
Sampai larut malam Shevi masih belum bisa memejamkan matanya. Sedangkan Alvin disebelahnya sudah tertidur nyenyak. Beberapa kali Shevi mencubit hidung suaminya dan tertawa - tawa saat Alvin merasa terganggu.
" Masss aku gak bisa tidur.. " Rengeknya kepada Alvin. Tapi suaminya malah balik badan memunggunginya dan semakin terlelap.
Sebenarnya Shevi tidak bisa tidur karena memikirkan Tiara. Khawatir jika anaknya itu akan benar - benar takut kembali kesekolah. Shevi tidak ingin terjaga sendiri. Akan tetapi sepertinya Alvin sangat lelah sehingga tidak merasa terganggu walaupun sudah dia jahili sejak tadi.
Shevi menghela napas dan berdiri untuk memutari ranjang dan merebahkan dirinya di samping Alvin. Setidaknya walaupun tidak ditemani terjaga, dia bisa menatap wajah suaminya.
" Kamu kenapa ? Gak bisa tidur ?? " Tanya Alvin dengan suara serak saat guncangan tubuh Shevi mengusiknya.
" Iyaaa " Jawabnya manja. Alvin tersenyum, mengecup dahi dan bibir sang istri lalu kemudian memeluknya dengan erat sembari ditepuk - tepuk pelan punggungnya.
" Udah sekarang pejamin mata kamu.. Aku temenin sampe kamu tidur. " Shevi tersenyum dan menurut untuk memejamkan matanya. Ternyata pelukan nyaman suaminya dapat mengantarkan dirinya tidur dengan nyenyak.
Bahkan hingga pagi hari yang biasanya dia bangun pagi untuk menyiapkan segala keperluan suaminya dari mulai air untuk mandi sampai baju pun dia masih nyenyak tidur di dalam dekapan suaminya.
" Kamu gak mau bangun ?? Ini udah siang lho.. " Ciuman di pipi beberapa kali Alvin berikan hingga istrinya membuka matanya perlahan mengahalau cahaya kamar yang sudah benderang.
" Aku kesiangan ya mas.. ?? Kepalaku pusing banget. Mas siapin semuanya sendiri ya hari ini ?? " Mungkin karena semalam Shevi baru bisa tidur menjelang subuh sehingga kepalanya terasa sangat berat. Badannya juga terasa lemas.
" Kamu sakit ?? " Dahi, pipi dan leher Alvin cek semua dan rasanya istrinya itu tidak demam.
" Tapi gak panas kok yank ?? Apa perlu aku telfonin Nay suruh periksa kamu ?? " Tanya Alvin dengan khawatir jika istrinya kenapa - kenapa.
" Aku gak papa kok mas.. Aku cuma kurang tidur aja. Aku mau tidur lagi aja. Nanti juga baikan. " Shevi memejamkan matanya erat. Menahan rasa sakit yang serasa menusuk - nusuk kepalanya.
" Kamu yakin. Tapi muka kamu pucet gitu lho yank ?? " Alvin masih tidak tenang jika tidak memastikan dokter sendiri yang bilang jika istrinya itu baik - baik saja.
__ADS_1
" Iya. Udah sana mas mandi nanti kesiangan. Semalam mas bilang ada meeting kan pagi ini. " Sebenarnya Alvin berat meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini. Tapi rapat hari ini penting dan tidak bisa untuk di wakilkan.
" Ya sudah aku mandi dulu. Kamu tidur aja, nanti biar aku suruh bibi untuk antar sarapan kamu ke kamar." Shevi mengangguk lemah.
Beberapa menit kemudian Alvin keluar dari ruang ganti sudah dalam keadaan wangi dan rapi. Diliriknya jam dipergelangan tangannya sudah sangat siang dan dirinya tidak punya waktu untuk sarapan. Alvin mendekat ke ranjang dan duduk disebelah istrinya yang masih terpejam.
" Aku berangkat dulu sayang.. Nanti kalau ada apa - apa jangan lupa kamu telfon aku !! " Mengusap kepada sang istri dan memberikan ciuman.
" Peluk dulu mas.. " Shevi membuka matanya yang sudah berkaca - kaca. Entah kenapa rasanya sedih sekali akan ditinggal kerja suaminya. Padahal setiap hari juga seperti ini.
