
"Mampir ke ruang perawatan Sheril ya Al." Tiara masih kepikiran tentang gadis itu yang tidak sadarkan diri.
Sebagai sesama manusia dan sesama wanita. Ia tidak bisa abai begitu saja melihat orang yang ia kenal pingsan dan belum tahu kondisinya saat ini.
"Kamu gak cape? pulang aja ya.. besok-besok kita bisa datang lagi buat jenguk."
Melihat Tiara jalan dengan susah payah saja sudah membuatnya khawatir. Apa lagi membiarkan istrinya lelah seharian di luar rumah seperti ini.
"Aku gak papa sayang.. Mumpung masih bisa keluar. Aku juga pengen jalan-jalan ke mall ya?" pintanya dengan mata berbinar. Sudah lama rasanya tidak jalan ke mall berdua dengan suaminya ini.
"Aku pengen nonton. Pengen makan di restoran langganan kita juga." ucapnya dengan semangat menyebutkan list terbaik yang ia susun hari ini. "Oh iya.. Sama beli perlengkapan baby kita. Pasti seru deh Al, milih perlengkapan baby yang lucu-lucu."
"Tapi kan hamilnya belum tujuh bulan yank.. Kamu gak inget mommy sama ibu pernah ngingetin kita buat beli perlengkapan baby-nya kalau usia kehamilan kamu udah tujuh bulan."
Tiara berdecak sebal. "Kamu gak liat perut aku udah segede apa! sekarang buat jalan aja udah cape tau!"
Menuju ruang informasi untuk menanyakan ruang rawat inap Sheril.
"Kalau nunggu tujuh bulan, aku udah gak sanggup buat pergi-pergi Al! liat aja anak-anak kita yang pada cepet gede ini!" Tiara masih saja menggerutu.
"Kan kita bisa pakai kursi roda. Lagi pula ibu sama mommy pasti nanti siapin semua yang terbaik untuk cucu-cucu mereka ini sayang." meski kadang kekeras kepalaan istrinya menyulut emosi. Tapi sebisa mungkin ia menghadapinya dengan tutur kata yang lembut. Agar tidak ikut menyulut emosi istrinya yang berakibat buruk pada kehamilan.
Ibu hamil itu kembali berdecak lebih keras. Di tambah tatapan tajam dan langkah yang terhenti. "Aku kan juga mau pilih perlengkapan anak aku sendiri Al! kamu tuh kenapa sih gak ngerti banget maunya istri?! lagian ini jaman modern. Kenapa masih percaya aja sih sama mitos??" jika Tiara sudah bersungut-sungut seperti ini. Alvaro hanya bisa menghela napas dan mengalah.
"Ya udah. Nanti kita beli kalau udah di mall. Tapi pakai kursi roda ya. Biar mamang yang dorongin." penawaran yang langsung di setujui oleh Tiara dengan raut berbinar meski masih menyisakan sedikit rasa kesal.
Kursi roda milik Alvaro yang masih sedia di dalam mobil jika mereka pergi keluar. Entah mommy menyiapkan untuk Alvaro takut kakinya masih ngilu atau memang sudah memprediksi kondisi Tiara.
Alvaro bahkan tidak sampai berpikiran jika istrinya butuh kursi roda. Baru setelah dokter menjelaskan tadi, dia baru sadar jika istrinya tidak mungkin menanggung beban berat itu terlalu lama.
***
Di ruang perawatan Sheril. Ada ibu tiri Sheril juga seorang pria paruh baya yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Permisi Om, tante." sapa Tiara begitu mengetuk pintu dan di ijinkan untuk masuk.
"Iya. Cari siapa ya?" tanya pria paruh baya dengan sopan. Tidak terkesan ayah yang menelantarkan anaknya. Pikir Alvaro.
"Emm.. kami teman sekolah Sheril waktu di SMA dulu.." semoga saja Sheril tidak marah Tiara menyebut mereka teman. Batin Tiara.
"Ooh mau jenguk Sheril.. Ayo masuk masuk.." senyum tipis terukir di wajah lelah pria paruh baya itu. "Saya ayahnya Sheril. Makasih ya mau jengukin Sheril. Selama ini tidak ada yang menjenguk soalnya. Kedua teman Sheril yang Om tahu, kuliah di luar negeri katanya."
Tiara dan Alvaro tersenyum dan mengangguk. Tiara juga sempat mendengar dayang-dayang Sheril yang kuliah di kuar negeri. Bahkan dulu katanya Sheril juga di terima di universitas yang sama. Tapi sayang sekali gadis itu harus terbaring lemah seperti saat ini.
