DEMI DIA

DEMI DIA
Pengakuan Shera


__ADS_3

Semenjak hari dimana Shera menangis dia mulai menjauhi Shevi. Tidak pernah menyapa duluan dan hanya menjawab jika ditanya, itupun hanya sepatah dua patah kata.


Bunda Karina juga sudah berusaha mengakurkan kembali kedua putrinya. Tapi meluluhkan hati Shera tidak segampang meluluhkan hati Shevi. Shera lebih keras kepala seperti almarhum ayahnya. Dan Shera cenderung mengambil kesimpulan seperti apa yang dia lihat tanpa mau mendengarkan orang lain. Bunda cuma berdoa semoga anak - anaknya akan kembali akur seperti sedia kala. Sleama mereka tak saling menyakiti bunda hanya akan bersikap seperti biasa, tidak akan memihak kesalah satu dari putri kembarnya agar tidak ada yang merasa tersakiti.


Shevi yang merasa aneh dengan kakaknya sampai bingung harus bagaimana. Dia sudah membujuk kakaknya dengan berbagai cara.


Dia sudah minta maaf walau tidak tahu letak kesalahannya dimana. Dia ingat waktu dia meminta maaf kepada Shera. Waktu itu dia datang ke kamar Shera sehabis makan malam.


" Kak aku boleh masuk ya ? " Shevi sudah menjulurkan kepalanya kedalam setelah membuka pintu.


Shera yang awalnya tiduran beranjak duduk dan berdeham sebagai jawaban.


Shevi melangkah mendekat dan duduk bersila disamping Shera.


" Kakak kenapa si? kok kayaknya menghindar gitu dari Shevi. "


" Aku gak papa kok " Shera menjawab dengan suara dingin tak seperti Shera yang biasanya berkata lemah lembut terhadapnya dan yang lain.


Sekarang sikap Shera ke Shevi dingin dan tak tersentuh. Shevi tidak tahu salahnya apa samapai kakaknya marah dan mendiamkannya seperti ini.


" Kalo Shevi ada salah, Shevi minta maaf kak. Kakak jangan giniin Shevi terus ya??" Mohonnya dengan wajah sedih. Shevi merasa sakit diperlakukan seperti ini oleh kakaknya apa lagi kembarannya yang sudah bersama dari waktu mereka masih segumpal darah.


" Emang kamu tahu salah kamu apa sampai minta maaf ?? "


" Shevi gak tahu salah Shevi apa. Tapi Shevi janji akan lebih baik lagi ke Kak Shera. " Shevi menangkupkan ledua tangannya didepan wajahnya memohon untuk dimaafkan.


" Kalo kamu gak merasa bersalah ngapain juga minta maaf. Udah sana pergi aku mau istirahat gak usah gangguin aku lagi. Mulai sekarang anggep aja aku gak ada dirumah ini !! dan aku juga akan menganggap kamu gak ada dirumah ini !! " Shera langsung merebahkan tubuhnya dan menarik sdlimut sampai menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya.


" Kak... kenapa kakak jadi kaya gini si " Shevi tak kuasa menahan air matanya. Apakah begitu besar kesalahannya terhadap Shera sehingga kakaknya itu tak mau memaafkannya dan malah menyuruhnya untuk tak menganggap keberadaanya.


Apakah kakaknya tak mau lagi mempunyai saudara sepertinya??

__ADS_1


***


Berbulan - bulan berlalu dan Shera benar - benar tak menganggap keberadaan Shevi ada didrumah itu.


Shevi yang sudah merasa lelah diacuhkan padahal sudah berusaha berbuat baik kepada Shera akhirnya mengikuti kemauan Shera untuk mengacuhkannya.


Shevi hanya akan menyapa bunda dan adiknya ketika sarapan. Hanya mengobrol dan bercanda dengan Rasya ketika sepulang dari sekolah. Hanya akan curhat tentang kesehariannya disekolah beserta keisengan teman - temannya kepada sang bunda pada malam hari sebelum tidur.


Bunda Karina sedih melihat keduanya yang tak saling menyapa dan bermusuhan seperti itu. Tapi dia tak bisa juga meluluhkan hati Shera. Dia hanya akan menghela nafas berat saat melihat kedua putrinya berpapasan tapi tak saling menegur sapa. Atau saat makan bersama tapi tak mau saling menatap. Ibu mana yang ingin anak - anaknya bermusuhan begini.


***


Enam bulan berlalu. Alvin besok pagi akan terbang untuk menempuh pendidikannya di Belanda seperti keinginan sang papi.


