
Apartemen masih gelap dan terasa sepi. Yang artinya Tiara belum pulang. Padahal jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
Alvaro tidak mempermasalahkan Tiara yang pulang malam. Tapi harus ada dirinya atau laki-laki yang bisa di percaya untuk melindungi istrinya itu.
Sedangkan Tiara hanya pergi berdua dengan Pricilla. Itu yang membuat perasaannya menjadi tidak tenang.
Setelah mandi, Alvaro memutuskan akan menghubungi istrinya karen belum juga pulang. Tapi belum juga menghubungi, ponselnya sudah berdering dengan nama 'Mine' sebagai nama istrinya di sana. Dan ada panggilan tak terjawab sebelumnya dari nama yang sama. Mungkin saat tadi dia sedang mandi, sehingga dia tidak mendengar.
Tanpa menunggu lama, Alvaro langsung mengangkat panggilan itu. Seketika duduknya menegak saat mendengar suara istrinya yang ketakutan dan meminta tolong.
Terdengar suara istrinya yang memekik dari kejauhan. Karena panggilannya tidak di matikan. Bisa Alvaro pastikan jika penjahat itu sudah menemukan istrinya yang bersembunyi dan membuang ponselnya.
Shit.
Alvaro menggeram dan meremas rambutnya. Harusnya memang dia tidak membiarkan istrinya pergi sampai malam begini.
Alvaro langsung menyambar jaket dan kunci motornya. Jika benar yang Tiara sebutkan tadi pabrik dan lahan kosong yang pernah mereka lewati, seharusnya dia bisa sampai di tempat itu dan menyelamatkan istri serta sahabat istrinya sebelum hal buruk terjadi.
Melajukan sepeda motornya menuju lokasi yang tidak terlalu jauh dengan kecepatan penuh. Berdoa semoga Tiara dan Pricilla baik-baik saja. Semoga dia bisa datang dengan tepat waktu.
Dari kejauhan bisa Alvaro lihat mobil Pricilla yang terparkir di tepi jalan. Berarti benar mereka ada di sekitar sana, karena tepat di depan mobil Pricilla ada sebuah motor dengan jenis yang sama seperti sepeda motornya.
Alvaro melepas helm dan menaruhnya sembarangan. Berlari ke berbagai arah untuk mencari dua gadis yang ia khawatirkan sedari tadi.
Alvaro mencoba menghubungi kembali nomor istrinya. Samar-samar ia mendengar nada dering yang sangat ia kenal. Nada dering milik istrinya.
Alvaro kembali mengumpat saat menemukan ponsel istrinya di balik semak-semak. Tanpa ada tanda keberadaan istrinya.
Alvaro berlari ke sisi yang lain.
"Oh iya. Pricilla."
Jika para penjahat itu tidak menginginkan ponsel Tiara. Berarti hanya satu motif penjahat itu jika bukan perampokan. Motif yang tidak ingin Alvaro bayangkan. Dan berarti, seharusnya Pricilla masih memegang ponselnya.
Mencari nomor ponsel Pricilla pada kontak ponselnya. Langsung di hubungi nomor sahabat istrinya tersebut.
Beruntung dengan kondisi sepi yang sekarang terjadi. Sehingga Alvaro dapat mendengar dering ponsel yang berada lebih jauh dari ponsel Tiara sebelumnya.
Alvaro berlari mengikuti suara yang ia dengar. Ketika dering ponsel itu menghilang, Alvaro akan kembali menghubungi nomor itu lagi.
__ADS_1
Kepala Alvaro mendidih melihat apa yang terjadi. Seorang pria sedang menarik-narik baju istrinya yang melakukan perlawanan.
Sedangkan Pricilla yang sudah pingsan dengan mudah di lepaskan seluruh pakaiannya.
"BRENGSEK!!" umpat Alvaro dan langsung menerjang pria yang berniat menjamah istrinya.
Mereka terlibat baku hantam. Membuat pria satu lagi yang sudah akan melepaskan pakaiannya sendiri ikut turun tangan membantu temannya.
Tiara merasa bersyukur Alvaro datang tepat waktu. Jika tidak, apa yang akan terjadi padanya.
Dan Pricilla, Oh ya ampun.
Tiara mendekat dengan tubuh bergetar. Merasa sangat bersalah dengan keadaan sahabatnya saat ini.
Mengumpulkan semua pakaian Pricilla yang berserakan. Memakaikan kembali dengan air mata yang tak henti mengalir.
