DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Akad


__ADS_3

Pernikahan, Status baru, kini ada di depan matanya. Sesuatu hal yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk waktu dekat. Tapi malah kini harus menyandang status sebagai seorang istri pada usia belasan tahun. Setatus yang banyak di sambut wanita dengan hati berbunga dan rasa bahagia, tapi hati Tiara malah tidak menentu.


Tiara sudah di rias dengan sangat cantik sore itu. Di temani Pricilla dalam kamar, menunggu Alvaro di bawah sana yang sedang mengucapkan ikrarnya di hadapan penghulu dan daddy-nya, dan di hadiri banyak kerabat dekat mereka.


Keringat dingin membanjiri telapak tangannya, jantungnya berdetak tak karuan. Bukan khawatir Alvaro tidak bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Tapi khawatir akan nasib rumah tangganya yang akan di jalani dengan Alvaro.


Mereka masih sangat muda untuk berumah tangga. Tiara khawatir rumah tangganya tidak bisa berjalan langgeng seperti kebanyakan kasus yang ia lihat di berita. Kebanyakan remaja yang menikah hanya siap secara fisik, tapi tidak memiliki kesiapan sosial, spiritual, ekonomi, terutama emosional yang kurang matang akhirnya timbul perceraian.


"Udah Ra.. Gak usah khawatir! gue yakin Alvaro bisa jadi suami yang baik buat lo." Pricilla tahu sahabatnya yang sedang gundah. Karena sejak semalam, Tiara terus saja bertanya apakah mereka bisa bertahan dengan pernikahan di usia remaja seperti ini.


"Makasih ya sil." Tiara tersenyum ke arah sahabatnya, tapi gundah di hatinya belum juga berkurang.


Mommy Shevi memasuki kamar putrinya, menyampaikan kalau acara di bawah berjalan lancar.


"Mommy masih gak percaya kalau bayi kecil yang dulu mommy dekap sendirian sekarang udah gede. Udah nikah, udah ada yang miliki." mata mommy berkaca-kaca, mendekap putrinya yang mungkin sebentar lagi akan di bawa pergi oleh menantunya.


"Jangan cepat-cepat kasih mommy cucu ya kak. Mommy gak mau jadi nenek muda." Tiara yang sudah tercekat dan akan mengangis, seketika terkekeh mendengar keluhan mommy-nya.


"Nenna juga dulu jadi nenek muda." goda Tiara.


"Tapi gak semuda mommy sekarang! bahkan banyak temen mommy yang masih punya anak bayi. Mommy gak mau punya cucu dulu." rengek mommy Shevi, membuat dua gadis yang ada di ruangan itu terkekeh.


Terang saja banyak teman mommy Shevi yang masih punya anak kecil. Usia mommy saja baru menginjak angka tiga puluh enam tahun.


"Lagian kalian belum punya surat nikah sampai usia delapan belas tahun nanti. Jadi selama belum punya surat nikah, jangan sampai ada bayi di antara kalian!" seru sang mommy mewanti-wanti.


"Iya mom.. ya ampun, aku bahkan gak mikirin buat ngelakuin hubungan yang seperti itu." Tiara bergidik geli sendiri membayangkan dirinya tanpa busana seperti kemarin di hadapan Alvaro.

__ADS_1


"Ya udah. Sekarang turun, suami kamu udah nungguin anak mommy yang cantik ini." mengajak Tiara untuk turun ke bawah.


"Mantu mommy ganteng banget lho kak." goda mommy kepada Tiara, yang memang Alvaro terlihat tampan dan berkharisma.


Tiara tidak menanggapi ucapan mommy-nya. Dia sedang berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu-talu.


Menuruni anak tangga satu persatuan di gandeng Pricilla dan sang mommy. Di bawah para tamu undangan menatap kagum pada gadis remaja yang terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya warna putih.


Alvaro juga menatap dengan intens gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Jantungnya yang sudah berdebar sedari berangkat dari rumah, tambah berdebar ketika harus mengucap ijab kabul, dan sekarang lebih berdebar lagi melihat istrinya yang sangat cantik. Gadis yang sudah lama ia kagumi dan berhasil ia miliki, bahkan tanpa usaha. Sedangkan banyak pemuda yang berusaha mendekati istrinya, dan tidak ada yang berhasil.