" Kenapa menangis.. Sini aku peluk. " Membantu Shevi untuk duduk dan memeluknya erat. " Kenapa jadi cengeng, bahkan Tiara aja gak manja kaya kamu. " Mengecup kepala istrinya sambil terkekeh.
Shevi tidak perduli dengan ledekan Alvin. Dia hanya ingin memeluk suaminya lebih lama.
" Hari ini gak usah kerja. Gak usah kemana - mana. Mengerti !! "
" Gak usah lah.. Kamu di rumah aja. Biar nanti aku aja yang ke sekolah Tiara. "
" Jangan !! " Teriak Shevi panik dan langsung melepaskan pelukannya. Alvin menatap bingung istrinya. Kenapa sampai berteriak seperti itu ?
" Maksud aku nanti mas malu, disana tuh ibu - ibu semua yang dateng. Lagian aku gak suka, pasti nanti ibu - ibunya pada genit liat mas. " Alvin tersenyum melihat istrinya cemberut hanya karena tak ingin dirinya dilirik ibu - ibu.
" Tapi kalau kamu masih pusing gak usah berangkat. Biar nanti suruh gurunya kirim hasil pertemuannya lewat email aja. " Shevi mengangguk pasrah. Sebenarnya bukan pertemuan banyak wali murid. Lebih tepatnya pertemuan dengan ibu yang memarahi anaknya. Makanya Shevi melarang Alvin untuk berangkat.
" Ya udah aku berangkat. " Ciuman yang cukup panjang mereka lakukan untuk menambah semangat Alvin bekerja.
" Pulangnya jangan kemaleman ya mas.. " Masih merengek manja.
__ADS_1
" Kenapa emang ? "
" Nanti aku kangen.. " Alvin terkekeh. Kenapa pula istrinya pagi ini begitu menggemaskan.
" Iya iya.. " Kecupan terahir di dahi sebelum berlalu meninggalkan Shevi yang kembali berbaring karena kepalanya masih terasa pusing.
***
Siang hari selepas makan siang kondisi Shevi sudah lebih baik. Sehingga dia bisa kesekolah Tiara untuk bertemu wali murid yang membuat anaknya menangis.
Dengan di antar sopir Shevi sampai disekolah menjelang jam anak - anak pulang sekolah.
Salah satu guru menyambutnya ramah dan langsung mengantarkannya ke ruang kepala sekolah yang disana sudah ada kepala sekolah juga seorang ibu dengan dandanan glamour ala sosialita yang Shevi yakin itu adalah ibu yang menghina anaknya.
" Selamat siang. Saya Shevi ibu dari Tiara. " Shevi memperkenalkan diri dan menjabat tangan kepala sekolah serta ibu yang entah dia belum ketahui namanya.
Ibu itu tersenyum mengejek melihat panampilan Shevi yang masih seperti anak muda.
" Jadi kamu ibunya Tiara. Pantas saja masih muda anaknya sudah sebesar itu. " Shevi menarik napas panjang dan menghembuskannya menahan emosi. Baru juga ketemu udah ngajak ribut !! Gak ada sopan - sopannya banget sih ini ibu !!
" Iya saya ibunya Tiara. Dan saya datang ke mari bukan untuk ribut dengan ibu. Saya hanya tidak suka dengan sikap ibu kepada anak saya. Dan saya juga menyayangkan pihak sekolah yang membiarkan hal itu terjadi. Asal ibu tahu, anak saya sampai trauma untuk masuk sekolah kembali. Dia menangis seharian karena takut dengan ibu. Kalau mental anak saya terganggu apa ibu mau bertanggung jawab ??!! " Seru Shevi dengan menahan gejolak amarahnya. Kalau saja dia disini bukan sebagaj orang tua. Pasti sudaj iya jambak itu ibu - ibu. Sayangnya dia disini membawa nama baik keluarga sekaligus dia ingin membuktikan bahwa Tiara terlahir dari keluarga beradab.
" Untuk apa bertanggung jawab. Memang dia gak pantes kok masuk sekolah ini. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saya gak mau anak kamu membawa pengaruh buruk terhadap anak - anak kami disini. Saya mewakili wali murid yang lain. Karena anak yang terlahir dari orang tua yang tak bermoral. Akan tumbuh menjadi manusia tak bermoral juga. Kata - kata saya yang mana yang salah. Bukankah Tiara lahir tanpa ikatan pernikahan. Kalian baru menikah kan ?? Jadi saya tidak salah jika menyebut anakmu itu anak haram. "
*
*
__ADS_1
*