya di sekolah akan menjadi istrinya. Senyum tipis terukir di bibir Alvaro.
"Cieee anak ibu yang mau nikah, senyum-senyum sendiri aja nih." goda ibu Alvaro yang memasuki kamar putranya membawa setelan jas untuk acara nanti sore.
"Dicoba dulu bajunya bang. Biar nanti bisa di kecilin kalau kegedean." Alvaro tiga bersaudara, adik dan kakaknya perempuan. Makanya ayah menaruh harapan besar di pundak putra satu-satunya dalam keluarga itu.
"Ibu ngeridhoin pernikahan Al kan bu?" tanya Alvaro saat ibunya duduk di sebelahnya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengusap rambut anaknya. "Kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya ibu Alvaro yang di jawab anggukan cepat dari anaknya.
"Kalau kamu bahagia, ibu meridhoi bang." Alvaro tersenyum mendengarnya.
"Jadi ini gadis yang membuat putra kesayangan ibu jadi gak pernah senyum lagi semenjak SMP? gadis yang membuat senyum anak ibu menghilang setelah di jodohkan dengan Aulia?" ibu tahu anaknya menyukai seorang gadis, walau selama ini Alvaro menurut dan tidak pernah protes tentang perjodohannya. Mengerti tanggung jawabnya sebagai anak laki-laki penerus keluarga.
Alvaro di jodohkan dengan anak rekan bisnis ayahnya. Gadis manis dengan kulit sawo matang khas orang jawa. Gadis yang membuat Alvaro harus memusuhi Tiara, agar perasaan Alvaro pada gadis itu bisa berubah menjadi benci.
Tapi bukannya benci. Perasaannya malah kian membesar dan mengikuti Tiara untuk sekolah di satu sekolah yang sama lagi. Hanya bisa menahan perasaannya tanpa berani mengungkapkan, demi ayahnya, demi perjodohannya.
Tapi kini, tanpa perlu mengungkapkan isi hatinya, dia bisa memiliki Tiara. Dan akan menjaga agar gadis itu bisa berada di sisinya hingga ia menua dan ajal menjemput.
*
*
*
Jadi gitu gaes, alasan kenapa Alvaro seneng banget ngajak ribut Tiara. Dia cuma lagi nutupin perasaannya yang sebenarnya 🙊
Ini udah up 2" ya.. Jadi yang kenceng dong like'nya biar makin semangat 💕
__ADS_1