DEMI DIA

DEMI DIA
Hidup Baru


__ADS_3

Semua orang mengantar Shevi, Tiara dan Bi Nah berangkat. Semua merasa berat untuk melepas kepergian Shevi untuk waktu yang lama.


" Bunda anter ya sayang ??" Shevi bersikukuh tidak mau diantar siapapun karena baginya itu justru semakin berat.


" Gak usah bunda.. bunda disini aja nemenin kakak sama adek.. Bunda doain aja biar Shevi berhasil disana " Shevi memeluk erat sang bunda.


" Doa bunda selalu menyertaimu sayang.. Jaga diri kamu baik - baik.. Jaga juga cucu bunda. Sering - sering telfon bunda. Kalo ada apa - apa bilang. Kabarin yang ada disini jangan dihadapi sendiri lagi " Dibelainya wajah Shevi lembut dan dikecupnya lama kening anaknya itu.


" Iya bunda.. Bunda disini juga sehat - sehat ya.. Shevi pulang bunda harus dalam keadaan sehat. " Shevi beralih ke Shera.


" Yang sehat ya kak.. Aku seneng hubungan kakak sama Alvin udah ada kemajuan.. Kasih aku kabar baik untuk pulang ke sini. oke " Shevi melepaskan pelukan Shera dan mengedipkan sebelah matanya.


" Maaf.. Maafin aku.. hiks " Shera kembali memeluk Shevi.


" Heii.. Maaf untuk apa ?? " Shevi mengusap punggung Shera.


" Maafin aku yang maksain perasaan Alvin buat aku.. hiks "


" Udah lah kak.. Aku seneng sama hubungan kakak sekarang "


" Meskipun masih ada rasa sakit disetiap melihat kemesraan kalian " Imbuh Shevi dalam hati.


" Hai jagoan kakak.. Jagain bunda sama kak Shera ya.. Kalo ada apa - apa laporin ke kakak " Rasya lebih banyak diam hari ini. Mungkin dia terlalu malu untuk menangis.


" Kakak janji sering pulang ?? " Rasya semakin dalam membenamkan wajahnya dipelukan Shevi.


" Kakak gak janji.. Tapi kamu kan bisa ngunjungin kakak kalo kamu liburan " Punggung Rasya bergetar. Dia tak peduli kagi akan diejek sama yang lain karena menangis. Yang jelas dia tidak mau berpisah dengan kakak kesayangannya. Karena selama ini Rasya lebih dekat dengan Shevi dari pada Shera.


" Udah dong.. jagoan kakak gak boleh nangis.. Kamu harus tunjukin kalo kamu bisa buat kakak andalkan. Sekolah yang rajin. Raih nilai yang bagus biar kamu bisa sekolah dan nerusin usaha orang tua. Kasian bunda kan kalo harus kerja terus " Rasya hanya mengangguk dalam dekapan Shevi sebelum melepaskan pelukannya.


Mamy Lyra merentangkan kedua tangannya meminta pelukan Shevi juga.


" Mami harus kehilangan anak mami satu lagi buat pendidikan " Mami menggoyangkan Shevi ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


Setiap yang Shevi peluk tidak ada yang tidak menangis.


" Mami kan masih ada menantu mami.. "


" Kamu benar.. Mami akan suruh Alvin buat jengukin kamu kalo ada waktu "


" Miiihh itu gak perlu.. Amerika sama Eropa itu jauh.. Mami kira deket kaya dari mampang ke condet " Mami Lyra terkekeh dalam tangisnya.


Shevi melangkah berat kearah sahabatnya. Belum apa - apa air matanya sudah mengalir deras. Begitu juga para sahabatnya yang sudah menangis sedari tadi bahkan indah sudah samapi sesenggukan.


" Heii ladis.. Kalian gak mau say good bye sama gue.. " Shevi menampilkan ekspresi seceria mungkin meski hatinya sedih meninggalkan sahabat yang begitu baik seperti mereka.


Mereka langsung memeluk Shevi bersamaan. Isak tangis terdengar dari mereka.