Mungkin dia hanya akan pulang saat libur semester atau bahkan hanya pulang setahun sekali. Sekarang dia sedang berada di rumah Shevi berkumpul untuk terakhir kali sebelum dia berangkat.


" Abang berangkat jam berapa besok ?? " Rasya sedih akan ditinggal abangnya itu. Karena kedua kakaknya perempuan dan hanya Alvin laki - laki tempatnya bermain dirumah ini.


" Jangan lama - lama ya bang. Kan gak seru kalo main sama Kak Shevi apa kak Shera. Apa lagi mereka kaya orang gak kenal gitu " Sindir Rasya sambil melirik kedua kakaknya yang duduk saling berjauhan, Shevi duduk didekat bunda dan Shera disebelah Rasya.


Alvin memandang kedua gadis itu bergantian sambil menghela nafasnya.


" Ra.. Vi.. Abang udah mau berangkat lho. Mau ninggalin kalian lama. Masa kalian masih mau diem - dieman terus kaya gitu si? Mau sampai kapan ?? "


" Gue si gak masalah ya bang mau sampe kapan. Toh itu semua kemauan dia buka gue yang mau kaya gini " Shevi mengedikkan kedua bahunya santai.


" Shera.. Jalan yuk ?? " Ajak Alvin saat Shera diam saja.


" Mau kemana ?? " Tanya Shera lembut.


Cih.. Shevi berdecih geli. Sama yang lain aja lembut, sama gue udah kaya es kutub - Shevi

__ADS_1


" Taman aja yang deket yuk " Shera lalu menganggukan kepalanya dan beranjak berdiri mengikuti Alvin yang mulai keluar setelah meminta ijin pada Bunda Karina.


Setelah mereka sampai ditaman depan komplek mereka, Alvin mengajaknya duduk dibangku taman dibawah pohon yang cukup teduh.


" Sebenernya kamu kenapa si ra sama Shevi. Abang janji gak akan menghakimi kamu. Abang akan dengerin dari sisi kamu biar abang ngerti kenapa bisa kamu kaya gitu ke Shevi " Alvin bertanya hati - hati agar tidak menyinggung Shera dan agar tidak terlihat memihak kepada siapapun.


Shera menghela nafasnya. Mungkin sudah saatnya ada yang tahu apa yang dia rasakan selama ini. Mungkin Alvin bisa menjadi tempat untuknya berbagi. Dan mungkin setelah berbagi dia akan sedikit lega.


" Shera cuma ngerasa hidup ini terlalu memihak sama Shevi bang. Shera ngerasa hidup ini gak adil sama Shera " Shera menatap lurus kedepan dengan tatapan sendunya.


" Semua orang menyayangi Shevi termasuk aku.. Aku iri Shevi bisa sekolah, bisa punya banyak temen. Awalnya aku merasa biasa saja. Tapi lama kelamaan aku mikir kenapa aku gak bisa dapetin kebahagiaan seperti apa yang Shevi dapetin. Bisa main sepuasnya sama temen - temannya dan pulang dengan wajah berbinar bahagia " Shera menoleh ke Alvin dengan senyum yang dipaksakan dan mata yang mulai berkaca - kaca.


" Shera juga pengen bahagia seperti bahagianya Shevi bang. Shera emang bahagia punya keluarga yang begitu peduli sama Shera. Tapi bahagianya Shera gak selengkap Shevi. Mungkin kebahagiaanku cuma separuh dari yang dia miliki " Shera menjeda kata - katanya untuk menarik nafas panjang mencegah air matanya semakin banyak berjatuhan.


" Apa lagi saat Shera melihat Shevi sakit dan abang begitu perhatiaannya sama Shevi "


Deg. Alvin merasa bersalah disini. Dia tidak menyangka perhatiannya pada Shevi akan menyakiti Shera dan membuat gadis itu membenci kembarannya sendiri.


" Bukannya Shevi sudah cukup mendapatkan perhatian dari bunda dan teman - temannya ?? bahkan perhatian dari mami abang juga !! kenapa abang juga harus sebegitu perhatiaanya ?? " Shera menghapus airmatanya dan melihat ekspresi Alvin dan kembali menghadap depan.


" Bukankah semenjak ayah meninggal abang lebih dekat sama aku?? Tapi kenapa abang lebih sayang sama Shevi ?? " Shera bimbang haruskah dia mengakui perasaanya sekarang sebelum pemuda itu berangkat ke Belanda.


" Apa abang gak merasa kalau aku suka sama abang?? aku sayang sama abang !! aku cinta sama abang !! "


*


*


*


Happy Reading 💕

__ADS_1


__ADS_2