
Daddy Alvin membuka pintu kamar Tiara perlahan. Di dalam Tiara sudah tertidur setelah lelah menangis seharian. Menangisi sikap suaminya yang kini berubah. Merasa bersalah sekaligus kehilangan.
Gadis itu tahu jika dia bersalah. Wajar jika Alvaro marah dan memilih menghindarinya. Tapi sisi egoisnya ingin Alvaro tetap di sampingnya. Menyayanginya seperti biasa tanpa memikirkan kesalahan yang sudah ia lakukan. Mengharapkan suaminya memaafkan dirinya tanpa dendam. Menerima dirinya kembali dalam pelukan hangat sang suami.
Mommy Shevi yang sedari tadi mencoba menenangkan putri sulungnya, menyimpan telunjuknya di depan mulut. Memberi kode agar suaminya tidak menimbulkan suara. Anak mereka baru saja tertidur. Tidur dengan memeluk baju Alvaro yang dibawanya dari apartemen.
Daddy Alvin menatap sendu putrinya. Putri kecil yang tumbuh tanpa pelukannya dulu. Dan kini daddy Alvin merasa bersalah dengan kesedihan yang di alami anaknya. Ikut merasa bertanggung jawab dengan apa yang di alami anaknya.
Jika saja dia tidak menyuruh mereka untuk menikah. Anaknya tidak akan mengalami kesedihan seperti saat ini.
Pria tiga anak yang masih terlihat gagah itu berjalan mendekat, mencium dahi putrinya. Menghapus sisa air mata yang masih membasahi wajah cinta ketiganya di dunia ini setelah ibu dan istrinya.
"Maafin daddy." ucapnya lirih.
Dibelakangnya mommy Shevi sudah meneteskan air matanya. Hatinya terasa sakit melihat anaknya menangis seperti tadi. Belum pernah wanita yang sebentar lagi berkepala empat itu melihat anaknya selemah dan semenyedihkan itu.
Daddy Alvin berbalik dan merangkul sang istri. "Ayo kita keluar. Biarkan putri kita istirahat."
Mereka berdua keluar, meninggalkan anak mereka yang sudah berada di alam mimpi. Berharap esok setelah bangun tidur, kondisinya lebih membaik. Kembali ada semangat dan senyum di wajah anak mereka itu.
"Mas tau dari mana?" tanya mommy Shevi.
Tanpa penjelasan yang lebih lanjutpun suaminya itu tahu maksud sang istri adalah tentang kondisi anak mereka. "Rafa telfon aku tadi. Katanya kalian nganterin kakak balik ke rumah sakit sekalian mau jenguk?"
Mommy Shevi mengangguk. Tadi pagi wanita itu di kejutkan dengan kepulangan anaknya yang katanya ingin istirahat. Dan ketika sore hari Tiara akan kembali ke rumah sakit, dirinya menawarkan diri untuk mengantar sekaligus menjenguk menantunya. Kedua anak kembarnya juga meminta untuk ikut, jadi mereka sama-sama menuju rumah sakit.
Tidak ada yang tahu jika sore itu Alvaro sudah di ijinkan pulang. Lebih kaget lagi saat menantunya itu memilih pulang ke rumah orang tuanya dari pada pulang bersama istrinya.
__ADS_1
Merasa bersyukur dirinya yang mengantar Tiara. Jika anak itu berangkat sendiri, pasti sekarang entah dimana anak mereka itu menangisi suaminya.
"Kita harus gimana mas?"
"Gimana apanya? meskipun anak kita mungkin belum dewasa, walau bagaimana juga dia sudah menikah. Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka."
"Tapi aku sedih lihat anak kita." ucap mommy Shevi menyandarkan kepalanya di dada sang suami setelah mereka duduk di ruang keluarga.
"Bukan cuma kamu yang sedih, aku juga sama. Tapi aku percaya, jika menantu kita bukan orang yang akan lepas tanggung jawab begitu saja. Kamu gak usah terlalu khawatir."
Mommy Shevi hanya mengangguk. Ibu mana yang tidak khawatir melihat anaknya sedih seperti itu. Bahkan melihat anak-anaknya menangis karena berkelahi dengan temannya sewaktu kecil saja hatinya merasa tidak terima. Apa lagi sekarang anaknya menangisi masa depan rumahtangganya. Bukan hanya menangis tapi terpuruk.
***
Orang yang sedang di tangisi oleh Tiara, kini sedang duduk di ruang keluarga di hadapan seluruh keluarganya.
