
Tiara tahu kedua orang tuanya merasa kecewa terhadap dirinya. Meskipun daddy dan mommy-nya tidak memarahi atau menghardiknya, tapi dari mata mereka saja Tiara sudah tahu kalau kedua orang tuanya kecewa. Atau mungkin mereka tidak bisa marah karena sadar kesalahan mereka di masalalu yang hampir serupa.
Alvaro bahkan sampai beberapa kali kena pukul oleh ayahnya saat kedua orang tua pemuda itu baru datang. Ayahnya terlihat sangat marah dan kecewa. Berbeda dengan ibunya yang meski terlihat tatapan kecewa dengan linangan air mata, tapi wanita paruh baya itu masih mendekap erat putranya yang sudah jatuh tersungkur. Untung pihak kepolisian cepat bertindak dan memisahkan ayah yang sedang memukuli anaknya tersebut.
"Tolong jangan main hakim sendiri! kasihan putra bapak, walau bagaimana pun dia darah daging anda!" seorang polisi mengingatkan.
"Saya tidak pernah mendidik anak saya untuk melakukan hal memalukan seperti ini!" ucap ayah Alvaro dengan nada tinggi.
"Semua orang tua tidak ada yang mendidik anaknya untuk melakukan hal tak bermoral seperti ini pak! tapi apa anda tidak kasihan melihat anak anda kesakitan seperti itu." daddy Alvin seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Bedanya dulu daddy Alvin di pukul oleh Om istrinya saat mereka baru mengetahui Tiara adalah anak kandungnya.
"Dia anak saya! jadi saya tahu bagaimana harus mendidiknya!" seru ayah Alvaro lagi, tidak terima orang lain yang bahkan lebih muda darinya menasehatinya.
"Tapi tidak perlu-" kalimat daddy Alvin terpotong saat sang istri memegang lengannya seraya menggelengkan kepala. Tanda supaya suaminya tidak perlu ikut campur.
Tiara masih menunduk, menangis sesenggukan di pelukan sang mommy.
"Karena adik-adik ini masih di bawah umur, kami hanya memberikan teguran saja. Disini sudah ada guru dan kedua belah pihak orang tua. Kami kembalikan kepada kalian, dan saya harap adik-adik ini tidak lagi melakukan hal yang dapat mencoreng nama baik keluarga lagi seperti ini." polisi yang menangani mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya pada pihak keluarga. Karena masih di bawah umur sehingga tidak dapat di proses hukum. Dan lagi pula polisi juga tidak dapat menemukan bukti bahwa mereka sudah melakukan hubungan intim.
"Kami sudah memberitahu kepala sekolah. Mengingat Alvaro dan Tiara termasuk anak didik kami yang berprestasi, kami memberikan kesempatan untuk mereka tetap bersekolah seperti biasa. Dengan syarat masalah ini jangan sampai tersebar, mengingat wali murid yang lain pasti akan protes dengan keputusan kami." ucap wakil kepala sekolah yang mewakili pihak SMA Putra Bangsa.
Baik orang tua Alvaro maupun Orang tua Tiara bernafas lega. Paling tidak, masa depan anak-anak mereka tidak terganggu dengan masalah ini.
"Sekarang keputusan orang tua bagaimana?" tanya pihak kepolisian lagi.
__ADS_1
"Saya ingin Alvaro menikahi putri saya! walau bagaimana pun, dia sudah melihat tubuh anak saya tanpa busana. Dan saya tidak mau anak saya menanggung malu atas tidak bertanggung jawabnya Alvaro." mengingat dulu ia meninggalkan istrinya setelah menidurinya tanpa bisa bertanggungjawab. Kini daddy Alvin yang akan memastika pemuda itu bertanggung jawab terhadap anaknya.
"Tapi anak-anak kita masih sekolah pak Alvin. Kasihan mereka jika harus mengarungi rumah tangga semuda ini." ibu Alvaro merasa keberatan anaknya harus menikah saat masih sekolah seperti itu.
"Bagaimana kalian bisa menjamin anak kalian menikahi putri saya setelah dia lulus sekolah. Bagaimana dengan psikologis anak saya atas kejadian ini?" padahal disini bukan hanya mereka yang kecewa. Alvin sebagai orang tua Tiara pun sangat kecewa. Tapi jika dia memarahi putrinya, yang ada putrinya semakin merasa rendah diri.
