DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Berharap Ditinggalkan


__ADS_3

"Udah Ra." Alvaro mendorong sendok yang berada di depan mulutnya. Rasanya hidupnya sudah tidak bersemangat lagi. Merasa dirinya menjadi orang yang tidak berguna. Untuk apa hidup jika tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan hanya untuk ke kamar kecil saja harus merepotkan orang lain.


"Sedikit lagi ya Al. Ini kamu baru tiga suap lho. Kamu harus banyak makan biar nanti terapinya semangat."


Mereka masih berada di rumah sakit. Kondisi Alvaro sudah sehat. Hanya tinggal mengikuti terapi biar bisa berjalan kembali. Tapi pemuda itu masih sulit dibujuk untuk mengikuti terapi. Alvaro selalu menolak dan akan membentak siapa saja yang memaksanya.


Penolakan itu berawal saat hari pertama pemuda itu mencoba dan sama sekali tidak bisa menggerakan kakinya itu. Alvaro menjadi pesimis untuk kembali berjalan. Dia merasa akan selamanya menjadi orang cacat.


"Aku bilang udah ya udah!!"


Tiara berjengit mendengar bentakan suaminya. Sekarang Alvaro memang gampang sekali emosi. Tidak sekali dua kali pemuda itu membentaknya jika dirinya melakukan sesuatu yang Alvaro tidak suka. Tiara memakluminya. Emosi Alvaro masih terpengaruhi dengan kondisinya saat ini. Siapa pun mungkin akan mengalami perubahan yang sama saat mereka menerima takdir buruk dalam hidupnya. Apa lagi Alvaro masih muda untuk hanya diam di kursi roda dan selalu membutuhkan bantuan orang lain.


"Ya udah kalo kamu kenyang." ucap Tiara meletakan piring berisi makanan di atas nakas. "Mau jalan-jalan ke taman belakang gak Al. Mumpung belum panas banget, berjemur yuk?"


"Males. Aku mau tidur." jawab Alvaro yang kembali membaringkan dirinya dan menutup kedua bola matanya.


Tiara menghela napas. Harus dengan cara apa lagi membuat suaminya semangat.


"Kamu gak boleh tidur mulu Al. Nanti badannya pada iritasi berbaring terlalu lama. Mending kita jalan-jalan yuk. Kamu pasti bosen kan di ruangan ini gak bisa liat apa-apa?"


"Bawel banget sih lo Ra. Mending pulang gih sana kalo lo bosen nungguin orang cacat kaya gue."


Tiara merasa tertohok. Bukan itu maksudnya. Dia hanya ingin mengajak suaminya menghirup udara segar di Luar agar tidak bosan. Siapa tahu bisa membawa dampak positif untuk suaminya.


"Aku mau di sini aja nemenin kamu." Tiara duduk di bangku sebelah bed tempat Alvaro berbaring.


"Mending kuliah aja sana dari pada di sini gak guna!"


Hati Tiara terasa teremas dengan mulut tajam suaminya. Tapi sekuat tenaga Tiara akan tetap tersenyum dan menahan air matanya agar tidak menggenang.


"Aku udah ngajuin cuti kemarin buat kita berdua."


Tiara sudah datang ke kampus untuk meminta cuti kuliah untuk dirinya dan Alvaro. Pihak kampus mengijinkan, tapi kemungkinan besar beasiswa yang mereka dapat akan di cabut dan di pindah ke mahasiswa berprestasi lainnya.


Tiara bisa mengerti akan hal itu. Dan menyerahkan semua pada pihak universitas. Prioritasnya saat ini menemani dan membantu Alvaro agar lekas sembuh.

__ADS_1


Alvaro membuka mata dan menatap Tiara tajam. "Ngapain buat kita berdua. Lo kan sehat bisa jalan. Ngapain juga lo ikut cuti?!" seru Alvaro.


"Aku mau nemenin kamu sampe kamu sembuh Al."


"Buat apa? biar lo bisa liat gue yang lemah? biar lo bisa ngejek gue?"


"Kamu tuh kenapa sih Al? aku tau kamu lagi sedih. Tapi apa yang salah sama yang aku lakuin? kenapa kamu marah-marah mulu sih? aku udah sabar lho ngadepin kamu, meskipun kamu marah-marah mulu."


"Kalo lo cape, lo boleh pulang kok." Alvaro memalingkan wajahnya.


Tiara menghela napas. Dirinya tidak boleh ikut terpancing emosi begini.


