
Hanya ada suara televisi yang bahkan tidak menarik minat Tiara untuk menonton di apartemen yang lengang. Gadis itu mengganti saluran televisi dari nol sampai akhir dan kembali lagi dari awal, begitu seterusnya hingga sekarang sudah tiga kali putaran. Berbagai bungkus makanan ringan dan buku berserakan di atas meja.
Tiara bosan di rumah. Selama wajah Alvaro masih terlihat lebam, suaminya itu memutuskan tidak pergi ke kampus. Begitu pula Tiara yang kini tidak di perbolehkan pergi kemana pun tanpa dirinya.
Berlebihan memang. Tapi Alvaro melakukan itu demi keselamatan istrinya.
Namun sayangnya. Bukan menemani Tiara, dan memanfaatkan momen itu agar lebih berkualitas. Alvaro justru terlalu sibuk dengan proyek barunya yang di berikan oleh daddy Alvin. Dari pagi hingga sore, Alvaro akan selalu di ruang kerjanya tanpa bisa di ganggu. Membuat Tiara bosan setengah mati setelah hari ke tiga terkurung di apartemen tanpa teman bicara seperti ini.
"Alvaro nyebeliiinnn!!" seru Tiara menghentak-hentakan kedua kakinya serta tangan yang memukul sofa.
"Nyebelin kenapa?" sahut Alvaro yang baru keluar dari ruang kerja.
Tiara mendengus. "Kalo lo masih betah kerja, mending gue kuliah aja deh Al. Bosen tau kaya gini doang tiap hari!"
"Baru tiga hari aja udah kaya yang tiga tahun. Kalo gini aja lo ngeluh, gimana nanti kalo kita udah selesai kuliah?" jawab Alvaro yang sudah dududk di sebelahnya dan merangkul bahunya. "Gue kan pasti juga sama. Kerja dari pagi sampe sore, di kantor malah. Terus lo mau ngerengek kaya gini tiap hari?"
"Kalo udah lulus, gue juga mau kerja lah! gak mau gue terkurung di rumah begini." masih dengan wajah cemberut dan melipat tangan di dada.
"Terus anak-anak mau lo kemanain kalo lo sibuk kerja?"
Tiara diam. Gadis itu belum memikirkan sampai sejauh itu.
Anak?
Tentu saja Tiara ingin memiliki anak-anak yang lucu yang mirip dirinya dan Alvaro.
Tapi kata anak masih jauh dari angan Tiara saat ini. Ia ingin memiliki anak di usia yang matang. Bukan remaja labil seperti saat ini.
Dia tau bagaimana rasanya di tinggal mommy bekerja saat dia kecil. Hanya di antar dan jemput ke sekolah, setelah itu di tinggal bersama Oma dan nanny.
Meskipun dia tidak pernah meragukan kasih sayang mommy dan daddy'nya. Tapi dalam lubuk hati kecilnya dulu, ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan mommy-nya.
Sedari kecil saat masih di NY pun, Tiara biasa hanya di temani Bi Inah. Mommy-nya sibuk kuliah dan manggung.
Tiara tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Cukup Alvaro saja yang kerja dari pagi hingga sore demi kewajibannya sebagai suami. Dia tidak perlu pergi bekerja dan mengabaikan anak mereka nantinya.
"Kalo udah ada anak, gue juga bakal diem di rumah kok nemenin mereka. Tapi selagi belum ada, apa salahnya kan Al?"
__ADS_1
Alvaro tersenyum dan mengusap rambut istri yang sedang menatapnya dengan harap. "Gak papa selama lo gak ngelupain kewajiban lo. Tapi gimana kalo anak hadir justru saat kita masih kuliah?"
"Ya makanya di usahakan jangan sampai Al. Gue tau gimana rasanya dulu mommy kuliah dan gue di apartemen sama bi Inah doang."
"Lo gak mau menuhin kewajiban lo sebagai seorang istri?" kurang sabar apa coba Alvaro selama ini. Kenapa istrinya tidak juga mengerti akan kebutuhannya.
Tiara menunduk dan memainkan jarinya. "Bukan begitu Al." menjawab dengan ragu.
"Terus?"
