DEMI DIA

DEMI DIA
Ekstra Part 1


__ADS_3

Sudah berapa lama Tiara tidak menginjakan kakinya lagi di kota tempatnya tumbuh saat balita dulu. Ia sendiri saja sudah lupa. Yang berarti sudah sangat lama sekali ia tak pernah ke sana.


Saat kecil dulu, ketika Reina dan Raka sudah sekolah di bangku kanak-kanak. Mommy sering mengajak mereka ikut ke New York jika mommy Shevi ada pekerjaan di tempat wanita itu meniti karirnya.


Tapi setelah Tiara menginjak bangku menengah pertama, ia lebih memilih menginap di rumah nenna-nya dari pada ikut mommy-nya yang bekerja.


Bukan apa-apa. Ia hanya bosan menunggu mommy Shevi yang sibuk, sedangkan ia dan adik-adiknya hanya berdiam diri di apartemen. Mereka baru akan pergi jalan-jalan ketika semua pekerjaan mommy di sana sudah selesai. Dan lebih sering di temani uncle Ray malah.


Aah iya. Tiara ingat, ia terakhir kali ke kota ini saat uncle yang sudah seperti ayahnya sendiri itu menikah. Mungkin sekitar lebih dari sepuluh tahun lalu.


Kini di usia pernikahannya yang ke 10, Alvaro mengajaknya dan anak-anak untuk berlibur di kota masa kecilnya dulu. Rencana yang sudah bertahun-tahun tertunda karena lain dan banyak hal.


Kini ia sudah resmi menyandang sebagai dokter spesialis anak dan sudah memiliki klinik sendiri meski tidak besar. Perusahaan rintisan sang suami juga sudah menjadi perusahaan besar. Usaha keras yang tak sia-sia. Lelakinya itu memang pejuang hebat yang tak di ragukan lagi.


Anak-anak?


Aah.. Mereka kini sudah tumbuh besar menjadi pria kecil berusia delapan tahun. Usia yang sedang mencari tahu mana yang baik dan mana yang salah.


Anak-anaknya kini lebih senang bermain dengan teman-temannya. Kadang Tiara rindu jerit dan gelak tawa anak-anak di dalam rumah seperti saat mereka kecil dulu.


Uncle Ray sudah menunggu di bandara saat ia menjejakan kakinya di kota penuh kenangan yang sedikit banyak sudah tidak dapat ia ingat lagi.


Bau musim semi yang dulu selalu ia sambut dengan antusias mulai tercium saat ia keluar dari pesawat menuju terminal kedatangan dimana ayah angkatnya sudah menunggu.


"Kita berapa hari disini, mah?" tanya Vindra sembari menyalakan smartphone miliknya yang sebelumnya dimatikan. Anak itu masih sama seperti ketika bayi dulu. Lebih pendiam di banding abangnya.


"Tidak lebih dari seminggu. Kalian ingat kan, Om Dika mau menikah?" kedua putranya mengangguk bersamaan.


Wajah yang begitu serupa itu semakin besar semakin mirip pria yang kini tengah menggenggam tangannya. Tidak ada yang berubah dari suaminya. Bahkan semakin hari prianya itu semakin terlihat menyayanginya.


Sesekali Alvaro mencium punggung tangannya ketika anak-anak tidak melihat. Juga kecupan di dahi atau pipi.

__ADS_1


Ia bahkan sampai geleng kepala melihatnya. Bisa-bisa orang yang melihat mereka mengira mereka adalah pengantin baru.


"Malu pah.." bisik Tiara ketika suaminya kembali mencium pipinya.


"Malu sama siapa? mereka gak kenal kita." jawaban acuh suaminya kembali membuat Tiara berdecak.


***


Tiara memeluk tubuh pria paruh baya yang menyambutnya di bandara. Meski ia tak pernah datang ke New York. Bukan berarti mereka tidak pernah bertemu.


Hubungan mereka masih terjalin baik karena Uncle Ray sering datang ke Jakarta saat anak-anaknya berlibur.