" Lo tega Vii ninggalin kita.. " - Lidia


" Apa jadinya kita tanpa lo vii.. Pasti gak akan serame biasanya. gak akan sama lagi " - Nay


" Gue jadi gak bisa nginep dan ngerecokin bunda masak. Gak bisa main - main lagi sama Tiara " - Indah


" Sejauh apapun perpisahan, Sesibuk apapun kita nanti, dan meski langkah kita berbeda waktu nggak akan bisa memisahkan gelar 'sahabat' diantara kita. Dan pasti gue akan kesepian banget tanpa kerusuhan dari kalaian. " Sedih, berat, gak rela jauh dari mereka itu yang Shevi rasakan saat ini.


" Seorang sahabat gak akan membiarkan sahabatnya kesepian vii. Dan lo harus sering hubungi kita " Nay menghapus air mata dikedua pipi Shevi.


" Pasti. Gue akan selalu recokin kalian meski kalaian sibuk. Dan pastikan saat gue pulang nanti kalian sudah pada sukses oke ? " Mereka kembali berpelukan untuk yang terakhir kalinya karena pesawat yang Shevi tumpangi akan segera lepas landas.


***


Dua puluh satu jam lebih penerbangan begitu melelahkan bagi Shevi. Apa lagi Bi Nah yah mabok udara sehingga dia harus menjaga Tiara dan bi Nah sekaligus.


Sesampainya di bandara Shevi sudah dijemput oleh orang suruhan om'nya Julian. Karena Julian punya cabang perusahaan di NY jadi banyak orang kepercayaannya untuk menjaga Shevi dan anaknya.


Sampai apartemen pun orang suruhan Julian yang mencarikannya sesuai kemauan Bunda Karina. Dan Shevi sudah disediakan mobil sport untuknya hadiah dari Julian sebagai ucapan selamat diterima di Juilliard.

__ADS_1


Julian sangat menyayangi anak - anak dari abangnya Jovan. Karena bagai manapun sekarang mereka menjadi tanggung jawabnya setelah abangnya tiada.


" Waahhh ternyata gak kaya yang gue bayangin.. Bunda memang selalu kasih yang terbaik " Shevi terperangah saat membuka pintu apartemennya.


Hunian dengan satu kamar utama ukuran 19 x 12 meter dengan kamar mandi didalam dan dua kamar tamu ukuran 14 x 14 meter plus kamar mandi. Satu ruang makan sekaligus kitchen dan ruang tamu yang luas dan nyaman untuk bermain Tiara. Dengan cat warna putih dan prabot yang serasi serta View yang indah menampilkan pemandangan kota New York.


Setelah puas berkeliling Shevi menunjukan kamar yang akan ditempati Bi Nah.


" Ini kamar buat bibi.. Aku dan Tiara akan tidur di kamar utama didepan oke " Shevi tersenyum sambil menggendong Tiara dalam dekapannya.


" Tapi non.. Ini terlalu besar buat bibi " Bi Nah merasa sungkan untuk menempati kamar yang besar dan mewah itu.


" Tapi disini kan gak ada kamar lain bi. Udah bibi disini aja ya.. Aku mau istirahat dulu sama Tiara. Bibi juga istirahat aja nanti malam biar makam malamnya pesen aja bi "


" Baik non.. Nanti bibi istirahat setelah beresin pakaian non Shevi sama non Tiara "


" Udah besok aja.. Bibi pasti capek apa lagi tadi mabok mulu " Shevi terkekeh saat melihat wajah malu Bi Nah


" Ya sudah kalao seperti itu terimakasih non.. " Shevi hanya mengacungkan ibu jarinya dan berjalan menuju kamarnya yang berada diujung yang berbeda dengan kamar tamu.


" Ini kamar kita sayang.. Bagus ya.. Bunda emang the best dalam urusan memilih dan menata prabot "


Shevi meletakkan anaknya diranjang. Gadis kecil nan cantik itu menggeliat dan menguap seketika kemudian menangis.


Shevi terkekeh saat anaknya tidak sabaran untuk menyusu.


" Uuh uuh uuh anak mommy lapar ya.. ??? Sini minum ASI'mu sebanyak yang kau mau " Shevi mendekap dan mencium tangan kecil anaknya. Itu rutinitas setiap dia menyusui Tiara. Tidak pernah ada bosannya untuk Shevi mencium setiap bagian tubuh anaknya yang selalu wangi ini. Hingga tak lama bayi kecil itu tertidur dan disusul Shevi kemudian.


" Mimpi Indah sayang " Diciumnya pipi tembam baby Tiara.


*


*

__ADS_1


*


Happy Reading 💕


__ADS_2