
Maaf ya.. Kelamaan up-nya. Kemarin namatin "My Annoying Soulmate" dulu biar bisa fokus sama Tiara&Alvaro.
Buat yang belum baca "My Annoying Soulmate" cus baca deh 😁
Happy Reading 🤗
*
*
*
Jika ada sesuatu yang Tiara sesali hari ini adalah tidak menuruti perkataan suaminya agar tidak pulang terlalu malam.
Sebenarnya ia dan Pricilla juga tidak berniat pulang malam. Hanya saja tadi ketika sedang makan, mereka bertemu dengan teman mereka di SMA. Membuat gadis-gadis itu lupa waktu.
Dan sekarang penyesalan menyergap keduanya. Tiara menggenggam tangan Pricilla erat ketika dua orang pemuda yang umurnya tidak jauh dari mereka mencoba mendekat.
Karena jalanan macet dan tidak ingin mendapat amarah sang suami. Tiara mengusulkan untuk mengambil jalan lain yang lebih sepi. Dan benar saja jalanan itu sepi, saking sepinya hingga saat ban mobil Pricilla bocor, hanya dua orang ini yang bisa mereka mintai bantuan.
Bukannya membantu, mereka malah merayu dan berniat jahat pada keduanya.
"Gimana nih Ra?" bisik Pricilla dengan suara bergetar dan genggaman yang semakin erat.
"Gue juga gak tau!"
Tiara sendiri takut, dan tidak tahu harus berbuat apa. Jalanan ini teramat sepi untuk ia minta pertolongan kepada orang lain. Salah-salah malah yang ia mintai pertolongan sama jahatnya dengan pemuda di depannya.
Pemuda yang satu bertubuh tinggi dan rambut sebahu. Tidak terlihat lusuh, karena sepertinya mereka bukanlah preman.
Pemuda yang lebih pendek dengan rambut acak-acakan juga tidak terlihat lusuh. Tapi dari aroma yang menguar yang dapat Tiara cium, aroma yang menyengat di indra penciumannya, sepertinya mereka di pengaruhi alkohol. Yang berarti bahaya di depan mata.
"Gimana kalo lari?" tawar Tiara. Melihat dari ujung jalan ke ujung lainnya yang tidak ada rumah atau pun pertokoan. Hanya ada lahan kosong dan pabrik yang sudah tutup dari jam operasional.
"Mau lari kemana? mobil gue gimana?"
"Bener! mau lari kemana sih cantik? di sini gak akan ada orang yang lewat. Kalau pun ada. Mereka gak akan berani nolong kalian."
__ADS_1
Pemuda yang bertubuh tinggi semakin mendekat. Membuat Tiara dan Pricilla juga semakin memundurkan langkah mereka.
"Gak perlu takut. Kita cuma mau main aja kok. Mau ngajak kalian senang-senang. Gak akan rugi kalian. Karena kita akan sama-sama nikmat." ucap pemuda satunya, yang masih diam di tempat mengawasi kedua gadis yang seperti kelinci, bergetar ketakutan.
"Plis kak.. Biarin kami pergi." Tiara tahu, tidak ada gunanya memohon kepada manusia titisan iblis seperti mereka ini. Tapi jika itu adalah pilihan terakhir, Tiara akan mencobanya.
"Kakak bisa ambil dompet dan HaPe kami. Tapi biarin kami pergi."
"Lo pikiri kita kekurangan duit! gue gak butuh duit lo pada!"
Satu tangan Tiara mendekap tas di depan dadanya, sebelah tangan lagi masih menggenggam erat tangan Pricilla.
Tidak ada cara lain. Ketika gadis itu melihat kedua pemuda di depannya beringsut mendekat, Tiara langsung menarik tangan Pricilla dan berlari sekuat yang mereka bisa.
"Mobil gue Ra.."
"Udah lo tenang aja. Tuh mobil gak bakal ilang!"
Pricilla takut kena marah kedua orang tuanya. Pasalnya itu mobil baru yang papanya belikan untuk kuliah. Gadis itu masih sempat mengunci mobilnya dari jauh. Setidaknya mobilnya aman meski dia tinggal.
Napas mereka tersengal. Kedua pemuda jahat itu tertinggal cukup jauh karena cara berlari mereka yang sudah tidak bisa seimbang.
