
Mana ada seorang ibu yang mau kehilangan calon anaknya. Sekalipun sulit, Tiara akan tetap mempertahankan kandungannya. Apa lagi Tiara yang masih memiliki peluang besar untuk menyelamatkan kedua bayi dan dirinya sendiri.
"Kamu masih sangat belia. Bahkan belum genap 18 tahun. Mommy-mu dulu saja dengan kehamilan tanpa resiko tetap harus di operasi . Karena tubuhnya belum berkembang sempurna. Apa kamu sanggup?"
Alvaro masih bingung. Banyak orang hamil kembar dan kebanyakan selamat. Lalu apa yang berbeda dengan istrinya.
Sedangkan Tiara menggeleng. Tidak menyangka seorang dokter akan berkata demikian. Apa pun alasannya, dia akan tetap memperjuangkan anak-anaknya. Apa pun hasil akhirnya, setidaknya dia telah berusaha. Meskipun nanti ada yang gugur, dia tidak akan menyesal karena telah mempersembahkan yang terbaik.
"Tingkat kematian kembar MoMo secara umum 50 persen, kebanyakan kasusnya terbelit tali pusar. Risiko lainnya adalah Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS) atau ketidakseimbangan sirkulasi darah atau salah satu bayi akan menerima lebih banyak darah. Untuk bayi satunya akan kekurangan darah karena telah dibagi ke penerima (kembarannya) yang beresiko membuat hanya satu dari keduanya yang bisa bertahan atau menang dalam berjuang. Dan resiko lainnya adalah kelahiran prematur."
"Saya hanya menyampaikan agar kalian bisa bersiap dengan segala kemungkinan. Juga agar Alvaro bisa menjaga serta memberikan suport yang lebih untuk Tiara. Saya doakan semoga selamat semua. Saya termasuk Tim untuk penanganan hamil beresiko."
Tiara menghela napas. Mencoba mengerti maksud baik dari dokter. Dia memang harus menyiapkan diri dari sekarang. "Kita berjuang sama-sama ya anak-anak mama." ucap Tiara dalam hati. Tangannya tak henti mengusap perutnya yang masih rata. Hanya ada tonjolan yang belum begitu terasa.
"Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan kedua anak kami dok?" tanya Alvaro. Tubuhnya bergetar. Merasa khawatir dan sedih sekaligus. Bahkan kakinya yang lumpuh pun serasa ikut bergetar.
Jangan. Jangan anaknya. Anaknya harus selamat dan sehat. Tiara dan anak-anak mereka akan hidup bahagia bersamanya.
"Agar bayi kembar MoMo bisa punya ruang untuk bergerak meskipun harus berbagi kantung ketuban dengan kembarannya, sudah ada sebuah treatmen dengan obat. Obat yang berfungsi untuk menurunkan jumlah air ketuban agar si kembar memiliki ruang untuk bergerak. Itu di berikan saat kehamilan sudah di trimester terakhir. Tapi kemungkinan untuk keduanya hidup bisa 80 persen saat kehamilan lebih dari 24 minggu. Makanya kita sama-sama berusaha dan menjaga."
***
Tiara dan Alvaro keluar dari ruang pemeriksaan dengan hati sedih. Tidak semangat seperti saat datang. Tapi Alvaro berusaha untuk berskap tegar dan tidak menunjukan kesedihannya di hadapan istrinya.
Alvaro memaksa untuk mendorong kursi rodanya sendiri. "Jangan di pikirkan sayang. Kamu pasti bisa. Anak-anak kita juga pasti bisa bertahan dan berbagi." Alvaro menghentikan kursi rodanya untuk dapat menggenggam tangan sang istri.
"Kamu gak boleh stres. Atau nanti malah membahayakan kehamilan kamu." Alvaro khawatir saat istrinya masih saja menekuk wajahnya. "Stres untuk hamil satu bayi aja gak baik. Apa lagi stres di kasus kamu seperti ini."
Tiara menarik napasnya dalam. Menghembuskannya perlahan. "Kamu bener. Kalo aku melemah, anak-anak akan lebih lemah lagi."
"Gitu dong..." Alvaro tersenyum dan memeluk perut Tiara. Memberi banyak kecupan untuk kedua anaknya.
"Ayoo pulang. Mulai besok datang ke rumah sakitnya saat priksa kehamilan aja. Kan mulai besok terapis kamu yang akan datang ke rumah."
Alvaro mengangguk dan kembali mendorong kursi rodanya meninggalkan rumah sakit. Dia berjanji akan berusaha menjaga anak serta istrinya. Dan berjanji akan berusaha untuk lebih cepat sembuah agar bisa menjaga mereka dengan ekstra.
__ADS_1
Didalam lorong rumah sakit. Tiara kembali melihat Sheril. Gadis itu sedang berdebat dengan wanita yang menabrak Tiara di toilet tadi.