Tiara masih menunduk dan belum berani menatap Alvaro, meski kini mereka sudah duduk bersisian. Baru mendongak ketika penghulu mengintruksi mereka untuk memasangkan cincin di jari pasangan masing-masing.


Tiara menelan salivanya saat menatap Alvaro yang sedang memasangkan cincin di jari manisnya. Benar kata mommy, hari ini Alvaro terlihat sangat tampan dalam balutan jas. Apa karena mereka sudah resmi menikah, sehingga Alvaro mengalihkan dunianya dan berporos pada pemuda yang berstatus suaminya kini.


Dengan tangan yang masih berkeringat dingin, Tiara mengambil cincin untuk Alvaro dan memasangkannya.


Rasa gugup sama-sama di rasakan dua remaja yang baru sah sebagai suami istri itu. Bagi Tiara ini pertama kalinya ia di cium lelaki kecuali daddy-nya. Dan bagi Alvaro ini juga pertama kalinya ia mencium seorang perempuan kecuali ibunya.


"Jadi istri yang lembut, jangan kasar-kasar lagi sama gue. Sekarang hukumnya udah dosa!" lirih Alvaro saat melepaskan ciuman pada dahi istrinya, masih dengan nada dingin.


"Lo juga! jangan usil-usil lagi sama gue! tugas lo sekarang menjaga dan ngelindungi gue!" seru Tiara tak kalah dingin.


Setelah saling melemparkan tatapan dingin, mereka menampilkan senyum terbaik mereka kepada keluarga yang hadir yang memberikan selamat kepada pengantin muda tersebut.


"Tolong jaga putri daddy baik-baik. Sejauh ini daddy sangat menjaganya dengan baik, dan daddy tidak akan segan-segan kepada siapa saja yang berani menyakitinya." ucap daddy Alvin menepuk pelan bahu menantunya.


"Belajarlah mandiri mulai sekarang. Ini keputusanmu, dan ini tanggung jawabmu. Ayah menantikan keberhasilanmu nak." arti dari kalimat ayah Alvaro adalah, mulai detik itu ayah tidak lagi memenuhi kebutuhan finansial anaknya. Dan berharap putranya bisa membuktikan kalau dia adalah lelaki yang bertanggung jawab.

__ADS_1


"Sering-sering datang kerumah. Bawa menantu ibu yang cantik ini." ibu menangis dalam pelukan putra satu-satunya itu.


"Jadi istri yang baik ya kak. Jaga kehormatan dan nama baik suamimu mulai saat ini. Gak boleh berantem mulu, kan sekarang udah nikah, bukan musuh lagi." mommy Shevi memeluk erat tubuh putrinya.


"Kenapa kata-kata kalian seakan gak bakal tinggal serumah sih mom?" ucap Tiara ketika melepas pelukan mommy-nya.


"Alvaro sudah punya tempat tingga sendiri untuk kalian. Mommy atau pun daddy gak bisa ngelarang, karena sekarang tanggungjawab kamu sudah milik suamimu, bukan pada kami lagi."


Tiara menatap suaminya tak percaya, dia tidak ingin meninggalkan orang tua dan adik-adiknya.


"Al.. Kita tinggal di sini aja ya?" pinta Tiara dengan wajah sendu. "Lagian kita mau makan apa kalau kita gak tinggal disini? kamu kan udah gak di kasih uang jajan lagi sama ayah."


Orang tua mereka yang mendengar hanya tersenyum lucu melihat tingkah Tiara. Mereka tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja jika Alvaro tidak punya penghasilan.


Di usia mudanya, Alvaro sudah memiliki pendapatannya sendiri tanpa bantuan orang tua. Bahkan Alvaro memiliki apartemen yang tidak terlalu besar, hasil dari usahanya. Maka dari itu orang tua Tiara mengijinkan Alvaro yang meminta ijin saat akan menikah tadi untuk membawa Tiara tinggal sendiri di apartemen yang dia miliki.


Dan itu juga kenapa ayah Alvaro tidak memberikan uang lagi, karena percaya anaknya bisa bertanggungjawab kepada istrinya.


*


*


*


Kira-kira kerja apa ya Aa Alvaro masih sekolah gitu. Bisa kebeli apartemen lagi. Author juga mau 😍🤧


Maaf telat up 🙏

__ADS_1


__ADS_2