
Pagi - pagi Mami Lyra datang ke kediaman Shandika disaat penghuni rumah baru selesai sarapan.
" Vii.. Kamu tahu kan teman - temannya Alvin. Coba kamu tanya sama mereka ada yang lihat Alvin nggak. Dia sudah tiga hari nggak pulang dan nggak bisa dihubungi " Mami Lyra menggenggam tangan Shevi penuh harap agar Shevi mau menolongnya.
" Mami tenang dulu ya mih. Ayo duduk dulu, Shevi pasti bantu kok " Shevi mengajak Mami Lyra duduk diruang keluarga.
" Bentar Shevi ke kamar telfonin kak Gio. Mami disini aja sama Bunda dan Shera " Shevi pergi ke kamarnya mengambil ponselnya untuk menelfon Gio.
Setelah dering ketiga telfon baru diangkat.
" Iya Shev kenapa ? " Sepertinya Gio sedang dijalan dari suara backgroundnya yang bising.
" Kak. Lo tau dimana kak Alvin. Maminya nyariin cemas banget gak bisa dihubungin "
" Ooh Alvin ada di apartemen gue. Keadaanya lagi kacau banget Shev, Mabok mulu dia. Lo kesana aja tar gue kirimin alamat sama passcodenya. Soalnya gue ada kuliah hari ini "
" Ya udah Shevi ke sana kak. Makasih ya " Tak lama setelah Shevi menutup telefon ada notofikasi pesan masuk dari Gio berisi alamat dan passcode apartemen pemuda itu.
Shevi langsung ganti baju dan mengambil kunci mobil dan tas slempangnya kemudian keluar menghampiri keluarganya yang sedang menenangkan Mami Lyra di ruang keluarga.
" Mih. Mami lebih baik pulang dulu aja istirahat biar Shevi yang bujuk Kak Alvin. Shevi perlu ngomong sebentar sama Kak Al habis itu Shevi pastiin Kak Al pulang kerumah kok " Shevi mengusap lengan Mami Lyra.
" Makasih ya sayang " Mami Lyra balik mengusap pipi Shevi yang dibalas senyuman manis gadis itu.
***
Jalanan pagi itu lumayan padat. Mobil yang Shevi kendarai berjalan lambat. Untung apartemen Gio tidak terlalu jauh dari komplek perumahannya jadi dalam waktu satu jam Shevi sudah sampai ditempat tujuan.
Shevi memarkir mobilnya di besment apartemen kemudian naik lift dan memencet tobol tujuh dimana lantai apartemen Gio berada.
Sesampainya di lantai tujuh Shevi langsung mencari nomor Apartemen yang ditempati Gio. Kemudian memencet passcode yang Gio kirimkan saat menemukan pintu yang dicarinya.
__ADS_1
Saat memasuki apartemen Gio kesan yang dia dapat pertama kali adalah rapi. Untuk ukuran cowok apartemen Gio terbilang rapi.
Ada rak sepatu disamping pintu. Dan ruang tamu cukup besar dengan sofa warna hitam yang menghadap ke TV LCD yang cukup besar menempel didinding. Tidak terlalu banyak prabot di apartemen ini.
Dan disitulah Alvin. Dengan keadaan berantakan dan bau alkohol menguar diudara ruangan itu. Shevi berjalan perlahan mendekati Alvin yang entah tidur atau tak sadar karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol melihat banyaknya botol dimeja depan Alvin.
" Kak... Kak Alvin " Shevi mengguncang bahu Alvin pelan untuk membangunkan Alvin. Perlahan kelopak mata Alvin terbuka.
" Ehhh Cantik kesini.. " Alvin langsung tersenyum dan langsung duduk menarik Shevi untuk dia peluk dan digoyang - goyangkannya.
" Kak lepasin.. Ayo pulang ! " Shevi mencoba melepaskan pelukan Alvin tapi tidak bisa.
" Pulang kemana ?? Gue mau disini aja !! " Alvin menjauhkan Shevi sedikit untuk melihat wajah Shevi dan kembali meleluknya kembali.
" Lo juga harus disini aja !! Lo harus harus tanggung jawab sembuhin hati gue !! Lo gak tau hah betapa sakitnya hati gue !! " Alvin melepaskan pelukannya dan mencengkeram pundak Shevi kuat.
