
Hari sudah larut. Matahari sudah lama tenggelam ketika Alvaro sampai di rumah. Terpaksa lelaki itu ikut menyeleksi calon karyawan karena Bobby tidak ingin di salahkan dikemudian hari jika orang yang lelaki itu pilih melakukan kesalahan dikemudian hari.
Karena bagaimana pun kesalahan itu pasti ada. Pengkhianat juga tak bisa terelakan, apa lagi di dunia bisnis. Jadi Bobby tidak ingin menanggung resiko itu sendiri.
Ini usaha bersama. Jadi harus turun tangan bersama. Terlebih lagi disini Alvaro yang memegang kendali. Dia bos besarnya.
Alvaro menyalami orang-orang yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Ada keluarga sang istri juga ibunya di sana tengah mengelilingi anaknya Fari.
"Makan dulu Al, baru istirahat." nasehat mommy Shevi. Menantunya itu jika sudah sibuk pasti selalu lupa makan.
"Iya mom. Aku mandi dulu sekalian lihat keadaan Tiara."
Mommy Shevi yang sedang memangku Fari mengangguk. "Dia baru istirahat tadi. Tapi sudah membaik kok."
Alvaro pamit untuk membersihkan diri setelah sebelumnya menyapa dan mencium pipi anaknya yang tumben di jam itu belum tidur.
Biasanya saat jam makan malam, anaknya sudah tidur dan akan bangun tengah malam nanti.
***
Kamar hanya bercahaya lampu tidur. Tiara memang tidak pernah bisa tidur dengan lampu benderang. Pun juga sebaliknya. Wanita itu tidak bisa tidur dengan keadaan yang gelap gulita. Istrinya kesulitan bernapas dalam gelap. Bukan karena trauma. Lebih pada pikiran paranoid wanita itu yang membuat tubuh Tiara tegang dan tanpa sengaja menahan napas.
Alvaro tersenyum menatap wajah yang terlelap itu. Duduk di tepi ranjang dan mengusap halus pipi istrinya.
"Kamu kok sekarang kurus begini sih yank? jadi ibu berat banget ya?" bermonolog sendiri, karena yang di ajak berbicara bahkan tidak mengetahui keberadaannya.
Tubuh kecil Tiara sedang menyesuaikan dengan dunia jungkir balik mereka. Tubuh yang siang malam harus ready to war menjaga anak-anak.
"Kamu harus bahagia. Harus sehat lagi." bisik Alvaro pada kecupan di dahi Tiara.
Kelopak mata cekung yang kurang sehat itu bergerak. Mengernyit sebelum kemudian membuka lebar.
"Aku ganggu kamu tidur ya?"
Seulas senyum Tiara berikan untuk ucapan selamat datang pada suaminya. Meski telat karena ia baru bangun dari mimpi yang bahkan belum lama ia masuki.
"Kamu udah pulang sayang?" menangkup pipi suaminya dengan sebelah tangan dan mengusapnya. Ia rindu momen mereka berdua seperti ini. Rasanya sedih sekali jarang memperhatikan suaminya yang kini kurusan. Pasti suaminya lelah harus mengurus keluarga, kuliah juga pekerjaan.
Suami istri memang seperti itu kan? saling mengkhawatirkan tanpa peduli dirinya sendiri yang kadang lebih mengkhawatirkan.
Alvaro berbaring dan memeluk erat istrinya. Selagi Tama tidak memonopoli Tiara. Biarkan sejenak ia menikmati kebersamaan mereka.
"Gimana rekrut karyawannya udah dapat?"
Alvaro hanya mengangguk. "Jangan ngomongin kerjaan ya, aku pusing. Nikmatin aja momen kita bersama." ujar pria itu selembut mungkin agar istrinya tidak tersinggung.
__ADS_1
Karena sejujurnya ia malas sekali membahas masalah kerjaan dengan sang istri. Bukan karena Tiara tidak tahu tentang pekerjaannya sehingga tidak nyambung jika di ajak berbicara.
Tapi Alvaro hanya ingin momen jarang yang mereka miliki seperti saat ini bukan untuk membahas pekerjaan. Tapi untuk saling melepas rindu meski setiap hari bertatap muka.
Alvaro menenggelamkan wajahnya pada dada sang istri. Dia tidak akan macam-macam. Hanya ingin bermanja-manja.
"Terus mau ngobrolin apa?" tanya Tiara yang menuruti semua tingkah suaminya dan membelai rambut yang mulai memanjang itu lembut.
Alvaro diam. Hanya semakin mengeratkan pelukannya. Tapi lama-lama pria itu menggerak-gerakan kepalanya di atas dada sang istri.
"Iih Al! nanti nennya keluar!" seru Tiara yang mencoba menjauhkan kepala sang suami dari atas sumber kehidupan anak-anak mereka.
Ayah dari anak-anaknya itu malah terkekeh. "Jadi kapan aku boleh nyobain ini?" goda Alvaro pada istrinya.
"Iiih gak usah mesum deh! masih harus puasa lama!"
Alvaro mencebik. "Puasanya yang lama kan? bukan nyentuhnya."
Karena tangan kekar itu sudah bergerilnya menjajah tubuh istrinya, dengan bibir mereka yang sudah saling menyatu.
Menikmati momen yang dua minggu ini mereka lewatkan. Hingga pekikan Tiara terdengar.
