DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Kegilaan Sheril


__ADS_3

Di kehamilan ke 6. Alvaro akhirnya bisa menemani sang istri untuk pergi memeriksakan kandungan.


Kakinya juga sudah banyak perkembangan. Sudah bisa di ajak berjalan. Hanya saja masih membutuhkan bantuan tongkat, karena dia masih belum kuat berdiri terlalu lama.


Setelah membantu istrinya turun dari mobil, mereka berjalan beriringan menuju rumah sakit.


Di lantai tempat dokter kandungan Tiara praktek, lagi-lagi mereka melihat Sheril.


Namun kali ini ada yang aneh dengan gadis itu. Dia berjalan dengan sempoyongan dan kepala tertunduk.


"Itu Sheril kan Al? kok aneh gitu ya.."


Alvaro juga melihat keanehan yang sama. Tapi pemuda itu tidak ingin ambil pusing dan hanya mengedikkan bahunya.


"Ikutin jangan Al?" tanya Tiara menatap sang suami meminta pendapat.


"Buat apa si yank. Dia juga gak bakal mau kita ikut campur sama urusan dia."


Benar apa yang di katakan suaminya. Sheril masih memasang garis permusuhan untuk mereka. Tapi rasanya aneh melihat cara jalan gadis itu.


Terlebih ingatan tentang ibu tiri Sheril yang mengatakan nyawa gadis itu tidak lama lagi. Membuat Tiara khawatir terjadi hal yang tidak di inginkan.


Lagian, mana ada sih pasien dengan kondisi lemah seperti itu jalan-jalan keluar sendiri jika itu bukan untuk kabur atau sejenisnya.


Waah hebat. Sekarang otaknya berubah menjadi detektif gadungan.


"Ikutin deh Al. Aneh gitu dianya.." Masih mencoba memaksa sang suami untuk mengikuti Sheril.


Yang awalnya Alvaro menolak karena waktu mereka memeriksakan kandungan juga sudah akan tiba. Tapi akhirnya kalah juga dengan rengekan sang istri yang tidak mau kalah.


Jadi disinilah mereka berada. Di rooftop rumah sakit. Mengikuti Sheril dengan lift satu lagi setelah memastikan dimana gadis itu berhenti.


"Ngapain ya Al, dia ke sini?" mereka mengawasi Sheril yang sedang berdiri dan bersandar pada pembatas dari balik pintu menuju rooftop.


"Cari angin mungkin." jawab Alvaro sekenanya.


Tapi sejurus kemudian baik mata Alvaro mau pun Tiara sama-sama membelalak saat Sheril mulai menaiki pembatas.


"Al.." bisik Tiara mencengkeram lengan suaminya.


"Iya aku tahu. Kamu di sini aja, biar aku yang ke sana."

__ADS_1


Tiara mengangguk saja. Meski hubungan mereka tidak pernah dalam kondisi baik, namun melihat Sheril dalam bahaya tentu dia tidak bisa membiarkannya bukan?


Berdoa dalam hati semoga Alvaro bisa menyelamatkan apa pun rencana buruk Sheril untuk dirinya sendiri.


Namun, suara tongkat Alvaro membuat Sheril menoleh dan mengetahui keberadaan mereka.


"Ngapain kalian di sini!" bentak Sheril masih saja galak seperti dulu.


"Lo yang ngapain di atas situ? gue sih ke sini mau cari angin." jawab Alvaro yang semakin mendekati tempat Sheril berdiri.


Pemuda itu tidak langsung menarik gadis itu turun. Alvaro hanya bersandar di pembatas seperti benar-benar menikmati angin dan pemandangan di bawah sana.


"Bagus juga dari atas sini.." menutup mata dan merentangkan kedua tangannya. "Anginnya juga kenceng."


Omongan nonfaedah Alvaro membuat Sheril geram. Dia tidak suka kesenangannya di ganggu orang lain.


"Ngapain sih lo! pergi sana! udah di tungguin istri lo tuh!" seru Sheril menunjuk dimana Tiara menunggu.


Alvaro hanya berbalik dan melambaikan tangan serta seulas senyuman untuk sang istri.


Membuat Sheril memaki tak jelas.


"Hidup tuh cuma sekali Sher.. Di nikmatin aja. Di bawa happy."


"Semua orang pasti punya masalah dan titik terburuknya."


