DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Antar Pria


__ADS_3

Tak ada orang tua yang ingin rumah tangga anaknya berantakan. Begitu juga dengan daddy Alvin yang menghela napas berat begitu mendengar penuturan anak menantunya.


Meskipun sebagai orang tua ia tidak bisa melakukan apa pun selain menasehati.


"Coba lah untuk duduk bersama. Bicarakan apa yang membuat kamu kurang nyaman dengan Tiara." Alvaro dapat melihat sorot kekhawatiran pada tatapan daddy Alvin.


"Tiara jika sudah fokus dalam satu hal memang sering lupa dengan yang lainnya. Dan kamu sebagai suami yang harus menasehati dia."


"Bicarakan baik-baik. Cari waktu yang tepat. Kalau terlalu di paksakan, nanti malah dia menangkapnya kamu yang gak ngertiin dia." daddy Alvin sangat paham dengan sifat putri sulungnya, yang jika langsung di ajak tegas, justru akan semakin memberontak.


Menghadapi Tiara butuh kesabaran. Tapi sejujurnya Tiara bukan anak yang susah di atur.


"Daddy bukannya ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Daddy cuma tidak ingin kalian menyesal di kemudian hari."


Alvaro diam mendengarkan. Tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang begitulah keadaan rumah tangganya saat ini.


"Selagi saat ini masalahnya hanya komunikasi dan masih bisa di perbaiki. Maka secepatnya kalian perbaiki. Kalau di biarkan berlarut-larut masalahnya akan semakin membesar dan melahap kalian dengan penyesalan."


"Ingat anak-anak kalian. Jangan sampai kalian hanya mementingkan ego masing-masing. Bayangin Fari sama Vindra ketika kalian merasa bosan. Jangan sampai kalian membuka pintu untuk orang ketiga dalam rumah tangga kalian."


Alvaro yang tadinya sedang menunduk seketika mendongak dan menatap daddy Alvin tepat di manik mata.


"Daddy tidak tahu ada hubungan apa antara kamu dengan putri pengusaha batu bara itu." Alvaro tahu siapa yang dimaksud disini.


"Kami hanya berteman, dad." Alvaro langsung menjawab. Tak ingin ayah mertuanya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Ya.. daddy harap, apa yang kamu ucapkan, itu kenyataannya." daddy Alvin masih berbicara dengan tenang. Tanpa luapa emosi, sekalipun yang sedang mereka bicarakan adalah kebahagiaan putrinya.


Alvaro jadi berpikir, kapan ia bisa setenang ayah mertuanya saat menghadapi masalah.


"Tapi kamu tentu tahu jika mommy-mu sangat tidak suka melihat interaksi kalian kemarin. Apa lagi dengan percaya dirinya gadis itu mendekatimu."

__ADS_1


Alvaro kembali menunduk. Mengakui kesalahannya yang tidak bisa menolak Pita kemarin.


"Begitu juga pandangan Tiara ketika melihat kamu dan gadis itu. Anak daddy tidak mungkin mau menunggu penjelasan disaat dia melihat ada gadis lain yang menempel pada suaminya. Mungkin kamu pernah melihat reaksinya sebelum kamu kecelakaan dulu."


Ya. Tiara sangat marah dan lari begitu saja ketika sahabat lamanya memeluk dirinya di cafe hampir tiga tahun lalu.


Istrinya tidak mau mendengarkan apa pun penjelasannya. Padahal dulu ia juga tidak menyangka akan di peluk seperti itu.


Apa lagi jika Tiara tahu dirinya dekat dengan Pita. Akan seperti apa reaksi istrinya kali ini?


Apa Tiara akan langsung melemparkan surat cerai ke depan wajahnya?


"Sekali lagi, Al. Jangan sampai kamu menyesal. Menduakan atau bahkan meninggalkan anak daddy yang saat ini kamu anggap membosankan karena sibuk kuliah, demi rasa yang semu. Demi gadis lain yang kamu anggap lebih menarik. Yang kamu anggap lebih mengerti dan memahami kamu."


"Disini daddy sedang berperan sebagai sesama pria, Al. Bukan berperan sebagai ayah yang menghadapi menantunya."


Ya. Alvaro mengerti. Karena sekalipun tidak terlihat jika daddy Alvin menghakimi dirinya. Sejak awal yang keluar hanya nasihat.


