DEMI DIA

DEMI DIA
Bikin Pusing Jodi


__ADS_3

" Permisi pak. Bapak mau makan siang di luar atau mau saya pesankan saja? " Jam sudah menunjukan waktunya makan siang. Tapi atasannya masih betah dengan dokumen - dokumen di mejannya.


" Kamu belikan saja Jo. Tapi bisa gak beliin asinan Bogor yang diperbatasan Bogor itu." Jodi menganga mendengar permintaan bosnya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Alvin meminta makanan yang aneh - aneh.


Jika dirumah Alvin yang dibikin pusing dengan keinginan istrinya, dikantor justru Jodi yang pusing dengan segala macam keinginan bosnya yang kadang tidak masuk akal.


" Waktu itu saya pernah beli buat Tania disana. Kayaknya enak. nanti saya kirimkan alamatnya ke kamu."


" Ta-tapi pak. Bogor kan jauh. " Dari sekian banyak keinginan Alvin yang ingin dia tolak, sepertinya ini yang sangat enggan dia turuti. Biasanya hanya makanan aneh yang masih bisa Jodi dapatkan di daerah Jakarta. Ini Bogor lho, jam makan siang pula. Mau sampai disini lagi jam berapa nanti.


" Kamu boleh kok makan siang dulu sebelum pergi. Sekalian pesenin saya gado - gado sama jus jeruk di kafetaria, kasih kerupuk yang banyak." Jodi menghela napas mengalah. Begini nasib jadi bawahan, dan begini nasib melayani pria ngidam.


" Baik pak, saya pesankan dulu. Permisi. "


***


Tak lama setelah Jodi meninggalkan ruangannya, makanan yang ia pesan di antarkan salah satu staf kantor. Alvin meregangkan ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama menunduk selama bekerja.


Bangkit menuju sofa dimana makan siangnya tersedia. Dan saat Itu juga ponselnya berdering. Senyum mengembang dibibirnya saat membaca nama si penelfon yang ternyata istrinya.


" Halo sayang.. " Meloadspeaker telefon dan meletakannya di atas meja untuk memudahkan dia untuk makan.


" Lagi apa mas? " Tanya istrinya diseberang sana.


" Lagi makan siang. Kamu udah makan? anak - anak pada rewel gak? " Sesuap gado - gado masuk kedalam mulutnya. Alvin mengangkukan kepalanya saat rasa enak gado - gado menyebar di mulutnya.


" Aku udah makan banyak seperti biasa. Anak - anak bisa kompromi kalo udah siang begini. Kamu makan dimana sama siapa? " Keposesifan istrinya mulai beraksi.


" Dikantor sayang. Sendirian. "


" Emang Jodi kemana? Kamu di kafetaria sendirian mau tebar pesona??!! " Naik satu oktaf.


" Mana mungkin suamimu ini tebar pesona si sayang. Aku makam diruanganku kok. " Mode suami penyayang. Atau suami takut istri?


" Makan apa?! " Masih dengan nada jutek.


" Makam gado - gado. Kamu mau? Nanti pulangnya aku beliin. "


" Mauuuu.. Tapi yang pakai kacang mete ya mas." Jawabnya antusias dengan air liur diujung lidah.

__ADS_1


" Hah? Kacang mete? cari dimana yank? " Sesaat gado - gadonya susah ditelan. Dilanda kebingungan harus mencari gado - gado dengan kacang mete dimana.


" Ya cari dong mas!! gitu aja gak bisa, sok - sokan mau nurutin semua permintaan aku!! " Naik dua oktaf.


" I-iya sayang. Nanti pas pulang aku cariin ya. Tapi jangan ngambek dong sayangku.. cintaku.. bidadariku.. nanti anak - anak kita sedih. " Jurus terakhir, Rayuan mengalah.


" Ya udah. Awas kalo gak dapet!! "


Tut. telfon dimatikan sebelum Alvin sempat menjawab.


Mau menggerutu takut kualat. Mau marah tapi sayang. Jadi yang bisa dia lakukan hanya mengalah dan bersabar.


***


Menjelang pukul tiga sore Jodi baru kembali dari pencariannya mencari asinan ditempat yang Alvin maksud.


Jodi menyuruh officegirl untuk memindahkan asinan ke piring sebelum dia mengantarkannya kepada atasannya.


" Ini mas Jodi. " Pegawai wanita itu memberikan sepiring asinan dan air mineral kepada Jodi.


" Makasih mbak. " Mengambil nampan dan mengantar ke ruangan atasannya.


