
Makan malam kali ini terasa lengkap dan lebih ramai. Selain anak sulung keluarga itu yang pulang, makan malam kali ini bertambah satu lagi anggota keluarga baru untuk keluarga mereka.
Banyak obrolan seru antara Raka dan Alvaro. Tak jarang juga tawa di antara mereka semua yang memenuhi ruang makan malam itu. Alvaro merasa senang, ternyata seperti ini memiliki keluarga yang santai dan tidak terlalu kaku. Berbeda dengan keluarganya yang mengedepankan sopan santun dalam makan, tapi justru menghilangkan rasa kekeluargaan seperti yang ia rasakan malam hari ini. Mungkin karena mommy dan daddy yang masih muda sehingga jiwa muda mereka masih satu frekuensi dengannya. Atau memang mereka bukan orang yang kaku seperti kedua orang tuanya.
Perhatian mommy Shevi juga sama seperti ibunya yang selalu dengan telaten menyiapkan dan mengambilkan makan untuk setiap anggota keluarganya, biar tidak saling iri katanya. Biar sama rata dalam merasakan kasih sayang dari ibu negara.
"Kalau kamu merasa kesulitan mengerjakannya sendiri, kamu bisa ke kantor lagi untuk diskusi dengan arsitek di kantor Al."
"Iya dad. Nanti kalau Al kesulitan pasti Al ke kantor." jawab Alvaro tersenyum ke arah daddy Alvin.
"Lo jadi arsitek Al? arsitek di kantor daddy?" tanya Tiara dengan heboh dan suara keras.
"Gak usah teriak-teriak Tiara Ashana.. ini bukan di hutan!" seru mommy Shevi mengingatkan.
"Maaf mom. Aku kan cuma kaget aja." menurunkan nada suaranya agar kembali normal. "Kamu hebat banget Al, bisa kerjasama sama perusahaan sebesar perusahaan daddy."
Kedua orang tuanya hanya menggeleng dengan mengulas senyum. Sedangkan Alvaro menepuk gemas kepala istrinya.
"Al langsung pulang ya mom, dad." pamitnya kepada kedua mertuanya setelah makan malam selesai. Mereka mengangguk paham jika menantunya masih ada tanggungjawab di rumah. "Lo kalo mau nginep disini gak papa. Tar kalo mau pulang gue jemput lagi." tawar Alvaro kepada istrinya.
"Gue ikut pulang aja." jawab Tiara. Meskipun sebenarnya ingin menginap, tapi kasihan jika suaminya sendirian di apartemen.
"Ciee yang gak mau jauhan." goda mommy Shevi mencolek dagu anak sulungnya.
"Apaan sih mom." seru Tiara dengan bibir mengerucut, tapi pipinya merona.
"Hahaha jadi inget masa muda." gelayut manja di lengan daddy Alvin.
"Emang mommy punya masa muda kaya mereka?" kini giliran daddy Alvin yang menggoda istrinya.
"Daddy maaahh..." memukul lengan suaminya pelan. Membuat anak-anaknya tertawa dan senang dalam hati, bisa tetap melihat keharmonisan rumah tangga orang tua mereka.
***
Perjalanan pulang masih terasa hening. Padahal Tiara kira, suaminya sudah memaafkannya. Atau tadi Alvaro hanya sedang berpura-pura harmonis di hadapan orang tuanya.
Tiara menghela napas. Harus bagaimana lagi untuk mendapatkan maaf dari sang suami.
__ADS_1
"Al mampir mini market depan ya? aku pengen beli minum bentar." pinta Tiara.
Alvaro tidak menjawab dan hanya memberhentikan mobilnya pada mini market yang istrinya tunjuk.
Alvaro mengetuk-ketukan jarinya di kemudi mobil, tidak sabar menunggu istrinya yang katanya membeli minum tapi tak juga keluar padahal sudah sepuluh menit berlalu. Sedangkan dari penglihatannya, mini market itu tidak terlalu rame.
Tak lama kemudian istrinya keluar, melambai dan tersenyum padanya. Senyum yang menular dan membuat Alvaro ikut tersenyum tipis.
Karena terburu-buru takut suaminya bertambah marah, Tiara tidak melihat jika ada anak tangga di depannya, membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
Alvaro yang melihat hal itu langsung membuka pintu mobil dan berlari menghampiri dan menolong istrinya.
"Lo kenapa sih ceroboh banget." seru Alvaro khawatir. Memapah Tiara untuk duduk di kursi yang tersedia di depan mini market.