Uncle Ray sudah memiliki dua anak. Anak pertama laki-laki, dua tahun lebih tua dari anak kembarnya. Anak keduanya perempuan yang hanya lahir beberapa bulan setelah si kembar.


Dan ke tiga pria kecil itu sudah berteman baik. Bahkan Vindra dan Fari sudah berencana untuk menginap di rumah Alex-anak uncle Ray- selama mereka tinggal di New York.


"Apa kau baru ingat jalan pulang, little?" goda uncle Ray setelah pelukannya terlepas.


Jangan tanyakan pria kecil mereka. Karena mereka sudah lebih dulu menuju mobil bersama dengan Alex.


"Apa kau menjaga little princess ku ini dengan baik, anak muda?" uncle Ray ganti menepuk bahu Alvaro.


"Tidak ada yang sebaik aku dalam menjaganya." seloroh Alvaro yang di sambut gelak uncle Ray.


"Sudah. Lebih baik kita cepat pulang, sebelum putri kecilku ini semakin menekuk wajahnya. Bisa-bisa aku dimarahi Juli nanti."


Juli adalah istri Ray yang juga sudah menganggap Tiara seperti anaknya sendiri.


Tiara dan Alvaro akan menginap di apartemen milik mommy Shevi. Tapi Juli meminta mereka untuk lebih dulu mampir dan makan di sana. Wanita itu akan memasakan makanan terlezat yang pernah ia buat katanya.


Tentu saja Tiara tidak tega menolak permintaan ibu angkatnya itu. Apa lagi ia tak pernah datang berkunjung.

__ADS_1


"Ooh sayang.. Kenapa kau baru mengunjungi mommy-mu ini, hum?"


"Maaf mom.. Kau tau sendiri aku baru ada waktu sekarang." ucap Tiara dalam pelukan yang tak kalah hangat milik Juli.


"Ya. Ya. Kau adalah wanita muda yang paling sibuk yang aku kenal." sindir Juli dengan wajah yang di buat pura-pura merajuk.


"Ooh mom.. Kau bisa datang berkunjung lagi ke Jakarta, jika kau rindu." rayu Tiara yang memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang seusia ibunya.


"Lihatlah, Ray. Apakah putri kita ini sopan, menyuruh kita yang orang tua untuk berkunjung sedangkan wanita muda ini tak pernah mengingat kita?"


Uncle Ray yang tengah mengobrol dengan Alvaro di ruang keluarga di temani kopi dan biskuit hanya tergelak dan menggeleng.


"Astaga mom. Kata-katamu melukaiku." protes Tiara yang langsung melepas pelukannya. "Aku selalu mengingatmu dan uncle. Jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah memberimu kabar seperti selama ini." sangkal Tiara.


"Aku percaya sayang.. Lebih baik kita cepat menyiapkan makan siang sebelum para lelaki itu berteriak kelaparan."


Tiara terkekeh dan mengikuti langkah Juli menuju dapur. Menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah Juli masak ke atas meja.


Ada sup krim yang berisi kerang dengan kuah merah yang sering di sebut calm chowder dari Manhattan. Karena biasanya sup krim itu berwarna putih. Hanya di Manhattan lah sup krimnya berwarna merah.


Dan ada juga nasi dengan ayam general tso. Ayam yang di buat dengan kecap asin dan saus pekat di tambah taburan cabai. Mungkin karena Juli tahu orang Indonesia seperti tidak makan jika tidak bertemu nasi.


Tak ketinggalan sandwich tuna dan kalkun kesukaannya saat kecil dulu. Dimana ia hanya gadis kecil tanpa ayah yang harus terus ceria demi mommy-nya.


Ada juga pasta yang di sukai anak-anaknya. Tak lupa cheesecake sebagai hidangan penutup.


Tiara bersyukur selalu di kelilingi orang-orang baik. Seperti keluarga Uncle Ray yang sudah seperti keluarganya sendiri.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2