
Malamnya Tiara dan Alvaro langsung menuju apartemen mommy Shevi di Uper West Side yang merupakan lokasi Lincoln Center. Pusat berbagai seni pertunjukan.
Sangat dekat dengan Juilliard. Tempat ibunya menimba ilmu.
Hanya berjalan kaki tidak sampai lima menit dengan mengambil arah utara di Broadway menuju Columbus ave dan berbelok ke kiri menuju W 65th st.
Mommy lebih suka berjalan kaki karena selain dekat. Juga menghindari kemacetan di jalan Broadway.
Tak banyak yang berubah dengan partemen mereka. Masih setia dengan warna putih bersihnya.
"Istriku besar di kota sibuk ternyata." ucap Alvaro yang melingkarkan lengan di perut istrinya yang tengah menatap indahnya Manhattan di malam hari. Kota yang tak pernah tidur.
"Kaya Jakarta bukan kota sibuk aja." cibir Tiara bersamaan dengan kecupan Alvaro di leher jenjangnya.
Alvaro terkekeh. "Mandi sana. Aku pesenin makan malam. Sebentar lagi mau meeting bareng Dika sama Bobby."
Tiara berdecak kesal. "Liburan aja masih ngrusin kerjaan."
***
Masih dengan rambut terbungkus handuk, Tiara duduk di sofa kamar yang sudah tersaji menu makan malam. Dimana sang suami sudah duduk dengan memangku MacBook.
"Makan dulu pah.. Kerjanya nanti lagi."
Alvaro membuka mulutnya ketika Tiara menyodorkan garpu berisi pasta padanya.
"Makasih sayang." dengan mulut penuh Alvaro mendaratkan kecupan di pipi istrinya. Membuat wanita itu beseru kesal.
"Iiih kotor tau! Saos doang deh pipinya." wanita itu bersungut-sungut membersikan pipinya dari bekas saos yang menempel di bibir Alvaro.
Sedangkan pria yang membuat ulah hanya terkekeh dan kembali mendengarkan Dika yang tengah menjelaskan proyek baru.
"Si Dika. Udah mau cuti di suruh ngerjain laporan aja gak selesai-selesai." ucap Alvaro yang sudah menutup MacBook dan meletakkan benda persegi itu di atas meja.
"Lagian kenapa gak cari sekretaris aja sih? Kasian Dika kerjaannya banyak."
"Aku udah cocok sama kerja Dika. Lagian aku gak percaya sama karyawan baru."
"Tapi dia ada yang bantu kan?" Tiara masih terus menyuapkan pasta sesuap demi sesuap hingga piring suaminya kosong. Baru wanita itu memakan jatah makannya sendiri.
"Ada. Dia kan punya staf di bawahnya." Alvaro mengambil alih piring di tangan istrinya. "Sini papa suapi."
__ADS_1
Tiara tersenyum dengan suka rela menikmati setiap suapa dari sang suami.
Kapan terakhir mereka bisa memiliki waktu berdua seperti ini, tanpa anak-anak?
Sepertinya tidak pernah. Karena mereka tidak pernah pergi berdua tanpa membawa kedua jagoan mereka. Kecuali bekerja tentu saja.
Kadang Tiara merindukan waktu mereka yang seperti ini. Waktu yang hanya milik mereka berdua. Tidak memikirkan anak-anak dan pekerjaan.
***
Tiara sudah menghela napas berkali-kali. Bahkan kadang dengan sengaja menghela cukup keras agar Alvaro mendengar.
Mulutnya juga tak berhenti mencebik. Tapi suaminya masih serius dengan IPad. Memeriksa laporan yang dikirimkan Dika.
Padahal mereka sudah duduk di atas tempat tidur yang seharusnya tidak lagi memikirkan kerjaan.
Tiara tidur di pangkuan Alvaro. Berharap suaminya merespon. Namun nihil.
Berpindah memeluk perut suaminya dan membenamkan wajahnya di sana. Tetap tak ada respon.
Dengan kesal, wanita itu bangun dan menelusup di antara tangan Alvaro yang memegang IPad. Duduk di atas pangkuan suaminya dan iku melihat apa yang membuat suaminya mengabaikannya.
"Udah apa, Al, kerjanya. Kita tuh lagi liburan, tau gak?!"
Tiara berdecak. "Gak seru!" berlalu dengan menghentakan kaki. Membawa bantal serta selimut keluar kamar.
