DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Petaka


__ADS_3

Pura-pura kuat dan urakan sudah sering Tiara lakukan. Jadi itu bukan hal yang sulit gadis itu perankan saat ini. Meski dengan alasan yang berbeda dan lebih sulit dari biasanya.


Tiara mendekat dan menampar wajah Alvaro yang baru saja mendorong seorang gadis yang di ciumnya menjauh. Entah mereka sedang berciuman, Alvaro yang mencium, atau gadis itu yang mencium. Tiara tidak peduli.


Yang dia lihat, bibir mereka sedang bersentuhan mungkin saja akan terjadi hal yang lebih jika dirinya tidak datang. Mengingat sudah beberapa hari ini Tiara tidak memberikan jatah kepada suaminya karena sibuk belajar untuk ujian.


"Jadi ini yang lo maksud ada urusan!" pekik Tiara. Bulir mening yang baru menetes segera Tiara tepis. "Gue nunggu lo yang katanya mau jemput, ternyata di sini lo malah lagi mesra-mesraan sama perempuan lain! bahkan gue yakin tadi gak ada urusan apa pun sama bang Didi!"


"Yank. Aku bisa jelasin." Alvaro mencoba mendekat dan menyentuh kedua lengan istrinya, namun langsung di tepis oleh Tiara yang masih tersulut emosi.


"Stop! gue gak mau denger apa-apa lagi dari lo!" bahkan waktu itu Alvaro sudah berjanji tidak akan memberinya luka yang sama seperti yang mommy Shevi lewati.


"Dan buat lo!" tunjuk Tiara pada gadis yang sedang tersenyum penuh kemenangan dan bersedekap di samping Alvaro. "Mau cari cowok tuh yang masih single! jangan cari yang udah beristri! dasar perempuan murahan!" makinya. Balik badan dan menarik tangan Pricilla untuk meninggalkan ruangan yang serasa seperti neraka baginya. Dimana bahagia dan harapannya hancur seketika.


Alvaro meremas rambutnya frustasi. "Ini semua gara-gara lo tau gak!" bentak Alvaro pada gadis yang tadi memaksa menciumnya. Alvaro langsung meninggalkan gadis itu sendiri di ruangannya untuk menyusul istrinya yang sedang di kuasai emosi.


Gadis itu adalah Lala. Teman masa kecil Alvaro yang baru pulang dari luar negeri. Gadis itu memang pernah menaruh perasaan kepada Alvaro. Tapi kini perasaan itu sudah tidak ada lagi. Kini dia punya pacar yang menurutnya lebih tampan dari Alvaro. Cowok yang dia kenal di negara tempat ia menempuh pendidikan.


Tadi dia mencium Alavro karena terbiasa dengan kebiasaannya di luar sana. Hanya untuk mengungkapkan rasa kangen pada sahabat kecilnya. Dan lagi, tadi hanya sebuah kecupan. Tidak menyangka istri Alvaro akan datang di waktu yang bertepatan dengan apa yang dia lakukan.


***


Sampai di parkiran. Alvaro mengetuk kaca mobil, dimana Tiara duduk di dalamnya.


"Yank. Tadi gak seperti yang lo pikir yank. Lala itu sahabat aku." seru Alvaro, mencoba memberi penjelasan.


Tapi Tiara di dalam sana justru menutup telinganya. Menolak semua penjelasan yang suaminya berikan.


"Ra. Kayaknya Alvaro mau jelasin deh. Mungkin tadi salah paham." ucap Pricilla hati-hati. Tidak ingin ikut kena marah oleh Tiara.


"Salah paham apa?! jelas-jelas tadi mereka lagi ciuman kan?! emang tadi lo gak liat?! lo tidur tadi??" lihat kan. Hanya berkata seperti itu saja dirinya sudah kena.


"Ya udah, kita pulang." ucap Pricilla pada akhirnya. Menjalankan mobil tanpa mengindahkan Alvaro yang masih mengetuk kaca mobilnya untuk mencegah istrinya pergi dalam keadaan marah seperti ini.


Alvaro langsung berlari kembali ke ruangannya. Menyambar jaket serta kunci motornya untuk mengejar sang istri. Melewati Lala yang sedang turun ke lantai satu begitu saja.

__ADS_1


Pikirannya tak tenang. Alvaro tidak ingin ada kesalah pahaman seperti ini dalam rumah tangganya. Bagaimana pun dia telah berjanji akan menghindari hal semacam ini kepada istrinya saat itu.


Untung lah Pricilla tidak membawa laju mobilnya terlalu kencang, sehingga masih dalam jangkauan Alvaro untuk dapat mengejar.


Mereka berbelok ke arah yang berlawanan dengan apartemen miliknya. Berarti Tiara tidak berkeinginan untuk pulang ke rumah.


