DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Mimpi Masa Kecil


__ADS_3

Sabtu pagi yang tidak terlalu panas, dua muda-mudi sedang menembus jalan ibu kota yang terkenal kepadatannya.


Hari ini Tiara memenuhi janjinya untuk menemani Dika berkeliling kota Jakarta. Dika yang baru saja pindah dari kampung halaman, tentu belum mengenal betul seluk beluk jalanan di ibu kota.


Sikap Dika yang santun, membuat ia dengan mudah mrndapatkan izin untuk mengajak Tiara pergi menemaninya.


Bukan menemani ke tempat-tempat terkenal seperti Monas atau taman hiburan. Tiara lebih memilih mengajak Dika ke tempat yang menunjang hobi fotografi Dika.


Tiara tidak mengerti apa pun tentang fotografi, dia lebih memilih menjadi objek foto Dika saja.


"Jangan pegangan jaket Ra.. Nanti kamu jatuh." Dika berteriak di atas motornya, menarik satu tangan Tiara untuk melingkar di atas perutnya.


Walau sebenarnya Tiara kurang nyaman dengan jarak mereka saat ini, tapi gadis itu tidak menolak. Karena sejujurnya dia takut berada di atas motor dalam kecepatan yang lumayan tinggi seperti itu.


Ini bukan pertama kalinya Tiara menaiki sepeda motor. Tapi biasanya hanya jalan santai dan untuk jarak yang tidak jauh, bersama daddy atau uncle-nya Rasya.


Mereka sedang menuju Hutan Kota GBK. Tiara selalu suka dengan suasana taman atau ruang terbuka, apa lagi yang menjadi paru-paru kota. Tempat dimana masih ada udara segar di tengah tebalnya polusi yang memenuhi kotanya tinggal itu.


Belum banyak pohon-pohon besar di sana memang, untuk itu mereka datang lebih pagi, menghindari sengatan matahari yang biasanya terik membakar kulit.


Ruang terbukan seperti itu, mengingatkannya ketika kecil pernah pergi berpiknik bersama mommy dan uncle Ray di NY, sebelum mereka bertemu dan bersatu dengan daddy-nya.


"Ayo.." Dika Menggandeng tangan Tiara untuk berjalan dari parkiran ke dalam area hutan kota.


Sesekali pemuda itu menyuruh Tiara untuk berpose ketika melewati view yang bagus untuk kameranya.


Kadang membiarkan Tiara jalan lebih dulu untuk mengambil foto candid gadis cantik itu.


Penampilan Tiara dengan kaos putih polos lengan panjang yang di padu dengan outer tanpa lengan warna hitam, senada dengan celana pendek di atas lutut, membuat gadis itu semakin cute di mata Dika.


Gadis itu selalu saja menarik hatinya dengan penampilan apa pun, bahkan hanya dengan baju olahraga yang berkeringat.

__ADS_1


Cinta yang untuk pertama kali ia rasakan. Wanita pertama yang menggetarkan hatinya. Dika berjanji jika dia di beri kesempatan untuk memiliki Tiara, dia akan menjaga gadisnya itu untuk tetap di sisinya selamanya, dengan limpahan kebahagiaan.


"Udah aah, aku mulu yang di foto. Kamu lanjutin aja foto-foto tempatnya. Aku mau duduk di sana capek." mereka sudah lama berada di tempat itu, sudah puluhan foto juga yang Dika ambil dengan Tiara sebagai objek utama.


Tiara duduk di atas hamparan rumput, dibawah pohon kecil yang belum terlalu rindang. Hari yang sepertinya akan hujan membuat Tiara lega, dengan begitu dia bebas untuk duduk di mana pun tanpa perlu merasa panas dengan sengatan matahari.


"Nih.." entah kapan perginya, Dika menyerahkan botol berisi air mineral untuk Tiara.


"Makasih Dik." menerima dan langsung meminumnya.


"Kamu udah selese ambil foto-fotonya?" tanya Tiara saat Dika ikut duduk di sebelahnya.


"Udah kefoto semua kayaknya.. Udah banyak juga." memperlihatkan hasil jepretannya kepada Tiara.


"Wiiihh jago juga ternyata lo.." puji Tiara saat melihat hasil foto yang di hasilkan Dika yang luar biasa menurutnya.