Sedikit beruntung sahabatnya itu pingsan. Jika tidak, mungkin kejadian ini akan meninggalkan luka psikologis bagi Pricilla.
"Sil.. Bangun.." rintih Tiara di sela isak tangisnya.
Mengguncang bahu temannya berulang kali. Perasaannya saat ini sudah campur aduk tak karuan. Rasa menyesal, rasa takut dan entah perasaan apa lagi.
Keadaan ini tidak imbang bagi Tiara. Tapi Alvaro masih bisa menanganinya hingga kedua pria jahat itu tersungkur memegangi perutnya.
"Lo bisa bawa mobil Pricilla kan?" tanya Alvaro mendesak, saat pemuda itu sudah mencapai hadapan Tiara dan mencoba mengangkat tubuh Pricilla di gendongannya.
Tiara hanya mengangguk takut dan mengikuti langkah suaminya menuju mobil Pricilla di parkir. Saat melewati kedua pria itu. Tiara masih sempat menendang dengan keras pria brengsek yang berani menelanjangi sahabatnya. Juga menginjak kaki pria yang berusaha melecehkannya kemudian berlari mensejajari suaminya.
"Bawa Pricilla pulang ke apartemen. Telfon orang tuanya untuk izin. Jangan bilang apa yang terjadi." ucap Alvaro dingin dan menuju motornya. Setelah sebelumnya pemuda itu mengganti ban mobil Pricilla yang bocor dengan ban serep di bagasi belakang.
Air mata Tiara kembali turun. Dia mengira Alvaro marah padanya karena sikap dingin suaminya itu.
Selama pernikahan, terakhir Alvaro bersikap seperti itu padanya adalah saat ia menyalahkan Sheril atas pernikahannya dulu.
Suara klakson motor Alvaro membuat Tiara segera menyalakan mobil dan melajukan menuju apartemen.
Di kursi belakang. Pricilla memicingkan matanya, meredam rasa sakit pada kepalanya.
"Kita dimana Ra?" tanya Pricilla yang melihat sahabatnya di balik kemudi.
__ADS_1
"Lo udah sadar?" melihat dari kaca sepion di atas kepalanya ketika Pricilla beranjak duduk. "Kita lagi menuju apartemen gue."
Dari kebingungan di wajah Pricilla. Tiara yakin, jika sahabatnya belum mengingat kejadian tadi.
"Kita hampir celaka sama orang yang kita mintai tolong buat ganti ban lo, kalo lo lupa."
Pricilla terkesiap dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Terus gimana? kita gak di apa-apain kan? siapa yang nolongin kita? gimana sama cowok-cowok itu?" rentetan pertanyaan dari Pricilla di jawab dengan tangisan Tiara yang semakin kencang.
"Lo kenapa? lo di apain sama mereka?"
Inginnya Tiara menjawab."Bukan gue! tapi lo nyaris aja kehilangan hal berharga lo, kalo aja Alvaro telat sedikit aja." tapi tentu itu hanya berani ia teriakan dalam hati. Tidak ingin sahabatnya syok atau bahkan jauh lebih mengerikan lagi, trauma.
"Gak papa. Kita belum sempat di apa-apain sama mereka kok. Alvaro dateng nolong kita di waktu yang tepat." ucapnya kemudian, menghapus air matanya.
Pricilla kembali duduk bersandar dan mengelus dadanya merasa lega. Merasa sangat berterimakasih kepada suami sahabatnya ini.
"Lo telfon orang rumah lo deh. Kabarin mereka lo nginep di tempat gue."
"Lho ngapain? gue pulang aja."
"Lo mau pulang dalam ke adaan kaya gitu? mau jawab apa lo sama mereka?"
Pandangan Pricilla turun menatap penampilannya yang berantakan dan meringis betapa berantakan dirinya.
"Lo mandi dulu aja sil. Pake baju gue." Tiara menyodorkan baju piyama ke pada sahabatnya dan keluar kamar saat Pricilla sudah memasuki kamar mandi.
Di ruang depan televisi. Alvaro sedang duduk dan menatapnya lekat. Entah apa arti tatapan suaminya itu. Hingga tubuh tegap itu berdiri dan berjalan merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Gue khawatir banget tau gak? rasanya kaya mau mati."
*
*
*
Aku gak setega itu ngasih Alvaro bekas 😁
__ADS_1