" Tunggu Jo. Temenin saya makan. " Sebenarnya masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan oleh Jodi. Tapi perintah atasannya juga kerjaannya.


Jodi duduk di sofa yang berseberangan dengan Alvin. Duduk diam mengamati Alvin yang sedang memakan asinan yang dibelinya.


" Ternyata tidak seenak yang saya bayangin Jo. Kamu habisin ya! " Baru satu suap dan Alvin tidak menyukai rasanya.


" Tapi pak. Saya sudah makan siang tadi. " Bukan apa - apa. Jodi bisa saja makan dua porsi makan siang. Masalahnya dia tidak menyukai rasa asinan yang asam dari cuka pada buah - buahan yang aneh dilidahnya.


" Biasanya kamu makan banyak. Ayo habiskan. Sama saya mau kamu carikan satu makanan lagi setelah kamu selesai makan! "


" Ini aja gak dimakan, lo nyuruh gue nyari apa lagi pakkkk.. " Tangis Jodi dalam hati.


Jodi menelan makanannya dengan susah payang. Cairan lambung yang naik ke tenggorokan dengan susah payah dia telan kembali.


Hampir satu jam Jodi baru bisa menghabiskam asinannya. " Lama banget kamu makannya, kaya cewek! " Cibir Alvin yang hanya ditanggapi senyum getir Jodi.


" Kamu tolong belikan gado - gado yang pakai bumbu kacang mete buat istri saya. "

__ADS_1


" Gado - gado kacang mete? Beli dimana pak? "


" Mana saya tau. Kalau tau, saya sudah beli sendiri!! " Jodi semakin menangis dalam hati. Belum juga menikah, tapi sudah harus melayani keinginan orang yang mengidam.


" Baik pak. Nanti saya tanyakan sama ibu yang jualan gado - gado di kafetaria. " Jodi pamit keluar dengan membawa nampan berisi piring bekas asinan.


***


Keadaan kafetaria sudah sepi. Hanya ada beberapa kariawan yang mungkin telat makan siang karena pekerjaan mereka. Jodi mendekati ibu - ibu yang berjualan gado - gado yang tadi siang dibelinya.


" Bu. Gado - gadonya bisa pake kacang mete gak kacangnya diganti gitu. " Jodi berucap dengan wajah lelah dan memelas.


" Aduh mas Jodi ada - ada saja. Ibu mana ada kacang mete! " Bahu Jodi turun mendengar jawaban ibu itu.


" Terus aku harus beli dimana dong bu? " Rasanya sudah lelah bolak - balik Bogor. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mencari gado - gado tidak biasa itu di seluruh Jakarta.


" Gimana kalau mas Jodi beli kacang mete mentah aja di supermarket depan. Nanti ibu goreng dan bikinin gado - gadonya. " Seketika mata Jodi berbinar.


" Oke bu. Aku beli dulu. " Ibu penjual gado - gado yang diketahui namanya Wati itu sampai menggelengkan kepalanya melihat Jodi berlari dengan semangat.


Tak lama kemudian Jodi sudah kembali dengan kantong kresek berisi kacang mete yang masih mentah dan menyerahkannya kepada Ibu Wati.


" Emang buat siapa sih mas? Bosnya ngidam lagi? " Ibu Wati memang sering melayani pesanan aneh Jodi yang katanya untuk Bosnya yang mengidam.


" Iya bu. Tapi kali ini bukan buat pak Bos. Tapi buat istrinya."


" Mas Jodi gak mau nyari istri? Biar gak direpotin sama ngidamnya istri orang terus. Tapi ngerasain juga rasanya istri mengidam itu seperti apa!! " Ibu Wati mulai mengulek bumbu gado - gado dengan kacang mete.


" Gak deh bu. Bos aja udah bikin pusing, mana kerjaan banyak belum diselesaikan. Permintaannya tiap hari makin aneh. Kalo istri saya yang minta, bisa - bisa saya marah - marah. Ini karena bos aja makanya saya sabar!! " Ibu Wati terkekeh dengan gerutuan Jodi.


*


*


*


Mau tanya dong. Menurut kalian season duanya disini atau ganti novel baru ya? soalnya bukan kisah Alvin sama Shevi lagi. Tapi cerita anak mereka.


Dan kalau like sama komennya banyak. Aku liburnya gak lama - lama, langsung aku tulis season dua setelah aku nabung beberapa episode. Jadi banyakin like dan komen ya...

__ADS_1


Maksa banget ya aku 😁 Makasih yang sudah setia menemani sampai sejauh ini. Sayang kalian semua 😘💕


__ADS_2