
Meski separuh hatinya sedih meninggalkan satu anaknya di rumah sakit. Tapi melihat keantusiasan dan kebahagiaan orang-orang yang di sayangnya menyambut di rumah, sedikit mengobati hatinya. Sedikit membawa kebahagiaan untuknya.
Senyum terkembang di wajah cantik Tiara. Yang setelah melahirkan semakin terlihat bercahaya.
Di sana ada Pricilla dengan memakai piyama dan topi seperti bayi besar. Begitu juga dengan Reina dan Raka yang mau maunya di dandani seperti bayi besar seperti itu oleh sahabatnya.
Karena ide gila seperti ini pasti hadir dari otak gesrek Pricilla.
"Tiaraa... selamat.. gue seneng banget denger lo udah lahiran.. jadi mommy sekarang yee.." Pricilla langsung memeluk sahabatnya beberapa saat sebelum beralih menciumi abang dalam gendongan ibu.
"Hahaha.. lo apain ade gue dah.." Tiara langsung tertawa setelah mengamati wajah cemberut Raka yang di mulutnya terselip dot. Astaga.. adik cool-nya pasti sangat dongkol dan tersiksa mengikuti acara gila ini.
Pricilla merangkul dan bersandar pada bahu Raka. "Om ganteng ini mau menyambut keponakan tersayang.. Iya kan Om Raka..?"
Raka melirik tajam pada Pricilla. "Kalo aku gak sayang kakak. Aku juga gak mau dandan begini."
Pricilla memaksa Raka dengan alsan Tiara sedang sedih karena tidak bisa membawa salah satu anaknya pulang. Jadi mereka harus berdandan seheboh mungkin demi menghibur kakak tersayang mereka.
Jadi mau tidak mau Raka menurut saat di dandani oleh sahabat kakaknya ini. Semua demi kakak yang sudah banyak menangis di awal kehamilan. Dan melihat betapa susahnya Tiara saat hamil membuat ia membayangkan mommy saat mengandungnya dan Reina.
Demi kakaknya tersenyum, ia rela berdandan konyol seperti ini. Dan usaha mereka berhasil. Karena Tiara memang terhibur.
Tiara langsung memeluk adik laki-lakinya. "Makasih Om Raka.. Kakak terharu. Ternyata abang sweet juga."
Meski Raka bukan anak yang suka di peluk. Kali ini pengecualian untuk kakaknya.
"Gimana ade?" tanya Raka dengan datar. Padahal sebenarnya sangat peduli.
Tiara saja tidak tahu, sifat adiknya yang satu ini menurun dari siapa. Bahkan daddy Alvin tidak sedingin dan sedatar Raka.
"Doain ya.. biar keponakan kamu yang satu itu kuat untuk bertahan. Dan mampu berjuang untuk sehat."
Raka mengangguk dan kembali memeluk kakaknya untuk menguatkan.
"Kenapa cuma abang yang di peluk? ade enggak?" dan seperti biasa. Si princess protes karena merasa di bedakan.
"Ooh.. sini sini.. ade kakak yang cantik.. Makasih ya udah mau menyambut abang di rumah."
__ADS_1
Reina mengangguk dan langsung melayangkan protes yang lain. "Kenapa harus di panggil abang sama ade juga? kan abang itu milik abang Raka. Ade itu milik Reina."
"Ooh iya ya.. Abang Al yang manggil begitu. Jadi kaka ikut aja."
"Kan sekarang Raka sudah jadi uncle. Reina sudah jadi Aunty.." sahut Alvaro.
"Tetap saja.. nanti bingung tau bang. Namanya siapa sih?"
Mereka pindah ke ruang tengah agar Tiara bisa duduk dan menyusui abang yang mulai merengek.
Mereka membicarakan acara aqiqah yang rencananya akan di adakan di hari ketujuh anak-anak sekaligus memberi mereka nama.
Semua acara di hendle oleh ibu dan mommy. Karena mereka yang paling tahu dan lebih berpengalaman.
"Karena ade masih ada di rumah sakit. Kita adakan pengajian saja di rumah. Sekalian mendoakan ade supaya bisa cepat bergabung dengan kita."
Tiara dan Alvaro setuju saja. Mengundang ibu-ibu pengajian sekitar. Mengundang anak yatim dan pemuka agama.