" Bukanya diterima malah disuruh tunangan sama kembaran lo !! Walaupun lo kembar bukan berarti cinta gue juga gampang beralih ke dia !! Lo kira hati gue mainan apa !! jawab gue !! HATI GUE MAINAN !! " Shevi tak menyangka keputusannya akan menyakiti Alvin sebegitu dalamnya sampai berantakan dan mabuk - mabukan begini.
" Bukan cuma Kak Alvin yang sakit. Tapi gue juga " Tambahnya dalam hati dibarengi air matanya yang keluar.
" Maaf lo bilang !! " Teriakan Alvin menggelegar diruangan itu.
" Kalo kita bisa milih kepada siapa kita jatuh cinta, Gue lebih memilih buat nggak jatuh cinta sama kalian berdua. Sekarang lo harus jadi milik gue " Alvin yang sedang dalam emosi tinggi ditambah pengaruh alkohol menarik Shevi ke kamar yang dia tempati di apartemen Gio.
" Kakak mau apa lepasin !! " Shevi memberontak saat sudah mendekati kamar. Tapi tenaga Shevi buka apa - apa bagi Alvin.
Alvin menarik Shevi dan mendorongnya ke ranjang lalu berbalik dan mengunci pintu kamar.
Shevi yang takut dengan Alvin memundurkan duduknya sampai membentur kepala ranjang.
" Jangan takut sayang.. gue gak akan nyakitin lo " Alvin membelai lembut pipi yang basah air mata itu.
__ADS_1
" Kak please jangan begini. Kak Alvin gak kaya gini "
" Gue emang gak kaya gini. Tapi lo yang buat gue jadi begini !! " Bentak Alvin
Alvin menarik tengkuk Shevi dan mencium bibirnya. Memagutnya pelan, menikmati manisnya bibir itu. Meski dalam keadaan tidak sadar tapi Alvin tidak ingin menyakiti gadisnya. Shevi memberontak dan memukul dada Alvin, tapi Alvin tetap meneruskan aksinya. Dan entah bagaimana Alvin melakukannya, sekarang mereka berdua sudah sama-sama polos.
" Jangan Kak. Gue mohon berhenti " Rintihan Shevi diantara rasa takutnya. Kedua tangannya tak bisa bergerak karena dicekal Alvin diatas kepala.
Pekikan rasa sakit dari Shevi tak mengurungkan niat Alvin untuk menyatukan tubuh mereka.
Rasa sakit itu sungguh menyayat dan menyakiti Shevi.
Sekarang Shevi hanya bisa pasrah dengan perlakuan Alvin. Tak ada lagi yang dapat dia pertahankan sekarang. Melawan pun percuma karena tenaganya tidak diciptakan untuk dapat melawan Alvin.
Air mata tak pernah berhenti mengalir dari kedua matanya. Penyesalan dan rasa takut membayang bayanginya.
" Sungguh ayah ini bukan kemauan Shevi.. maaf Shevi tidak bisa mempertahankan kesucian Shevi sampai menikah nanti. Maaf Shevi mengecewakan ayah dan bunda. Maaf.. Maafin Shevi... Shevi yang salah karena memaksa Kak Alvin tunangan dengan kak Shera.. Shevi yang bikin Kak Alvin jadi seperti ini.. Tapi inikah konsekuensi untuk Shevi karena memaksanya yah..?? Inikah yang harus Shevi tanggung ??. Shevi takut Ayah. Shevi harus bagaimana lagi sekarang ?? Andai ayah masih ada semua ini mungkin takan pernah terjadi. Maaf ayah.. Maaf.. "
Setelah Alvin menuntaskan urusanya dia jatuh tertidur disamping Shevi. Shevi bangun perlahan agar tak membangunkan Alvin. Mengambil bajunya yang berceceran dilantai dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan menahan rasa perih dipusat sensitifnya.
Setelah mandi Shevi keluar mencari tas dan kunci mobilnya untuk pulang. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan kepada Gio untuk membujuk Alvin pulang karena Maminya khawatir.
Shevi juga sudah mengirim pesan kepada Bunda Karina meminta ijin menginap ditempat Nurin untuk beberapa hari kedepan.
Shevi tak mungkin pulang kerumah dengan keadaan seperti ini. Bunda pasti akan curiga. Sekarang Shevi butuh menenangkan dirinya terlebih dahulu.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading 💕