"Aku emang suka fotografi dari kecil, tapi baru belajar-beljar pas SMP."


Dika mengangguk, mana mungkin dia menolak permintaan gadisnya. Apa lagi permintaannya hal mudah seperti itu.


"Mau kemana lagi kita hari ini?"


"Kamu gak capek?" Dika takut Tiara lelah menemaninya berkeliling seharian.


"Gak lah. Seneng malah gue! Tapi makan dulu ya, laper.." ucap Tiara sembari mengelus perutnya yang sudah mulai protes minta di isi.


"Oke tuan putri.. Makan yang di sana aja ya? aku denger, makanannya enak-enak. Makanan Nusantara." sebelum mengajak Tiara, dia sudah banyak browsing tentang tempat yang akan mereka tuju.


"Ayo. Gue gak pernah pilih-pilih kalo makan."


"Enak nih yang jadi suami kamu nanti. Bisa di ajak hidup susah, di kasih makan apa aja mau." kelakarnya.

__ADS_1


"Gak gitu juga lah.. Kasihan bener gue, di ajak hidup susah." cemberut dengan candaan Dika. Semakin membuat pemuda di sampingnya tertawa dan mengacak rambutnya pelan.


"Emang kamu pengin suami yang seperti apa? yang kaya raya juga, seperti keluarga kamu?" ada sedikit harapan di hati Dika untuk Tiara menyangkal pertanyaannya. Karena Dika bukan dari keluarga kaya seperti keluarga Tiara. Ayahnya menjabat sebagai direktur keuangan di salah satu bank swasta, sedangkan Ibunya manager di salah satu perusahaan milik keluarga Mahesa-keluarga Tiara.


"Gak harus kaya juga sih.. yang penting tulus sayang sama gue, bisa jagain gue. Karena jujur aja, bokap gue protect banget sama gue. Gak tau deh apa yang daddy lakuin kalau sampai anak gadisnya ini di sakiti."


Dika lega mendengarnya, setidaknya masih ada harapan untuk dia yang akan mengisi masa depan Tiara.


Meskipun dia bukan dari keluarga seperti Tiara, tapi dia juga tidak akan membawa gadisnya untuk hidup dalam kesusahan.


"Gue bisa dong, masuk antrian calon imam kamu?" tanya Dika dengan cara yang di buat seperti bercanda.


"Apa sih lo. Sekolah aja yang bener! lulus aja belum, ngomongin nikah aja!!" pernikahan di telinga Tiara serasa menggelikan untuk saat ini. Bahkan mimpinya masih panjang, masih banyak yang ingin ia capai. Membanggakan kedua orang tuanya, itu yang utama.


"Lagian, masalalu tentang kelahiran gue, bikin gue lebih hati-hati terhadap cowok. Gue gak akan ngulangin kesalahan yang sama seperti orang tua gue." menatap Dika dengan tatapan sendu. Dika tahu maksud dari kata-kata Tiara, Sheril sudah menceritakaannya. Meski Dika tahu tujuan gadis itu cerita agar dia menjauhi Tiara. Tapi itu tidak akan oernah terjadi.


"Gue gak marah sama mereka. Tanpa kesalaham mereka, mungkin gue gak terlahir sebagai anak dari orang tua yang luar biasa seperti mommy and dad."


"Orang tua yang luar bisa menyayangi dan jagain gue. Yang gak pernah kasar dan bentak gue walaupun gue sering bikin ulah di sekolah. Mereka orang tua yang luar biasa buat gue." bayangan kenakalan-kanakalannya berputar di benaknya.


"Gue pengen jadi ibu yang seperti mommy yang penuh kasih. Gue juga pengen dapet pasangan seperti daddy yang sayang banget sama mommy gue. Mereka itu couple goals favorit gue banget. Dari kecil mimpi gue pengen punya keluarga kaya keluarga yang gue miliki sekarang." terkekeh dengan mimpi masa kecilnya.


"Gila kan gue. Masih kecil aja udah mikirin punya keluarga sendiri."


Dika menggenggam kedua tangan Tiara pelan. "Aku boleh gak wujudin mimpi kamu?"


*


*


*

__ADS_1


Gimana nih, menurut kalian boleh gak Aa Dika jadi imam buat Tiara?


__ADS_2