"Ayah memang kurang hangat dalam keluarga. Bagi ayah, kerja adalah segalanya. Agar ayah bisa menghidupi kalian dengan layak. Tidak seperti ayah saat muda yang harus banting tulang dulu untuk mendapatkan sesuatu yang ayah mau." ucap ayah tegas. Menatap setiap anggota keluarganya.
"Tapi ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menyakiti hati perempuan abang! apa kamu rela jika ibu, kakak dan adik yang kamu sayangi ini ayah sakiti dengan kata-kata yang sama menyakitkannya dengan yang kamu lakukan kepada istrimu?!"
Alvaro yang duduk di kursi roda hanya menunduk dan menggeleng.
"Kamu saja tidak rela, padahal bukan kamu yang melahirkan mereka! bagaimana dengan ibunya Tiara saat mendapati anaknya yang kamu sakiti?"
Alvaro bungkam. Tanpa di tanyapun dia tau bagaimana dengan perasaan yang akan mommy Shevi rasakan.
Bahkan setelah dirinya pergi dari ruang perawatan dan saat ibu di panggil dokter untuk jadwal terapi, pemuda itu kembali ke ruang perawatan hanya untuk melihat keadaan istrinya.
__ADS_1
Istrinya masih bersimpuh di lantai dengan di peluk momny Shevi. Di samping mereka ada Raka dan Reina yang juga terlihat sedih.
Hati Alvaro juga teriris mendengar tangisan istrinya yang memilukan. Tapi saat ini pemuda itu sedang merasa insecure. Sedang merasa di posisi terbawah hidupnya. Merasa tidak pantas lagi berdiri di samping sang istri. Merasa tidak akan bisa membahagiakan gadis yang di cintainya itu. Merasa hanya akan menjadi beban dan penghalang untuk Tiara mencapai cita-citanya.
Alvaro sudah cukup marah saat tahu Tiara ikut mengambil cuti. Untuk apa istrinya mengambil cuti? untuk menemaninya? merawatnya? apa dia setidak berdaya itu di mata istrinya sehingga di anggap tidak akan mampu melakukan apa pun saat Tiara kuliah.
Untuk itu Alvaro mengambil keputusan untuk tinggal di rumah keluarganya. Berharap Tiara kembali kuliah karena tidak perlu repot-repot merawatnya.
Sayangnya tidak ada cara lain untuk membuat Tiara pergi dari sisinya jika bukan dengan cara di sakiti. Alvaro juga memaki dirinya sendiri tadi setelah mengucapkan makian untuk sang istri. Hatinya jauh merasa lebih sakit dari yang Tiara rasakan. Mencoba membunuh perasaan istrinya sama saja membunuh dirinya sendiri.
"Maaf yah." hanya itu yang bisa Alvaro ucapkan dengan lirih.
"Untuk apa kamu meminta maaf kepada ayah? apa kamu berbuat salah kepada ayah?" tanya pria paruh baya itu tegas.
"Kalo abang tidak menikah. Semua ini tidak akan terjadi. Semua akan berjalan seperti apa yang ayah mau." ucapnya kembali.
"Ayah tidak pernah mempermasalahkan apa yang ayah inginkan itu tidak terjadi. Ayah mengatur segalanya dalam hidup kamu termasuk calon istri itu semata-mata hanya ayah ingin yang terbaik untuk putra ayah. Berharap kamu bisa bahagia karena mendapatkan semua yang terbaik yang bisa ayah beri!" ibu mengusap lengan ayah agar tidak semakin emosi. Walau bagaimana pun anak mereka masih sakit.
Ayah menarik napas. "Tapi jika kamu bahagia dengan Tiara sebagai istri kamu, ayah tidak keberatan. Ayah juga ikut bahagia untukmu. Yang ayah tidak suka adalah cara kamu memperlakukan istrimu."
Alvaro tidak menjawab. Semua orang tidak akan ada yang tahu perasaannya saat ini. Mereka tidak ada yang pernah dalam posisinya sekarang. Jadi mereka tidak akan bisa memahami perasaannya.
Merasa tidak berguna, merasa tak berdaya, merasa harus merelakan semua masa depan yang dia miliki dan memilih tinggal di rumah menemani sang ibu hingga tua nanti. Menjadi beban dan akan selalu merepotkan ibu sampai ia meninggal. Tidak ada lagi harapan dalam hidupnya. Mimpi yang ia miliki seakan sirna seketika. Bahkan untuk berhapa bisa jalan saja Alvaro merasa takut. Takut kecewa jika pada akhirnya kakinya tidak dapat lagi di gerakan seperti dulu. Dia hanya tidak ingin mrmberi harapan lebih pada Tiara.
*
*
__ADS_1
*