Ternyata ayah Sheril ramah sehingga mereka dapat mengobrol banyak. Tidak seperti ibu tiri Sheril yang sedari mereka memasuki pintu sudah memasang wajah tak bersahabat.
"Maaf kalau boleh tau, Sheril sakit apa ya Om?"
Pria paruh baya itu terlihat berat untuk menjawab. Ada gurat sedih di wajahnya. Seperti rasa menyesal dan takut yang tergambar jelas di penglihatan Alvaro.
"Dia mengidap kanker usus besar. Sama seperti almarhum ibunya." ujarnya lirih.
Tiara tercekat saat mengetahui penyakit yang di derita Sheril. Dia yang bukan siapa-siapanya saja merasa ikut sedih mendengar penuturan ayah Sheril. Apa lagi pria itu yang terdengar jelas suara bergetarnya.
"Boleh saya lihat Sheril dari dekat Om?" ijin Tiara. Takut mengganggu Sheril yang sedang beristirahat.
"Iya nggak apa-apa. Dia sudah sempat sadar tadi. Cuma tadi habis minum obat langsung tidur lagi."
Tiara mengangguk mengerti dan mendekati brangkar dimana Sheril terbaring.
Dengan satu tangan terdapat selang infus. Dan selang oksigen di hidung.
Tadi Tiara tidak sempat melihat dengan jelas keadaan Sheril. Setelah melihat dari dekat, tenggorokannya serasa tercekat.
Dia tidak seperti Sheril yang dulu dia kenal. Wajahnya sangat tirus sekarang. Bahkan kelopak matanya seakan menyusut dan menonjolkan bola matanya dengan sangat jelas di baliknya.
Badan yang tidak sesegar dulu yang selalu ribut dengannya. Jangankan untuk menampar Sheril seperti saat mereka berkelahi dulu. Memegang tangannya saja Tiara takut akan melukai gadis yang terlihat sangat rapuh di depannya ini.
__ADS_1
Satu lagi pemandangan yang mencuri perhatiannya. Di atas nakas terdapat sebuah foto dengan bingkai warna putih. Foto pemuda yang tengah tersenyum ke arah kamera memakai seragam SMA.
"Ternyata segitu besar cinta lo buat Dika, Sher.." gumam Tiara dalam hati. Foto Dika yang sepertinya di ambil saat euforia kelulusan dulu. Terlihat dari baju seragam Dika yang di penuhi coreta spidol serta warna-warni cat semprot.
Pantas saja dulu Sheril tega menjebak dirinya dan Alvaro dalam sebuh kamar hotel hanya untuk menjauhkannya dengan Dika. Ternyata Sheril bukan hanya sekedar terobsesi dengan laki-laki itu. Sheril benar-benar jatuh cinta. Hanya caranya saja yang salah dalam mendekati Dika.
"Eh.. Tiara kenal sama pemuda di foto itu?" tanya ayah Sheril saat dirinya meletakan kembali foto berbingkai itu ke atas nakas.
"Kenal Om. Kita satu sekolah juga dulu."
"Bisa Om minta tolong pada kalian berdua?"
Alvaro dan Tiara saling pandang dengan dahi mengernyit.
"Tolong Om untuk meminta pemuda itu datang kemari. Siapa tahu jika dia ada disini. Sheril mau menjalani kemoterapi."
Ayah itu mengusap rambut anaknya dengan segenap cinta dan kasih sayang.
"Peluang Sheril untuk sembuh masih sangat besar asal dia mau menjalankan kemo. Tapi anak ini selalu menolak terutama jika saya tidak bisa menemani."
"Lalu kenapa harus Dika. Sedangkan yang Sheril inginkan itu Om?" tanya Alvaro bingung. Dia masih ingat jelas saat Sheril bergumam ayahnya tidak ada waktu untuk menemani kemoterapi.
"Awal dia kemo saya selalu tidak bisa karena ada meeting. Mungkin dia sudah terlalu kecewa sehingga sekarang walau saya sudah membujuk dan berjanji akan menemani dia selalu menolak."
"Tapi Sheril selalu membawa foto pemuda itu. Bahkan saat di pindah kamar dan foto itu tertinggal saja, dia mengamuk dan melempar semua barang yang ada di sekelilingnya."
"Om pikir dia pemuda yang berarti untuk putri Om. Mungkin bisa memberi semangat untuk anak Om sembuh."
*
*
*
__ADS_1