
" Untuk apa bertanggung jawab. Memang dia gak pantes kok masuk sekolah ini. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saya gak mau anak kamu membawa pengaruh buruk terhadap anak - anak kami disini. Saya mewakili wali murid yang lain. Karena anak yang terlahir dari orang tua yang tak bermoral. Akan tumbuh menjadi manusia tak bermoral juga. Kata - kata saya yang mana yang salah. Bukankah Tiara lahir tanpa ikatan pernikahan. Kalian baru menikah kan ?? Jadi saya tidak salah jika menyebut anakmu itu anak haram. " Sungguh kali ini emosi Shevi sudah sampai di ubun - ubun. Apa lagi melihat sikap ibu itu yang terlihat sombong dan mengejeknya.
" Maaf ibu. Mohon dijaga ucapannya. Kita sebagai orang tua harus menjadi contoh yang baik kepada anak - anak kita. " Kepala sekolah yang sedari tadi hanya bisa diam kini mencoba menengahi.
" Dan untuk ibu Shevi saya mohon maaf untuk ketidak nyamanannya. Kami bukan ingin membiarkan saja hal kemarin terjadi. Akan tetapi kejadiannya terjadi begitu saja dan guru kami tidak tahu hal seperti itu akan terjadi. Sekali lagi kami minta maaf. "
" Tidak apa bu. Sekarang saya tahu kalau kalian memang tidak bisa mencegah hal seperti itu terjadi. Lagian siapa juga yang akan menyangka ada ibu - ibu menghina anak saya hanya karena anak saya mendapat peran utama drama sekolah. Saya kira pemikiran ibu - ibu disekolah Internasional seperti ini tidak akan sepicik itu. " Jawab Shevi santai.
" Apa kamu bilang !! Jadi maksud kamu kalau aku picik !! " Suara ibu itu mulai meninggi.
" Maaf ibu Mala mohon untuk menjaga emosinya !! " Seru Kepala sekolah.
" Saya dan suami saya memang salah. Tapi Tiara terlahir dalam keadaan suci. Tidak ada anak yang lahir dengan menanggung dosa orang tuanya. Lebih baik ibu pikirkan saja dosa yang ibu miliki. Tidak perlu memikirkan dosa orang lain. "
" Jika ibu Mala yang terhormat ingin anaknya dapat peran utama latih biar anaknya berprestasi bukannya malah memaki - maki anak saya !! " Sungguh Shevi tidak ingin membuat keributan disekolah ini. Jiwa muda pemberontaknya masih sangat kuat ditubuhnya. Jangan sampai dia lepas kontrol disini.
" Dan ibu kepala sekolah. Tolong ganti peran anak saya dengan peran yang lain. Anak saya masih punya bakat lainnya seperti piano mungkin. Berikan saja peran dramanya kepada anak ibu Mala yang suci itu. Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Karena anak saya jadi takut untuk sekolah. Saya permisi. " Shevi membungkukan badanya sedikit dan berlalu pergi.
***
" Ke kantor Bapak, mang. " Shevi masih sangat emosi dengan kejadian tadi. Dia tidak ingin pulang dan menemui anaknya dalam keadaan emosi. Lebih baik menemui suaminya untuk mendinginkan hati dan pikirannya.
Jalanan tidak terlalu macet karena sudah lewat jam makan siang. Shevi yang emosi langsung tertidur saat mobil baru melaju beberapa menit. Padahal tadi dirinya bangun saat jam makan siang. Tapi emosi membuatnya kembali mengantuk.
Beberapa saat kemudian Mang Ian membangunkannya. " Maaf bu kita sudah sampai. " Shevi mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling yang ternyata mobil sudah berhenti di pintu masuk kantor.
" Mang Ian pulang aja. Biar nanti saya pulang bareng bapak. Bilang juga ke Mei kalau saya disini biar Tiara gak nyariin. " Pesan Shevi kepada sopirnya yang sedang berdiri membukakan pintu untuknya.
" Baik bu.. " Setelah mendapatkan jawaban Shevi berlalu memasuki gedung pencakar langit tempat dimana suaminya mengais rejeki.
__ADS_1
Shevi menaiki lift khusus yang menuju ruangan suaminya. Sesampainya di lantai tujuannya dia melihat Jodi sedang sibuk dengan telefon di telinganya.