"Jika daddy berperan sebagai seorang ayah. Mungkin daddy sudah menghajar kamu habis-habisan. Karena bagi daddy putri daddy-lah yang terbaik."


Alvaro mengangguk lemah. Meski pria itu menunduk. Tapi ia bisa merasakan tatapan daddy Alvin yang tertancap untuknya.


"Dan perlu kamu ingat lagi, Al." Alvaro memberanikan menatap sang mertua.


"Gadis yang kamu lihat lebih baik dari Tiara, belum tentu kenyataannya lebih baik." Alvaro mengernyit tidak paham.


"Belum tentu jika gadis itu yang ada di posisi Tiara saat ini masih bisa melakukan semua yang Tiara kerjakan setiap hari untuk keluarga kecil kalian."


"Belum tentu gadis itu bisa bangun pagi-pagi untuk memandikan kedua jagoanmu, menyiapkan perlengkapanmu, menyiapkan sarapan untuk kalian. Belum tentu ia bisa berangkat kuliah dengan kondisi pikiran yang tetap jernih setelah segala kesibukan paginya Belum lagi jika anak-anak rewel." daddy Alvin sangat hapal kegiatan Tiara karena mereka belum lama pindah rumah.


Hati Alvaro mencelos seketika. Dia merasa sangat bersalah kepada istrinya. Dia bahkan tidak pernah mengucapkan terimakasih belakangan ini atas semua yang istrinya lakukan.

__ADS_1


Baginya, istrinya sedang sangat menyebalkan karena terlalu sibuk dengan kuliah dan segala tugasnya.


"Dan belum tentu gadis itu tetap bisa melayanimu di atas ranjang dengan baik setelah segala stres dan lelahnya di kampus."


Air mata Alvaro membayang di kedua kelopak matanya.


"Tiara masih melayanimu dengan baik kan?" sambung daddy Alvin.


Sedangkan Alvaro hanya mampu mengangguk. Istrinya memang masih memberikan kebutuhan biologisnya dengan baik. Selelah apa pun, Tiara tidak pernah menolak jika ia meminta haknya sebagai suami. Tidak pernah melayani dengan wajah di tekuk atau rasa terpaksa. Wanita muda itu menjalankan kewajibannya dengan sangat baik.


"Daddy juga pernah muda, Al. Jadi daddy tahu jiwa muda kamu yang ingin berpetualang. Masih ingin merasakan musim semi di negara tetangga, meski kamu sudah punya musim semi sendiri di negaramu. Masih ingin merasakan debaran yang lain atau apa lah itu."


"Mungkin daddy tidak menikah semuda kamu. Jadi daddy tidak tahu persis bagaimana perasaanmu sekarang. Menikah di usia muda dengan sifat yang masih sangat labil. Masih belum bisa memegang komitmen."


"Tapi daddy percaya kamu pria yang tepat untuk putri daddy." Alvaro merasa malu di percaya sedemikian rupa.


"Daddy percaya kamu hanya sedang mencari sesuatu yang dapat memantapkan hati kamu. Mencari jati diri, jika masih bisa disebut seperti itu. Dan daddy yakin kamu bisa setia pada istrimu seperti daddy setia dengan mommy-mu."


"Mommy-mu itu cinta pertama dan terakhir untuk daddy. Dari dia masih kecil udah daddy jagain, sampai dewasa dan saat ini. Daddy selalu jatuh cinta dengan wanita cantik itu." ada pancaran bahagia saat daddy Alvin mengucapkannya. Pandangannya juga menerawang jauh membayangkan wanita yang tengah ia bicarakan.


"Cinta akan selalu tumbuh ketika kita juga bisa memberikan cinta yang sama, Al."


Di luar ruangan, mommy Shevi yang niatnya ingin mengantar makan siang untuk suaminya, terpaku di depan pintu. Wanita itu mendengar semua pembicaraan pria di dalam ruangan itu sejak Jodi meninggalkan ruangan.


"Kalau kamu tidak memberi Tiara cinta kasih sayang dan perhatian. Kamu juga jangan mengharapkan hal yang sama. Apa lagi dia sudah di sibukan dengan kuliah dan anak-anak."


"Maaf.. Dad.." ucap Alvaro selirih embusan angin.


Daddy Alvin tersenyum dan menepuk bahu anak menantunya. "Daddy percaya kamu bisa menyelesaikan masalah rumahtanggamu. Daddy percaya kamu bisa membawa kembali kebahagiaan di dalamnya."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2