"Kamu lihat wanita yang bareng Sheril Al? dia katanya ibu tirinya Sheril. Tapi aku kaya pernah ketemu di mana gitu."
Alvaro ikut berhenti saat Tiara menghentikan langkah dan menatap dua wanita yang cukup jauh dari mereka yang sedang berdebat.
"Iya. Dia emang mamanya Sheril. Dulu aku juga ketemu pas nemenin Dito ngapel." Sheril memang mantan kekasih sahabat Alvaro. Itu kenapa dulu Alvaro punya bukti yang bisa membungkam mulut Sheril agar tidak mengganggu Tiara.
"Aku pernah ketemu gak Al?" Tiara malah bertanya pada Alvaro. Pemuda itu mana tahu istrinya pernah bertemu dengan ibunya Sheril atau tidak.
Sebagai jawaban, Alvaro hanya mengedikkan bahu.
"Udah ayo pulang. Nanti kamu cape Ra.. Kamu harus inget gak boleh lelah fisik maupun stres."
Tiara cemberut ketika kembali di ingatkan tentang hal itu. Padahal dia merasa sehat saja kok. Meskipun ngeri juga sih dengan kehamilannya. Dia memang harus menjaga kedua anaknya dengan ekstra.
"Ya udah ayo pulang. Tapi mampir beli makanan ya.." rayu Tiara dengan puppey eyes andalannya.
"Apa pun aku beliin."
Alvaro menepuk punggung Tiara pelan. "Gak bisa napas sayang..."
Tiara terkekeh dan kembali berjalan meninggalkan rumah sakit. "Aku harus happy. HARUS!!" tekan Tiara dalam hati.
***
Seperti orang kalap. Tiara membeli banyak makanan. Semua orang di rumah di belikan. Semua yang orang rumah sukai.
Mereka bahkan harus berpindah-pindah tempat hanya untuk membeli makanan yang kebanyakan berbeda tempat.
"Udah telfon orang rumah biar gak masak yank?"
Alvaro yang menunggu di mobil dengan Tiara melihat-lihat makanan apa saja yang di beli. Sedangkan sopir yang mengantar mereka masih mengantri untuk membeli beberapa makanan yang lain.
Tiara menepuk dahinya. "Hampir aja lupa! aku telfon dulh deh."
__ADS_1
Tiara menelpon Shevi dan menyuruh wanita itu agar tidak membuat makanan untuk makan malam. Karena dia sudah membeli banyak makanan.
Tiara dan Alvaro bahkan sudah memakan beberapa cemilan yang mereka beli.
Sampai di rumah, Shevi sampai geleng kepala saat pelayan membawa semua makanan yang anak dan menantunya beli.
"Kamu tuh beli makanan kaya buat pesta tau gak kak. Kita cuma ber-enam. Dan ini makanan udah kaya buat orang se-RT."
Tiara terkekeh dan memeluk Shevi. "Ini cucu mommy yang pengen jajan-jajan banyak. Bukan maunya aku kok."
"Waahhh cucu daddy ngidam? ngidam apa lagi, biar daddy beliin?" sahut Alvin yang baru pulang kantor.
"Gak perlu dad. Udah keturutan semua sama suami aku tercinta ini.." berganti memeluk Alvaro dari belakang dan menyandarkan kepalanya di kepala sang suami.
"Dan anggap saja ini pesta. Pesta buat ngerayain kehamilan aku yang ternyata kembar."
Kedua orang tuanya berseru heboh. Menasehati dan memberikan tips seperti yang dulu Shevi lakukan saat hamil kembar.
Tapi kehebohan mereka berubah menjadi hening saat Tiara menceritakan tentang kehamilan MoMo-nya.
Alvin dan Shevi sama-sama mendukung penuh apa pun pilihan Tiara. Mereka juga akan ikut menjaga kedua calon cucu mereka.
Alvin bahkan sampai langsung menghubungi orang kantor untuk mengirimkan orang untuk membuat lift di rumahnya. Untuk memudahkan Alvaro juga supaya anaknya tidak kelelahan.
Bagi orang tua, anak adalah segalanya. Orang tua akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Bukan hanya Alvin dan Shevi. Tapi Alvaro dan Tiara juga akan melakukan hal yang sama untuk anak-anak mereka.
*
*
*
Padahal udah bisa up Tara pagi. Berharap siang bisa up Lintang. Eh ternyata Lintang molor sampai sore. Setelah maghrib mulai nulis Tiara. Tapi ternyata masih sampai tengah malam juga selesainya.
Dan gaes. Aku udah baca banyak artikel tentang kehamilan MoMo. Tapi kalau masih ada yang salah. Mohon di makalumi dan kasih tau ya gaes...
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya 🤗💕