DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Bayi Mungilnya


__ADS_3

Sedari malam saat memasuki ruang perawatan istrinya, hati Alvaro sudah tak menentu. Tegang, takut, khawatir melebur menjadi satu.


Besok istrinya akan menjalani operasi besar untuk melahirkan kedua anaknya. Rasa cemas yang istrinya rasakan kini justru berpindah padanya.


Kata semangat tak lepas ia ucapkan untuk membuat istrinya tenang. Mencoba menekan rasa gundah di hati agar tidak terbaca oleh Tiara.


Saat memasuki ruang operasi di pagi harinya. Perasaanya semakin tak menentu. Bahkan perutnya sudah mulas dan mual dari bangun tidur sebelum waktu subuh tadi.


Hanya mempu menggenggam tangan sang istri untuk saling menguatkan. Mencoba menciptakan suasana senyaman mungkin dengan cara mengajak sang istri bercerita.


Mengenang masa-masa kebersamaan mereka. Terkekeh saat melihat ekspresi sebal Tiara. Tersenyum dan saling tatap. Benar-benar berhasil menguasai keadaan. Dan bukan hanya istrinya yang merasa nyaman. Tapi dia juga bisa melewati proses operasi tanpa perlu drama pingsan saking tegangnya.


Tangis anak pertama yang keluar mengambil alih dunianya sesaat. Membuat jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dengan rasa bahagia yang tidak dapat ia gambarkan.


Tapi begitu tangis anak kedua terdengar. Hatinya mencelos. Tangisannya terdengar menyakitkan. Tangisan lirih yang menyayat.


Setelah ia lihat. Tubuh anak keduanya sangat kecil. Mungkin hanya sebesar lengannya. Jauh berbeda dengan anak pertamanya yang sehat dan berisi.


Si abang benar-benar menyerap nutrisi yang lebih besar dari adiknya.


Setelah mengadzani kedua anaknya. Dokter anak yang memeriksa kedua buah hatinya memberitahu berat anak yang pertama di keluarkan 2,7 kg. Sedangkan anak keduanya hanya 1,5 kg.


Anak keduanya membutuhkan penanganan intensif untuk anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).


Sebelum anaknya di bawa ke ruang NICU atau ruang perawatan intensif untuk bayi baru lahir, Alvaro meminta izin untuk mempertemukan kedua anaknya dengan sang istri. Meskipun sebenarnya kedua bayi itu memang akan di bawa menemui istrinya kecuali si kecil.


Wajah Tiara terlihat sangat bahagia saat dapat melihat dan mencium kedua putra mereka. Tangis haru tak bisa lagi di tahan.


Hanya sesaat Tiara bertemu keduanya. Karena si kecil perlu langsung di bawa ke ruang NICU. Sedangkan si abang akan di bawa ke ruang perawatan Tiara nanti setelah prosedur operasi dan observasi telah selesai.


"Aku keluar dulu kasih tau keluarga kalau prosesnya lancar.." bisik Alvaro pada sang istri yang masih di jahit oleh tim dokter. Tak lupa mendaratkan ciuman lembut di dahi Tiara setelah ibu baru itu mengangguk.


Keluar dari pintu operasi, keluarga langsung berdiri dan menyambutnya dan bertanya antusias.

__ADS_1


"Alhamdulillah bu, operasinya lancar." Alvaro yang sudah tidak kuasa menahan tangis langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya.


Terisak dan hanya bisa mengucapkan kata maaf dan terimakasih pada wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya.


"Maaf jika abang belum bisa jadi anak yang ibu banggakan. Maaf jika abang sering buat ibu sedih.." merasakan sendiri betapa takutnya saat sang istri di sayat-sayat untuk mengeluarkan anak mereka. Menimbulkan rasa bersalah Alvaro kepada ibunya.


Apa lagi ibu yang melahirkan normal harus berjuang sekuat tenaga agar dirinya bisa selamat lahir ke dunia. Seperti yang pernah ia baca. Jika ibu yang melahirkan itu serasa seperti 20 tulang di tubuh yang retak bersamaan.


Betapa hebatnya ibu-ibu di dunia ini. Tak bisa Alvaro bayangkan bagaimana rasa sakitnya. Yang bahkan meski setelah merasakan sakit yang begitu hebat, mereka masih bisa tersenyum bahagia saat melihat anak yang berhasil mereka lahirkan.


