
Semenjak malam itu, hubungan Alvaro dan Tiara kini kian dekat. Alvaro semakin berani melakukan kontak fisik. Seperti halnya pagi ini, ketika melihat istrinya tengah sibuk membuat sarapan, Alvaro diam-diam mendekat dan mengecup pipi istrinya.
"Pagi sayang." sapanya, bersandar pada meja dapur dan menumpukan kedua tangannya, menatap lekat-lekat kesibukan istrinya.
Tiara yang masih saja belum terbiasa dengan perlakuan Alvaro, menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Masak apa si sayang?" tanya Alvaro mendekat dan memeluk pinggang istrinya dari belakang ketika istrinya itu tak kunjung menjawab. Sebenarnya Alvaro tahu kebiasaan istrinya yang mendadak lemot ketika dia cium atau peluk. Pemuda itu tahu jika Tiara sedang berperang melawan degup jantungnya yang kian berdebar, sama halnya dengan dirinya. Hanya saja Alvaro lebih bisa mengendalikan diri dan bersikap biasa saja. Beda dengan istrinya yang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Em.. bikin pancake, gak papa ya Al?" jawabnya ketikan menemukan kembali kesadarannya.
"Gak papa. Apa pun masakan istri gue ini pasti gue makan." satu ciuman kembali mendarat di pipi yang masih merona itu. Alvaro sangat suka melihat wajah malu istrinya itu. Semakin terlihat cantik menurutnya. Jika dulu dia suka saat istrinya marah dan kesal, kini dia lebih suka dengan raut wajah istrinya ketika malu apa lagi tersenyum.
"Al.. Gak usah cium-cium mulu dong?" rengek Tiara yang merasa degup jantungnya semakin menggila.
Ngomong-ngomong Tiara tidak ingin merubah panggilannya menjadi aku-kamu. Terlalu geli dan tidak terbiasa. Biar waktu yang merubah panggilan mereka seiring kedewasaan mereka.
Alvaro terkekeh. "Iya. iya deh.." melepaskan pelukan dan duduk manis di mini bar belakang Tiara.
Tiara menghembuskan napasnya lega dan kembali menyelesaikan acara masak untuk sarapannya.
***
"Lo kan belum cerita semenjak kapan lo suka sama gue Al." protes Tiara.
Mereka kini sedang duduk di ruang televisi untuk bermain game. Seperti biasa dengan paksaan Alvaro, Tiara akhirnya menuruti untuk menemani suaminya itu.
Karena sedang libur sekolah, jadi jadwal main gamenya berubah menjadi pagi hari sebelum Alvaro sibuk dengan pekerjaannya mendesain perumahan milik perusahaan daddy Alvin.
"Pengen tau banget mbaknya?" ledek Alvaro.
"Iish nyebelin banget sih Al!" serunya dengan melayangkan satu pukulan pelan di lengan suaminya.
__ADS_1
"Kalo lo, sejak kapan lo cinta sama gue?"
"Gue aja gak tau gue cinta apa gak sama lo!" jawab Tiara, Alvaro berdecak. "Tapi gue sayang kok." imbuhnya lirih, menerbitkan kembali senyum di wajah Alvaro.
"Gak papa sekarang cuma sekedar sayang, gue akan buat sekedar sayang itu jadi cinta yang besar buat gue." ucap Alvaro begitu percaya diri. Tiara sampai berdecih dan menggeleng geli melihat sisi suaminya yang seperti ini.
Mereka masih belum terbiasa dengan status pacaran yang mereka sepakati, kadang masih malu-malu, kadang takut membuat pasangannya marah, dan masih banyak lagi, hingga akhirnya mereka sepakat untuk bersikap seperti biasanya saja. Hanya kini melibatkan kontak fisik, meski hanya sekedar peluk dan cium pipi atau dahi, belum berani berciuman atau lebih.
Baik bagi Tiara dan Alvaro, ini adalah cinta pertama dan pacar pertama mereka. Sebelumnya mereka sama-sama belum pernah namanya pacaran. Bahkan Alvaro yang sudah di jodohkan saja, hanya beberapa kali jalan berdua dengan Aulia tunangannya, dan itu hanya saling sapa dan kemudian diam hingga mereka pulang.
"Jadi dari kapan Al?" desak Tiara yang sudah sangat penasaran.
"Kita sekolah bareng udah dari SD kan? dan entah kenapa saat SMP lo jadi keliatan cantik buat gue, semakin hari gue semakin tertarik. Makin sering mikirin lo, kebayang wajah lo, bahkan sampai mimpiin lo." jawab Alvaro jujur.
Tiara mendengarkan dengan serius, tapi dalam hatinya sangat berbunga-bunga mengetahui dia gadis pertama yang ada di hati suaminya.