Shevi mengangkat tangannya sebagai tanda jika Jodi tidak perlu mengantarnya dan melanjutkan saja pekerjaannya. Jodi mengangguk dan tersenyum ramah kepada istri bosnya.
" Masss.. " Shevi melongokkan kepalanya kedalam ruangan kemudian melangkah masuk saat senyum suaminya menyambut kedatangannya.
" Kamu kesini yank ? udah sembuh emang ?? " Berdiri dan merentangkan tangan siap memeluk istrinya.
" Aku kangen lama - lama jauh dari kamu.. " Rengeknya didalam pelukan suaminya.
" Kamu manja banget hari ini ?? Tapi aku suka sih." Alvin terkekeh kecil.
" Udah makan siang ?? " Melepas pelukannya dan mengajak istrinya duduk di sofa ruangannya.
" Udah mas. Tadi bangun pas makan siang. Abis makan langsung ke sekolah. "
" Ya gitu lah mas.. Cuma ngebahas pemeran drama buat perpisahan nanti. "
" Tiara jadi apa ?? " Tanya Alvin semakin antusias.
" Tadinya sih jadi pemeran utama. Tapi ada ibu - ibu yang juga ingin anaknya jadi pemeran utama. Ya udah aku suruh aja Tiara di ganti jadi pemain pianonya yang ngiringin drama. " Alvin sedikit kecewa saat anaknya tidak mendapatkan peran utama.
" Yaahh harusnya biarin aja Tiara yang jadi pemeran utama. Toh Tiara yang kepilih. Pasti kan gurunya juga milih Tiara bukan asal tunjuk. Pasti karena anak kita berbakat makanya terpilih. Apa lagi cantik begitu, pasti kan cocok jasi putri - putri begitu. " Shevi terkekeh melihat suaminya protes panjang lebar.
" Kamu tuh kaya ibu - ibu aja mas protesnya panjang lebar hahaha. " Yang tadinya datang dengan emosi akhirnya bisa tertawa juga.
" Ya abisan kamu.. Udah bagus anak kita jadi pemeran utama. Segala minta di ganti. " Melipat tangan di depan dada dengan bibir terus menggerutu.
" Ya gak papa mas.. Malah Tiara jadi gak cape harus latihan sepulang sekolah. Kalau piano kan dia bisa latihan dirumah. Dan lagi pemeran utama tuh gak tampil sepanjang acara. Kalau Tiara kan tampil sepanjang acara. " Shevi mengedikkan bahunya. Walaupun dia juga sebenarnya ingin anaknya yang menjadi pemeran utama. Tapi tak apa lah dari pada anaknya di maki - maki.
__ADS_1
" Ah gak seru kamu yank.. " Shevi semakin tertawa melihat suaminya merajuk. Di amitnya kedua pipi suaminya dan..
Cup. Kecupan sekilas mendarat sempurna dibibir Alvin.
" Yang penting anak kita happy.. " Alvin mengalah untuk kali ini.
" Emang acaranya kapan ?? "
" Akhir bulan ini kalo gak salah.. "
" Kita harus nonton. Aku bakalan jadi daddy terheboh yang memberi semangat kepada putriku yang membanggakan.. " Alvin menepuk dadanya dengan jumawa.
" Iya iya.. " Memeluk suaminya dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
" Aku kangen daddy.. " Suara manja Shevi kembali terdengar.
" Jangan menggoda. Nanti aku khilaf.. " Alvin memperingatkan.
" Khilaf juga gak papa.. " Alvin mengerang mendengar jawaban istrinya.
" Udah kamu istirahat di kamar aja. Aku masih banyak pekerjaan. " Alvin menggendong istrinya dan membaringkan dengan pelan di kasur yang nyaman. Kecupan di dahi dan bibir istrinya juga tidak terlupakan.
" Jadi daddy gak jadi khilaf nih.. " Shevi membuka dua kancing teratas untuk menggoda suaminya. Alvin mengerang lagi dan langsung menyelimuti tubuh istrinya sebelum kemudian langsung kabur kembali bekerja. Shevi terkekeh melihat tingkah suaminya.
*
*
*
__ADS_1