"Paling di tambah teman dekat saja, untuk ikut mendoakan." tambah mommy Shevi yang memang sudah mengundang sahabat rempongnya.
Wanita yang saat tahu anaknya hamil belum siap menjadi nenek. Kini malah ingin memamerkan cucu pada sahabat-sahabatnya.
Tiara menatap suaminya. Karena memang mereka belum sempat membicarakan maslah nama.
"Untuk abang, aku mau kasih nama Kaisar Arkatama Ghaffari. Yang artinya permata yang menerangi dan menyayangi keluarga. Kalau Kaisar ambil dari namaku." ucap Alvaro sembari menatap anaknya yang sedang fokus untuk mengambil nutrisi dari ibunya.
"Kalau ade?" tanya Tiara.
"Kaisar Alsaki Ravindra. Laki-laki tampan murah hati, dan sekuat matahari. Berharap ade bisa kuat dan berjuang untuk sehat." ucapnya menerawang membayangkan anak dalam inkubator. "Kamu setuju gak?" tanya Alvaro pada istrinya.
Tiara mengangguk. "Bagus. Aku suka. Di panggilnya Fari sama Vindra."
"Hai baby Fari.." sapa Reina pada bayi kecil yang menggemaskan. "Ade boleh gendong gak mom?"
"Jangan. Nanti badan adik bayinya sakit." salak Raka langsung. Anak itu memang selalu tahu yang terbaik.
Reina berdecak. "Apa sih. orang aku nanya sama mommy wleee.."
__ADS_1
"Nanti kalau Tama sudah bisa duduk, Reina boleh gendong." Tiara menengahi adiknya yang tidak pernah akur meski saling menyayangi.
Setelah Fari tidur, Tiara membawanya masuk kedalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur mereka. Pricilla mengikuti di belakang.
Sedangkan Alvaro mengantar ibu untuk pulang. Karena di rasa sudah banyak yang menjaga Fari di rumah itu.
Lagi pula ibu sudah tidur di rumah sakit dari Tiara operasi sampai pulang. Jadi ibu memang butuh istirahat.
Pricilla banyak cerita tentang kesibukannya dengan kuliah di smester tiga ini. Menceritakan kepusingannya dengan segala macam tugas dan praktek. Membuat Tiara jadi merindukan bangku kuliah.
"Gue mau ngulang dari awal lagi nanti kalo anak-anak sudah MPASI. Biar mereka tidak terlalu bergantung dengan ASI. Meski pun sebenarnya bisa saja si di kasih ASIP."
"Kenapa gak di lanjutin aja?"
"Gue baru sempet kuliah satu smester, jadi cuti gue gak di acc kemaren. Jadinya gue DO. Untung aja Alvaro cepet semangat lagi buat kuliah. Jadi dia gak ikut DO." gumam Tiara dengan sendu. Alvaro memang langsung kuliah saat libur semester habis. Untung saja suaminya cepat sadar dan tidak terus terusan terpuruk.
"Batal koas bareng kan kita. Lo sih, segala hamil dulu." cibir Pricilla membuat Tiara yang sedang meratap kembali tertawa.
Mereka memang memiliki mimpi yang sama untuk menjadi dokter anak. Kuliah di tempat yang sama. Koas juga bersama.
Tapi kini hanya tinggal angan. Tiara tertinggal 4 semester saat nanti dirinya kembali melanjutkan kuliah. Itu pun jika tidak di repotkan dengan urusan anak.
Tapi ia dan Alvaro sudah membicarakan ini. Alvaro juga mengijinkan dirinya untuk kembali meneruskan cita-citanya.
Mommy Shevi juga dengan senang hati menawarkan diri untuk menjaga buah hati mereka.
"Selagi mommy masih muda. Masih pantes gendong anak bayi." begitu ucap mommy saat ia dan Alvaro membicarakan maslah pendidikan saat Alvaro akan kembali kuliah saat itu.
Semoga ia masih bisa kuliah tanpa mengabaikan kedua anaknya. Bisa hidup seimbang sebagai mahasiswi, sebagai ibu, mau pun sebagai istri dan anak.
"Ngomong-ngomong tadi Sheril jenguk gue bareng Dika."
Dan mengalirlah acara gibah kedua sahabat yang telah lama tak bertemu. Banyak yang mereka bicarakan. Kadang membuat mereka sama-sama tertawa. Atau cemberut dan kesal.
*
*
__ADS_1
*