"Tapi saya sudah punya calon istri untuk anak kami! dan saya tidak akan membiarkan anak saya menikahi gadis lain." seru ayah Alvaro yang lagi-lagi dengan nada tinggi.
"Apa seperti itu cara anda mendidik putra anda? apa anda mendidiknya untuk menjadi pria yang tidak bertanggung jawab?" daddy Alvin masih mencoba menguasai emosinya.
"Kalau kalian tidak ada itikad untuk bertanggungjawab. Biar saya bawa masalah ini ke jalur hukum, dengan tuduhan penculikan dan pelecehan seksual." imbuh daddy Alvin dengan nada tegas. Membuat kedua orang tua Alvaro membulatkan mata mereka.
"Menurut cerita anak saya, dia di bius dan ketika sadar sudah tidur satu ranjang dengan anak anda dan tidak memakai pakaiannya. Saya bisa dengan mudah membawa hal ini dan menjebloskan anak anda ke penjara! biar anak saya menanggung malu, tapi anak anda kehilangan masa depannya!"
"Anda pikir uang saya tidak bisa melakukan yang saya mau?!" Alvin menarik satu sudut bibirnya tak kalah mengejek.
"Sudah ayah. Nikahkan saja mereka! Alvaro masih muda, kasihan jika harus mendekam di dalam penjara. Setidaknya masa depannya masih bisa di lanjutkan jika menikah." mohon ibu Alvaro dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.
"Kami pihak sekolah juga setuju dengan bapak Alvin. Sehingga jika ada wali murid yang mengetahui hal ini dan mengungkitnya, setidaknya mereka sudah sah sebagai suami istri."
Ayah Alvaro menghela nafasnya kasar. Pasrah dengan keputusan semua orang, dan tidak ada yang mendukungnya.
"Baiklah, besok kita nikahkan saja mereka." ucapnya pasrah.
__ADS_1
"Tapi setelah mereka menikah, silahkan anak ini menjadi tanggung jawab anda. Saya tidak mau lagi mendidik dan menghidupi anak seperti dia!" semua orang yang ada di sana menatap tidak percaya. Adakah ayah yang seperti itu.
"Ayah!" seru istrinya tidak terima. "Alvaro anak kita! anak lelaki ibu satu-satunya!"
"Untuk apa kita membesarkan anak lelaki yang kita harapkan bisa menjadi penerus ayah, jika sikapnya mengecewakan seperti ini! entah dosa apa yang kita lakukan di masa lalu!" Pria paruh baya itu menangis sesenggukan, terlihat betapa kecewanya dia terhadap anak lelakinya. Sepertinya ayah Alvaro selama ini sangat mengharapkan pemuda itu untuk menjadi penerusnya. Mendidik dengan maksimal, dan sekarang merasa kecewa dengan hasil yang tidak ia harapkan.
"Maaf ayah.. Maafin Al.. Maaf mengecewakan ayah.." Alvaro ikut menangis dan memeluk kaki ayahnya. Dia merasa sangat bersalah telah mengecewakan pria yang sudah membesarkannya. Meskipun ini bukan keinginan dan kesalahannya.
Ayah Alvaro menarik anaknya berdiri, memeluk dan menepuk punggung anaknya. "Menikahlah, ayah mengijinkanmu. Jadilah suami yang baik dan bertanggungjawab terhadap istrimu. Meskipun kamu masih muda, ayah percaya kamu mampu melakukannya." Alvaro menangis dalam pelukan ayahnya. Seorang ayah yang ia kecewakan.
"Tunjukkan kalau kamu bisa sukses dan kembali membuat kami bangga! saat itu tiba, ayah akan menyambutmu lagi dengan pelukan hangat."
Sudah ada banyak mimpi yang ayah persiapkan untuk anak laki-lakinya itu. Pendidikan terbaik, jabatan yang akan dia serahkan begitu anaknya lulus kuliah. Gadis pilihan terbaik, yang sejak Alvaro lulus sekolah dasar sudah ia siapkan. Segala sesuatu untu putranya sudah siap dan sempurna baginya.
Tapi yang ia siapkan harus hancur dalam waktu satu malam.
*
*
*
Kadang emang begitu ya gaes. Apa yag kita harapkan, tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Tapi kita harus selalu bersyukur apa pun hasil usaha kita kan?
__ADS_1
Ngomong-ngomong ini part ke 2 hari ini ya.. akhirnya kan bisa up dobel 🙈 moga like sama komennya juga bisa dobel 🙊