"Jantung gue juga deg degan banget tiap deket lo. Awalnya gue bisa nerima perasaan itu. Menikmati yang namanya cinta monyet yang baru gue rasain." mengusap rambut gadis pertama yang menggetarkan hatinya.
"Jadi lo punya tunangan?" tanya Tiara yang terperanjat kaget. Alvaro mengangguk.
"Namanya Aulia, gadis yang cukup manis dengan kulit sawo matangnya. Dia pendiem banget, hanya ngomong kalo di tanya, dan itu pun cuma seperlunya."
Entah kenapa ada rasa tidak suka saat mendengar ada gadis lain dalam kehidupan suaminya.
"Demi menjaga nama baik ayah, gue nurut buat tunangan sama dia. Dan akibatnya malah lo yang gue bully." senyum yang menampilkan deretan gigi, Alvaro berikan pada istrinya. Senyum penyesalan dan rasa bersalah.
"Bisa di bilang lo jadi tempat gue meluapkan rasa marah gue ke ayah! gara-gara ayah, gue jadi gak bisa ngajak lo pacaran kaya temen-temen gue yang udah pada punya pacar. Gara-gara ayah, gue gak bisa ngungkapin perasaan gue ke elo."
Tiara cemberut mendengarnya. Kenapa jika suka tidak bilang saja si?!
Tapi jika di pikir-pikir memang lebih baik jangan, dari pada Tiara ikut baper tapi tidak bisa bersatu. Lebih baik seperti sekarang, benci tapi cinta dan bersatu dalam ketidak sengajaan.
__ADS_1
"Gue ngusilin lo tiap hari, berharap dengan begitu, perasaan gue ke elo bisa memudar dan hilang seutuhnya." Alvaro masih saja menjelaskan, tidak peduli dengan wajah istrinya yang sudah di tekuk.
"Tapi ternyata bukannya menghilang, perasaan gue ke elo malah semakin membesar." aku Alvaro. Biar istrinya itu tahu seperti apa perasaannya selama ini.
"Lo gak akan tau gimana rasanya jadi gue, pura-pura benci padahal dalam hati memuja." mendekap istrinya yang sedari tadi diam saja mendengar pengakuannya.
"Rasanya marah liat cewek yang gue cintai dalam diam justru di peluk cowok lain di depan mata kepala gue sendiri." mengingat kejadian saat Tiara akan jatuh dan di tolong Dika di koridor waktu itu.
"Marah saat lo tiap hari kemana-mana bareng si Dika itu." mencubit hidup istrinya gemas, terkekeh saat Tiara cemberut.
"Tapi gue ada hak apa buat marah? Sedangkan gue aja gak ada hak buat milikin lo. Hidup dan masa depan gue udah terikat sama cewek lain." mengecup sekilas bibir istrinya untuk pertama kalinya.
"Makanya gue ngerasa beruntung dengan niat jahat Sheril yang menjebak kita. Lebih beruntung lagi saat daddy nyuruh gue buat nikahin lo." kini Tiara mengerti kenapa suaminya waktu itu marah saat ia mempermasalahkan perbuatan Sheril yang mengakibatkan dia harus menikah di usia dini seperti ini.
"Banyak si pertimbangan gue buat nerima nikahin lo. Salah satunya karena gue yakin bisa nafkahin lo dengan pekerjaan yang sedang gue geluti. Dan alasan yang paling besar tentunya karena gue cinta sama lo, dan gue gak mau kehilangan kesempatan emas yang mungkin gak akan pernah lagi menghampiri diri gue."
Merapikan rambut Tiara dan menyelipkan di belakang telinga. "Jadi, apa sekarang lo masih nyesel nikah sama gue?" tanya Alvaro, menyusuri sisi wajah istrinya dengan punggung tangannya.
Tiara dengan mantap menggelengkan kepalanya. Ya, dia tidak menyesal menikah dengan Alvaro dengan segala cinta dan tanggung jawabnya.
Tersenyum mendapat jawaban dari istrinya. "Boleh cium gak?" tanya Alvaro pelan.
Tiara mengangguk, dia kira cium yang Alvaro maksud adalah kecupan seperti biasanya. Ternyata lebih dari itu, Alvaro mulai memagut bibirnya pelan. Tidak tau harus berbuat apa, Tiara hanya diam dengan permainan suaminya pada bibirnya. Hatinya meledak-ledak merasakan sensasi yang barubpertama kali ia rasakan.
Dengan perasaan yang lebih terbuka untuk Alvaro. Gadis itu janji akan membalas cinta Alvaro sama besarnya. Menjaga rumah tangga mereka hingga akhir hayat.
*
*
*
__ADS_1
Tiara Alvaro hadir lagi 💕