"Gue contohnya." masih memandang ke hamparan gedung-gedung tinggi di depannya, Alvaro menoleh sekilas ke arah Sheril untuk memberikan sebuah senyum pertemanan.


"Gue sekarang udah jadi kepala rumah tangga. Punya tanggung jawab besar buat istri gue. Belum lagi anak-anak kami yang sebentar lagi akan lahir."


"Tapi lo liat sendiri keadaan gue. Kaki lumpuh yang yaaa udah mulai bisa di gerakin sih."


"Tapi gue juga pernah di titik gak ada artinya lagi gue hidup. Merasa jadi manusia yang gak berguna dan gak bisa apa-apa."


"Tapi gue gak pernah mikir buat mengakhiri hidup gue. Gue selalu membayangkan senyum Tiara. Senyum nyokap gue. Senyum kakak dan adik gue. Serta ingat betapa ayah gue didik gue buat jadi manusia berguna. Bukan buat jadi pecundang yang menyerah pada keadaan."


Sheril hanya diam mendengarkan. Masih setia berdiri di atas pembatas dan menatap betapa padatnya ibu kota.


"Lo bisa aja lompat ke bawah sana dan mudah-mudahan saja lo langsung mati. Bukan hanya terkapar dan koma yang akan menyiksa diri lo dengan rasa sakit. Karena mungkin aja setelah lo bangun dari koma, lo malah jadi cacat dan hanya bisa berbaring seumur hidup lo."


"Dan jangan lupa kesedihan keluarga lo, yang melihat ketidakberdayaan lo itu."

__ADS_1


Terjadi keheningan beberapa saat sebelum Alvaro kembali melanjutkan.


"Kita hidup gak sendiri Sher. Kita hidup dengan orang-orang yang mencintai kita. Orang-orang yang ada di sekeliling kita yang mengharapkan kebahagiaan kita. Berdoa untuk kita selalu bahagia apa pun yang terjadi."


Tawa sumbang terdengar dari mulut Sheril yang kemudian berdecih. "Itu hanya berlaku buat lo yang masih punya nyokap!" sanggah Sheril langsung.


"Bagi gue yang hanya punya bokap dan sayangnya udah nikah lagi sama perempuan gak tahu diri. Hidup gue gak ada artinya lagi."


"Bahkan gue mati hari ini pun, gue yakin gak akan ada yang nangisin jenazah gue."


"Bokap gue terlalu sibuk untuk ngurusin anak dari istri yang merepotkan baginya. Lebih memilih bekerja dan berkumpul dengan keluarga barunya." nada suara yang menggebu-gebu memperlihatkan betapa kecewanya Sheril pada sosok sang ayah. Keluarga satu-satunya yang ia harapkan, namun justru tidak ada di saat terberatnya.


"Bahkan hanya untuk menemani gue kemo aja dia gak bisa." imbuhnya dengan gumaman.


"Dan satu lagi. Gue di sini bukan buat bunuh diri kalau lo mai tau." tegas Sheril membuat Alvaro mengerutkan dahinya.


"Gue cuma lagi ngilangin bosen aja. Dan di sini tempat gue biasa mencari ketenangan."


Mana ada orang cari ketenangan dengan berdiri di atas pembatas seperti itu. Hanya orang gila yang akan melakukannya.


"Kalau lo emang gak niat bunuh diri, turun sekarang. Biar gue sama istri gue bisa tenang ninggalin lo di sini."


Lagi-lagi tawa sumbang Sheril terdengar. "Ngapain juga kalian mikirin gue. Gak usah sok pada peduli deh!"


"Karena kami manusia yang memiliki hati. Makanya kami peduli sama lo!"


Sheril mengedikkan bahunya. Tapi menuruti saja kemauan Alvaro. Biar pemuda itu tidak terlalu lama mengganggu kesenangannya.


Namun saat akan menuruni pembatas. Kaki Sheril terpeleset dan hampir saja jatuh. Untung saja Alvaro langsung sigap melempar tongkat dan menarik gadis itu dalam pelukan.


Mereka terjatuh ke lantai rooftop dengan selamat. Posisi Sheril berada di atas tubuh Alvaro. Tapi gadis itu diam saja karena tak sadarkan diri.


Membuat Tiara yang sudah berjongkok di samping mereka untuk membantu, malah di buat panik.


*


*


*


Telat gak sih up nya.. 🤗💕

__ADS_1


__ADS_2