Terdengar ketukan di pintu dan kepala yang menyembul. Lala setiap hari datang menjenguk. Karena gadis itu juga belum memiliki kegiatan selama di Jakarta.


"Pagi.. Gue ganggu gak?"


"Gak kok. Masuk aja." ucap Tiara dingin. Gadis itu masih marah dengan sahabat masa kecil suaminya tentang ciuman yang terjadi tempo hari.


"Gue bawain makanan kesukaan lo Al. Dimakan ya?" Alvaro di bantu duduk oleh Lala dan menurut saja. Padahal jika Tiara yang memaksa seperti itu pasti akan langsung keluar tanduk di kepala Alvaro.


Suapan demi suapan Alvaro terima dari tangan Lala. Hingga makanan itu habis dan meminta sahabatnya untuk menemaninya berjemur di taman.


"Kenapa harus sama Lala? sama aku aja ya Al?" tawar Tiara. Tidak rela mengijinkan suaminya pergi dengan perempuan lain.


"Gak papa kok Ra. Lagian gue gak keberatan." ucap Lala tersenyum ramah.


Lo gak keberatan. Tapi gue!


"Ya udah. Kalo gak mau aku yang anter. Aku mau pulang dulu Al." dari pada makan hati terus. Mending dirinya pulang dan bertemu keluarganya di rumah. Mengumpulkan kembali kesabaran untuk menghadapi suaminya yang belakangan ini menjadi menyebalkan.


Di raihnya tangan Alvaro, dan mencium punggung tangan suaminya itu. Mendaratkan kecupan di dahi juga bibir suaminya sebelum melangkah pergi.


Alvaro melihat kepergian sang istri dengan hati sakit. Memperlakukan istrinya dengan buruk bukanlah hal yang mudah bagi Alvaro. Pemuda itu ingin membuat Tiara mundur dengan sendirinya. Membuat gadis itu tidak betah berada di sisinya dan memilih meninggalkannya.


Tapi ternyata Alvaro salah. Sekeras apa pun dia menunjukan ketidak sukaannya kepada Tiara. Gadis itu tetap bersabar menghadapi dirinya. Menerima setiap bentakan hingga dia mencoba memanasi Tiara dengan menggunakan Lala pun, gadis itu masih mau mencium dan pamit padanya.

__ADS_1


Tiara bukan gadis yang mudah untuk dia taklukan. Bukanlah gadis yang mudah untuk dia pukul mundur.


"Ayo Al, gue anter ke taman." Lala menyentuh lengan Alvaro yang diam mematung menatap kepergian sang istri. Bahkan jauh setelah pintu ruang perawatannya tertutup, pandangan Alvaro tidak lepas dari sana. Seakan pemuda itu bisa melihat tubuh istrinya yang sedang berjalan menjauh membawa kesedihan.


"Gak jadi La. Gue cape." Alvaro kembali merebahkan tubuhnya.


"Lo cuma lagi bikin istri lo kesel?" pemuda itu tidak menjawab pertanyaan yang Lala lontarkan. Tidak ingin terlihat kekanak-kanakan.


"Tiara gadis baik Al. Lo gak akan bisa nemuin gadis yang bisa ngadepin sikap menyebalkan lo." selama beberapa hari datang menjenguk. Tidak sekali dua kali Lala melihat Alvaro membentak dan memperlakukan istrinya kurang baik.


"Dia berhak untuk bahagia." jawab Alvaro sendu.


"Tapi kalo bahagianya sama lo gimana? kalo gak ada yang bisa bahagiain dia selain lo?"


"Apa yang bisa gue lakuin buat bahagiain dia dengan kaki cacat gue?!"


"Al. Kalo lo udah jadi alasan dia untuk bahagia. Apa pun yang kalian lakuin bersama, asal kalian sama-sama berbagi tawa, berbagi susah. Gue rasa udah cukup untuk buat dia bahagia." ucap Lala memberitahu dari sisi hati wanita. "Karena apa pun yang bisa buat dia bahagia di luar sana gak akan berarti tanpa lo Al. Karena lo udah jadi alasan dia buat bahagia. Itu kenapa Tiara masih bertahan di sisi lo."


*


*


*


BTW aku punya 2 cerita baru. Tapi niatnya mau aku satu-satu dulu tulisnya. Bantu voting dengan Like dan komen ya.


Nanti yang paling banyak dapat Like sama Komen. Itu yang aku lanjutin tulis duluan.


Liat di profil aku ya. Judulnya :


* Untukmu Lintang


*Mencintai anakku


Mau liat kalian lebih suka yang mana.

__ADS_1


__ADS_2