"Gue akan penuhin kewajiban gue. Asal gak ada anak." memberanikan diri menatap suaminya untuk melihat bagaimana respon sang suami.
Senyum Alvin mengembang. Mengangguk setuju.
Tiara mendorong wajah sang suami yang mendekat. "Gak sekarang juga kali Al!"
Alvaro terkekeh. "Oke! Sekarang mau ngapain biar lo gak bosen?"
Tentu saja kedua mata Tiara langsung berbinar senang mendengar tawaran yang suaminya lontarkan.
Ke mall yuk Al. Gue pengen main ice skating. Lama banget kayaknya gue gak main itu." ajak Tiara mengguncang lengan suaminya penuh harap.
Lagi. Senyum Alvaro mengembang, melihat istrinya bersorak dan sangat bersemangat.
***
Karena hari kerja, sehingga siang itu mall tidak terlalu ramai. Dan Alvaro bersyukur atas hal itu. Pemuda itu tidak suka jika harus berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Makanya, dari pada mengajak istrinya nonton atau jalan ke mall di akhir pekan, Alvaro lebih memilih mengajak Tiara main game di apartemen mereka. Untungnya istrinya itu penurut.
Saat mereka melewati salah satu restoran, Tiara menarik berhenti lengan Alvaro.
"Makan dulu ya Al. Gue laper." ucap Tiara menjawab pertanyaan di ekspresi suaminya yang mengangkat sebelah alis.
Alvaro hanya mengangguk dan menggandeng istrinya masuk.
Restoran itu juga hanya terisi beberapa pengunjung. Memudahkan Alvaro untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka.
Pilihannya jatuh pada meja di pojok yang dekat dengan jendela. Mengangkat tangan memanggil pelayan saat mereka sudah duduk.
__ADS_1
"Lo mau pesen apa?" tanya Alvaro membaca buku menu di hadapannya.
"Menu favorit disini apa kak?" tanya Tiara pada gadis yang usianya sekitar pertengahan dua puluh.
Pelayan itu menjawab dengan ramah, dan menjelaskan makanan yang dia maksud.
"Ya udah. Saya pesan tiga makanan yang kakak sebutin tadi. Minumnya Orange Juice sama satu botol air mineral."
"Yakin abis Ra?"
"Kan ada elo, hehe."
Alvaro menghembuskan napasnya dan hanya memesan pasta dengan minuman yang sama.
"Kerjaannya masih banyak Al?" sebenarnya Tiara juga takut mengganggu pekerjaan suaminya dan menambah lama waktu yang seharusnya. Tapi gadis itu sungguh bosan di rumah.
"Banyak. Mana ada kerjaan yang di kasih daddy sedikit."
"Kenapa gak nawar aja, biar di kasihnya jangan banyak-banyak? lo kan masih kuliah Al. Butuh istirahat juga."
Setiap pulang kuliah, jika ada proyek pasti Alvaro akan mengurung diri di ruang kerja hingga larut malam. Dan tak jarang juga ketiduran di ruang kerja.
Tiara kasihan kepada suaminya itu. Tapi setiap melihat binar bahagia di wajah suaminya saat berhasil menyelesaikan proyek. Tiara jadi tidak tega untuk melarangnya.
"Gak papa sayang. Ini kan demi masa depan kita. Buat tabungan anak-anak kita juga." menggenggam tangan istrinya yang ada di atas meja.
"Apa sih Al. Hamil aja belum, udah mikirin tabungan buat mereka yang belum ada."
"Justru harus di pikirin dari sekarang kan? biar nanti setelah mereka ada, kita tinggal melanjutkan apa yang udah ada."
Pemikiran Alvaro memang selalu jauh di depan Tiara. Beruntung Tiara menikah muda dengan suami sedewasa Alvaro.
Coba bayangkan yang menikah dengannya teman-temannya yang lain. Yang masih senang main dan menghambur-hamburkan uang orang tua. Sangat berbeda dengan Alvaro yang sangat bertanggung jawab dan tidak mengandalkan uang orang tua. Meskipun orang tuanya lebih dari mampu untuk membiayi kehidupan mereka.
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa Like, Komen, sama Votenya ya 🤗💕