"Aaww." membubarkan tubuh yang saling melekat itu. Selang infus yang tertarik membuat punggung tangan wanita itu sedikit nyeri.
"Sakit banget yank? mau aku panggilin aunty Nay?"
"Gak papa sayang. Tadi cuma ketarik dikit kok gak lepas."
Alvaro kembali bernapas lega. Mengusap pipi Tiara dan memberinya kecupan sebelum bangkit.
"Ya udah, kamu istirahat lagi aja. Aku mau mandi terus makan." ucap Alvaro yang kembali membetulkan selimut istrinya yang sempat ia buat berantakan.
"Kamu gak nyesel kan, Al?" pertanyaan yang terlontar dari mulut istrinya menghentikan langkah Alvaro yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi.
Pria itu membalikan badan dan menatap bingung sang istri. "Nyesel kenapa?"
Tiara terlihat ragu. Matanya memanas. "Nyesel karena dulu nerima permintaan daddy buat nikahin aku."
Alvaro semakin bingung dengan memiringkan kepalanya. "Kenapa harus nyesel?"
Sungguh Alvaro tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiran istrinya. Apa semua wanita yang baru melahirkan selalu berpikiran buruk seperti istrinya saat ini.
Waktu itu juga Tiara pernah bertanya apa dia selingkuh ketika pulang hampir tengah malam. Padahal ia hanya menemui klien di jam makan malam sebelum kemudian membahas proyek yang ia dapatkan.
"Karena seharusnya kamu masih menikmati masa muda kamu. Bukan malah di pusingkan dengan urusan keluarga seperti ini." cicit Tiara dengan air mata yang sudah menggenang. Alvaro yakin hanya sekali kedip saja, air mata itu sudah meleleh di pipi mulus istrinya.
__ADS_1
Ia menghela napas dan kembali berjalan dan duduk di tempat tidur. Tepat di samping istrinya yang kini duduk bersandar.
"Semua manusia itu punya jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ngejar karir dulu baru mikirin nikah. Ada yang nikah dulu baru pendidikan dan karir seperti kita. Tapi ada juga yang udah sukses tapi belum menemukan jodohnya."
Membawa kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya.
"Aku gak pernah nyesel nikah muda. Apa lagi dapetin istri secantik dan sebaik kamu."
"Aku serius. Jangan ngegombal!" seru Tiara dengan memukul kecil dada suaminya. Meski wajahnya merona dan jantungnya berdetak keras.
"Ra.. kaya baru pacaran aja!" runtuk Tiara dalam hati pada dirinya sendiri yang masih di buat tersipu hanya karena di bilang cantik.
Pada kenyataanya pujian sekecil apa pun dari seorang suami untuk istrinya akan selalu membuat hati wanitanya berbunga-bunga. Meski itu sudah ratusan kali terucap. Meski mereka sudah menikah bertahun-tahun juga.
Karena pujian bagi seorang istri berarti mereka merasa di hargai. Merasa dirinya berarti untuk sang suami. Dan tentunya merasa di cintai.
"Aku juga serius sayang..." ucap Alvaro dengan mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya. "Terlebih aku bahagia dengan hadirnya anak-anak di tengah kehidupan kita."
Tiara mengangguk setuju. Karena wanita itu juga merasa berkali kali lipat bahagianya dengan kehadiran Fari dan Vindra dalam hidupnya.
"Jadi, kamu jangan mikir yang macem-macem. Cukup doakan aku mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik. Menjadi suami dan papa yang baik untuk kalian."
Suara Tiara tercekat. Hatinya menghangat dengan air mata yang tak lagi bisa di bendung. Terlebih ketika suaminya semakin mengeratkan pelukannya ketika ia semakin terisak.
"Doakan aku bisa lulus tepat waktu. Doakan juga semua usahaku berjalan lancar. Bisa membangun rumah impian untuk kalian. Bisa menghidupi kalian dengan layak. Doakan juga ade Vindra cepat pulang dan kumpul bareng kita. Biar kebahagiaan kita semakin lengkap."
Alvaro yakin setelah anaknya keluar dari rumah sakit, segala kehidupan jungkir balik ini akan segera berakhir.
"Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Karena setiap rumah tangga punya cobaannya masing-masing."
"Ada yang di uji dengan materi. Ada yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum juga di kasih kepercayaan untuk memiliki buah hati. Ada yang di uji dengan kesetiaan atau bahkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga mereka. Atau justru tidak harmonis dengan keluarga salah satu pasangan."
"Semua sudah ada yang mengatur sayang. Kita pun sudah ada yang mentakdirkan. Kita hanya perlu saling percaya. Saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan."
Manarik diri untuk dapat melihat wajah istrinya yang sudah di penuhi air mata. Menangkup agar istrinya menatap matanya.
"Karena sekuat apa pun aku, kalau kamu gak support dan kasih kekuatan. Aku gak akan mampu melewati ini semua."
Tiara mengangguk berkali-kali dengan air mata yang semakin menderas. Memeluk suaminya erat dan menumpahkan tangisnya.
Mungkin Tiara juga merasa tertekan dengan keadaan barunya ini. Dan Alvaro membiarkan istrinya menangis hingga puas. Agar sesak dan stres yang istrinya rasakan bisa sedikit berkurang.
*
*
__ADS_1
*
Waahh panjang ya.. Tapi like-nya kencengin dong jangan kaya kemaren ðŸ˜