Tiara tidak menjawab pertanyaan Pricilla dan menarik sahabatnya itu untuk bersembunyi di balik tembok pembatas lahan kosong setelah memastikan orang jahat itu tertinggal jauh.
Dengan sesekali melihat ke belakang, Tiara mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Alvaro. Meminta bantuan suaminya adalah hal tepat.
Namun sayangnya hingga nada sambung berakhir, suaminya tak kunjung menjawab.
"Kemana sih Al? giliran di butuhin malah ngilang!"
Alvaro mengijinkan Tiara pergi dengan Pricilla, karena pemuda itu juga ada kerjaan di kantor daddy Alvin. Dari pada Tiara bosan di rumah sendiri, makanya mengizinkan untuk pergi. Jadi mungkin Alvaro masih di kantor. Pikirnya.
"Coba lagi!" tekan Pricilla yang sudah ketakutan. Ini pengalaman buruk pertama sepanjang dia bisa mengendarai mobil. Lebih baik ban bocor tapi tidak ada bengkel dari pada di kejar orang jahat seperti ini.
"Al, tolongin gue." bisik Tiara dengan suara bergetar tapi lega akhirnya suaminya menjawab telponya.
"Lo kenapa?" bisa Tiara dengar nada panik Alvaro di seberang sana.
__ADS_1
"Ban mobil Pricilla bocor. Dan sekarang kita di kejar sama orang jahat."
"Posisi kalian sekarang di mana?" bisa Tiara bayangkan bagaimama ekspresi Alvaro saat ini. Saat waktu itu jarinya tergores pisau saja, suaminya itu terlihat jelas khawatir. Apa lagi sekarang.
"Gue ada di deket pabrik yang gak jauh dari apartemen. Gue sembunyi di- AKHHH."
Belum selesai Tiara memberikan Info dimana dia berada kepada Alvaro. Dari belakang tangannya sudah di tarik oleh pemuda yang bertubuh tinggi. Ponselnya juga di rebut dan di buang ke semak-semak di lahan kosong di dekatnya.
"Lepasin gue!!" teriak Tiara. Mencoba memberontak dari tarikan pemuda yang entah akan membawanya kemana.
Di belakangnya, Peicilla juga sama. Berteriak dan minta di lepaskan oleh pemuda yang bertubuh lebih pendek.
"Lo gak tau siapa gue? gue anak dari Alvin Mahesa." memang tenaga perempuan tidak tercipta untuk mengalahkan laki-laki. "Kalau daddy gue tau. Gue pastiin kalo kalian bakal di penjara seumur hidup kalian!"
Tiara tahu teriakan dan makiannya tidak akan berpengaruh bagi orang dalam ke adaan mabuk itu. Semua terasa percuma. Meski sekuat apa dia memberontak. Memukul dan mencakar apa saja yang dapat ia jangkau. Mengerahkan ilmu bela diri yang dia pelajari dari uncle-nya. Semua terasa percuma.
Tubuhnya bergetar takut. Dalam hati gadis itu hanya berharap Alvaro akan segera datang untuk menyelamatkannya dan Pricilla.
Dia pernah melewati jalan ini beberapa kali dengan suaminya. Jadi seharusnya bukan hal yang sulit untuk Alvaro menemukan mereka. Kecuali suaminya memang tidak ada di apartemen dan jauh dari lokasinya saat ini.
Tiara menengok kebelakang kaget saat mendengar pekikan Pricilla. Matanya membulat saat sahabatnya itu seperti di pukul dan tak sadarkan diri.
"Al.. tolongin kita. Gue takut." rintihnya dalam hati.
Pemuda itu terus menarik Tiara menuju belakang pabrik. Pricilla di gendong dan sudah lebih dulu di depannya sekarang.
"Sil.. Maafin gue. Gue gak bisa nolongin lo!"
Andai dia tak menyarankan jalan ini. Andai mereka lebih bersabar menunggu kemacetan. Mungkin semua tidak akan seperti ini.
Lebih baik di marahi Alvaro karena pulang terlambat, dari pada celaka seperti ini. Bukan hanya dia yang dalam bahaya. Tapi juga Pricilla yang sudah tidak sadarkan diri.
*
*
*
__ADS_1
Gimana menurut kalian part hari ini?
Komen ya? biar aku bisa tau mana yang perlu di perbaiki 💕