Alvaro menggeleng menahan senyum melihat tingkah istrinya. Ia bukannya tidak tau istrinya yang berusaha mengambil perhatiannya sedari tadi. Tapi ia hanya ingin tahu, sampai dimana usaha istrinya.
Sebenarnya pertahanannya hampir runtuh ketika Tiara menggerak-gerakkan wajah pada perutnya. Tapi sebisa mungkin pria itu tahan.
Setelah setengah jam membiarkan istrinya keluar kamar dengan keadaan kesal, Alvaro mematikan IPad dan menyusul wanita cantik yang tengah merajuk itu.
Alvaro mengulum senyum begitu membuka pintu kamar. Tiara yang tadinya masih duduk dengan bermain ponsel, langsung merebahkan diri dan masuk ke dalam selimut.
Istrinya itu masih sangat menggemaskan untuknya. Masih sering bertingkah kekanakan padahal anak-anak sudah besar.
Tapi itu justru jadi hal istimewa untuk Alvaro. Sikap manja di balik kemandirian istrinya membuat mereka selalu hangat.
"Yank.. Pindah kamar, yuk?" bujuk Alvaro yang sudah duduk di belakang punggung istrinya yang tidur menghadap sandaran sofa.
"Gak mau! tidur aja sama kerjaan, sana!" suara Tiara terdengar ketus meski teredam selimut.
__ADS_1
"Nanti aku gak bisa tidur, kalau kamu tidur di sini."
"Bodo amat!"
"Ayo dong sayang." diguncangnya pelan bahu istrinya. Tapi Tiara semakin mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya.
"Ya udah kalau kamu gak mau tidur di kamar. Aku tidur di sini aja."
Alvaro mengambil bantal sofa dan merebahkan dirinya di atas karpet tepat di bawah istrinya. Saat ada pergerakan selimut milik Tiara, Alvaro langsung memejamkan mata.
Terdengar decakan dan helaan napas sebelum suara istrinya terdengar. "Ngapain sih tidur di situ?"
"Ya abis kamu gak mau tidur di kamar." ucap Alvaro memasang wajah memelas.
Tiara menengadahkan kepalanya dalam posisi duduk dan menyemburkan napasnya. "Geser!"
Alvaro mengernyit mendengar nada perintah istrinya. Hingga kernyitan itu berubah menjadi senyum mengembang saat istrinya ikut membaringkan diri di sebelahnya. Menyelimuti tubuh mereka dalam satu selimut.
Alvaro memindahkan kepala istrinya dari bantal ke atas lengannya. Memudahkan pria itu memeluk sang istri.
"Lebih enak tidur begini kan? dimana pun tempatnya, asal bisa meluk kamu. Lantai yang keras aja serasa seperti tidur di atas bulu angsa yang empuk dan hangat."
"Lagian sibuk kerja mulu." Tiara menatap suaminya lekat. "Kita kan lagi liburan. Ngerayain Anniversary kita. Jadi bisa gak, lupain dulu kerjaan kamu."
"Bisa." jawab Alvaro yakin. "Aku janji hanya akan ada kita selama kita di sini. Jadi gak ngambek lagi kan?"
Tiara tersenyum dan menggeleng. Membuat Alvaro tidak kuasa untuk tak membenamkan bibirnya di atas bibir ceri milik istrinya. Ciuman yang semakin lama semakin menggelora dan menuntut lebih.
"May I?" ijin Alvaro saat membiarkan istrinya bernapas sejenak.
"I'm yours to keep." bisik Tiara dengan suara yang semakin membuat Alvaro tidak tahan untuk tak memakan istrinya saat itu juga.
Dan malam panjang pertama mereka di kota sejarah masa kecil Tiara terjadi. Tak perlu dengan kata untuk saling mengungkapkan rasa. Hanya dengan bahasa tubuh mereka tahu seberapa besar cinta yang di berikan oleh pasangan mereka.
Hanya suara peraduan mereka yang terdengar mengisi ruang tamu apartemen. Dua insan yang sama-sama tengah mencari kehangatan dan kepuasan. Rasa yang mereka ingin hanya diberikan oleh pasangan mereka saja.
*
*
*
__ADS_1
Ternyata lebih susah bikin ekstra part ya 😂 soalnya udah gak punya alur 🙊
Tapi meskipun belum dapet feel, semoga kalian suka ya 🤗🤗