Alvaro bisa mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini. Apa lagi gadis itu punya trauma masa lalu yang hampir sama.


***


Pricilla bingung harus melakukan apa. Sahabatnya tak henti menangis sedari mereka keluar dari area cafe.


Pricilla belum pernah berumah tangga jadi tidak tahu betul bagaimana perasaan Tiara saat ini. Tapi jika di tanya sebagai seorang perempuan, sedikit banyak gadis itu tahu seperti apa hancurnya Tiara.


Dia saja jika melihat kekasihnya berciuman dengan wanita lain pasti akan sangat sakit hati. Apa lagi dengan Tiara yang setatusnya sudah meikah.


"Pulang ke apartemen Ra?" tanya Pricilla hati-hati.


"Nggak!" tolak Tiara dengan cepat. Bagaimana mungkin dia sanggup pulang ke rumah yang di dalamnya ada Alvaro. Suami kurang ajar yang sudah berselingkuh di belakangnya.


Suami itu seharusnya melindungi dan menjaganya. Bukan hanya menjaga raganya, tapi juga jiwanya. Menjaga perasaan istrinya agar tidak terluka. Dengan cara apa? tentu saja menyayangi dan setia. Bukankah itu kunci paling penting dalam sebuah hubungan?


Tiara kaget saat kaca mobilnya di ketuk dari luar. Mereka sedang berhenti di lampu merah. Alvaro dengan sepeda motornya berhenti tepat di sebelah mobil Pricilla.


"Yank. Kita bisa bicaraain ini baik-baik. Lala itu sahabat masa kecil aku." samar Tiara masih dapat mendengar suara Alvaro yang teredam kaca mobil.


"Sahabat kok cium-cium." cibir Tiara tanpa mau melihat ke arah suaminya.


"Tapi tadi kayaknya tuh cewek deh Ra yang nyium laki lo." tadi Pricilla juga melihat tangan Alvaro yang tergantung di sebelah tubuhnya. Seperti bukan pria itu yang menginginkan ciuman itu terjadi.


"Gak usah belain cowok brengsek itu deh Sil!" seru Tiara tidak terima.


Setelah di pikir-pikir. Kini Tiara tahu arti mimpi dan perasaan tidak enaknya tadi pagi. Ternyata memergoki suaminya selingkuh itu tidak enak.


Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Pricilla kembali melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Tiara berada.

__ADS_1


Alvaro masih setia membuntuti mereka. Kadang motor itu berada di belakang. Kadang sisi kanan dan kadang tepat di sebelah Tiara.


Fokus Alvaro yang hanya tertuju untuk meminta maaf dan memberi penjelasan kepada istrinya. Membuat pemuda itu tidak memperhatikan jika di depannya ada mobil yang melaju dengan kecepatan penuh menuju ke arahnya.


Tiara sudah merasa aneh dengan mobil itu yang seperti tidak bisa menahan laju kendaraan. Hingga hal yang tidak terbayangkan sebelumnya terjadi.


BRAKK.


Sepeda motor Alvaro yang saat itu berada di sebelah kanan mobil Pricilla tertabrak. Alvaro terlempar dari motornya. Tubuhnya melayang dan menabrak pohon di pinggir jalan sebelum pemuda itu jatuh ke jalan dengan darah yang keluar dari kepalanya.


Tiara sudah berteriak histeris dan langsung turun begitu Pricilla menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Tiara berlari menyebrangi jalan tanpa peduli dengan lalu lintas yang berubah padat akibat kecelakaam tersebut.


Tiara membuka helm yang Alvaro gunakan. Membaringkan tubuh suaminya agar lurus sejajar. Berteriak meminta tolong siapa saja untuk memanggilkan ambulance.


"Lo harus bertahan Al. Gak boleh ninggalin gue sendiri." tangisnya histeris dengan mencium dahi suaminya yang ia pangku.


"Ma-af Ra. Ta-di cu-ma sa-lah paham. La-la yang mak-sa a-ku." ucap Alvaro terbata menahan sakit.


"Gue percaya. Dan lo harus sembuh biar gue lebih percaya."


Tak lama kemudian ambulance yang Pricilla hubungi datang dan langsung membawa tubuh Alvaro yang berlumuran darah. Tiara ikut di dalamnya. Sebelum menyusul ke rumah sakit Pricilla menghubungi keluarga Tiara dan meminta mereka juga menghubungi keluarga Alvaro.


Berita itu langsung membuat kedua keluarga itu panik. Para ibu langsung histeris.


*


*


*


Sebenernya mau di up semalem. Biar sekalian dua. Tapi takit hari ini gak bisa up jadi di simpen dulu 😁


Aku juga seneng bikin yg gantung. Biar kalian pada komen. Biar gak sepi gitu kolom komentarnya😙

__ADS_1


__ADS_2