"Terimakasih bu.. terimakasih sudah mau mengandung, melahirkan dan menjaga abang sampai sebesar ini.."


Ibu tersenyum dalam tangisnya. Mengusap bahu kokoh anak laki-laki satu-satunya yang ia miliki. Bocah kecil yang selalu menempel padanya. Yang menangis ketika ia lebih sering menggendong adiknya ketika kecil. Anak kecil yang kini sudah tumbuh dewasa. Sudah menjadi seorang ayah dari kedua anak yang baru saja lahir ke dunia.


Setelah tenang, Alvaro menyampaikan kabar jika semua berjalan normal. Istrinya masih di observasi. Dengan berat ia juga menyampaikan kondisi anak keduanya.


"Si ade beratnya kurang. Jadi tadi setelah di bersihkan dan di bawa ke Tiara sebentar, langsung di bawa ke ruang NICU."


Daddy Alvin menepuk bahunya pelan. "Anakmu kuat. Dia pasti bisa melewati fase ini."


"Mommy mau lihat cucu mommy, Al."


Alvaro mengajak ibu serta mommy dan kedua nenek Tiara ke ruang NICU.


Disana bayi kecilnya sedang di hangatkan dalam inkubator. Hanya mengenakan diapers dengan tubuh tanpa baju. Bayi yang masih merah itu di tempeli banyak selang medis yang ia tak tahu nama dan fungsinya. Menyayat hatinya. Bayi sekecil itu, di sambut ke dunia dengan hal yang menyakitkan.


"Maafkan papa, nak.." lirihnya dalam hati.


Beruntung mereka lahir di usia yang tepat. Sehingga meskipun si ade berat badannya kurang, namun kondisi paru-parunya kuat dan siap menghadapi dunia.


"Bersih sekali cucu mommy.." binar bahagia dan kagum terlihat jelas dari kedua netra ibu dan mertuanya.


Melihat tubuh mungil anaknya yang meski sangat kecil dan terlihat hanya separuh dari besar sang abang tadi di ruang operasi. Tapi wajah keduanya begitu serupa. Sangat tampan dengan kulit bersih.

__ADS_1


Perpaduan yang begitu luar biasa antar dirinya dan sang istri.


"Mommy gak mau di panggil nenek ya Al! mommy mau jadi mommy aja!" seru mommy Shevi yang membuat Alvaro dan ibu terkekeh.


Memang ibu mertuanya itu masih sangat muda. Bahkan masih cocok jika beliau memiliki bayi sendiri.


"Mau kamu kasih nama siapa?" pertanyaan dari ibu menyadarkannya jika mereka bahkan belum sempat menentukan nama untuk kedua anak mereka.


Pernah beberapa kali ia dan sang istri memikirkan nama, baik untuk kembar laki-laki maupun perempuan. Tapi mereka belum menentukan pilihan yang mana.


"Belum tau bu.. Ada beberapa, hanya belum di tentukan. Biar nanti di obrolin lagi sama Tiara."


Ibu dan mommy mengangguk. "Kasih nama yang bagus Al. Jangan hanya dari pelafalannya aja yang bagus. Tapi artinya juga harus bagus."


"Nama itu doa. Doa yang kalian panjatkan untuk menjadi seperti apa anak-anak kalian ketika tumbuh dewasa nanti."


"Jangan pernah ngikutin istilah apalah arti sebuah nama! gak bener itu!"


"Nama itu doa pertama kita untuk anak. Jadi kamu harus pilih yang bagus secara arti."


"Tapi lafalnya juga yang bagus. Jangan yang kuno."


Alvaro terkekeh "Tapi yang kuno malah lagi ngetren lho mom.. Jaman-jaman kerajaan gitu." godanya pada mommy Shevi.


Wanita itu mencibir tak setuju. Membuat ibu dan dirinya terkekeh.


Sekarang Alvaro tinggal bingung bagaimana menyampaikan keadaan anaknya pada sang istri.


Menyampaikan dengan cara sebaik mungkin agar sang istri tidak kepikiran.


*


*

__ADS_1


*


Sehat selalu untuk kalian reader tersayang 🤗🤗


__ADS_2