Berjongkok dan melihat kaki istrinya. Yang seperti tidak apa-apa.
"Aaww sakit Al." rengek Tiara saat Alvaro sudah selesai memeriksa kakinya.
"Perasaan gak bengkak."
"Tapi tetep aja sakit tau." mengerucutkan bibirnya dengan mata puppy eyes.
"Lo yakin Al mau gendong gue?" tanya Tiara sangsi.
"Buru ah, gue udah ngantuk pengen tidur."
Tiara langsung naik ke punggung Alvaro, sebelum suaminya itu berubah pikiran.
Dengan sedikit kesusahan, Alvaro berhasil berdiri dan menggendong istrinya menuju mobil."Gak usah senyam-senyum begitu. Ngeri gue liatnya." ucap Alvaro yang dapat merasakan jika istrinya tersenyum.
Berdecak kesal. "Ngeselin banget sih Al!"
Menurunkan dengan hati-hati Tiara di kursi penumpang. Begitu juga setelah mereka sampai di apartemen, Alvaro kembali menggendong istrinya.
"Al. Gue turun aja gak papa deh." bisik Tiara, saat beberapa orang memperhatikan mereka di dalam lift. Siapa yang akan menyangka mereka suami istri. Pasti orang-orang mengira mereka akan berbuat mesum di apartemen ini, melihat Tiara yang manja dalam gendongan Alvaro.
"Udah diem. Nanti lo jatoh kalo gerak-gerak terus." seru Alvaro saat istrinya bergerak-gerak minta di turunkan.
__ADS_1
"Tapi gue gak enak di liatin mereka." masih dengan berbisik di sebelah telinga Alvaro, yang semakin membuat orang-orang yang melihatnya seperti Tiara sedang mencium Alvaro.
"Biarin aja ngeliatin, emang kenapa?"
Tiara hanya bisa menghela napas dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami. Biar setidaknya jika ia bertemu dengan orang-orang dalam lift tersebut mereka tidak terlalu mengenalinya. Karena jika harus berdebat dengan Alvaro, tidak mungkin dirinya bisa menang. Sudah banyak pembuktiannya di sekolah.
Pintu lift terbuka dan Alvaro masih menggendong Tiara dengan santainya, tidak merasa lelah atau berat.
Tiara memasukan passcode pada kunci apartemennya dan mendorong pintu itu untuk terbuka lebar.
"Yeeeaayy.. Makasih ya Al."
Alvaro mengerjapkan mata melihat istrinya melompat begitu saja dari gendongannya. Jadi sedari tadi dia hanya di kerjai dan kaki istrinya itu baik-baik saja.
"Lo!" seru Alvaro menahan geram dan menunjuk dahi istrinya sedikit mendorong.
"Hehe.. Abis lo lama banget sih marahnya sama gue. Kan gue gak mau di diemin mulu. Jadi aja deh gue pura-pura jatoh, ternyata lo peduli." jelas Tiara dengan senyum tercantiknya tanpa dosa sudah membuat suaminya menggendong tubuhnya dari basment.
"Makasih ya Al, masih peduli sama gue." menarik kaos bagian depan suaminya, berjinjit dan mengecup singkat bibir suaminya itu lalu berlari dengan sangat kencang masuk kamar dan menguncinya.
Alvaro mematung di tempat. Apa yang sudah istrinya lakukan? menampar pipinya sendiri berharap ini bukan mimpi dan terasa sakit. Menyentuh bibir yang tadi istrinya cium dengan senyum yang semakin lama semakin lebar.
Menyentuh dadanya yang berdegup semakin kencang. Ada rasa yang meledak-ledak dalam hatinya. Apa artinya ini? apa istri kecilnya itu sudah bisa menerima dirinya sebagai suami? apa Tiara sudah mulai membuka hati untuk dirinya? banyak pertanyaan bahagia menari di pikirannya.
Di lain sisi, Tiara juga sedang berusaha menormalkan degup jantungnya. Menepuk bibirnya yang lepas kontrol mencium Alvaro.
"Aaahhh kenapa sih gueee? nanti Alvaro kira gue kegatelan lagi!" makinya pada diri sendiri. "Gara-gara obrolan sama mommy nih pasti, jadi bibir gue mesum begini!" runtuknya lagi. Entah mau di taruh di mana mukanya di depan Alvaro.
"Aaahhh gue gak mau keluar kamar!!" menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dan menghentak-hentakan kakinya.
*
*
*
__ADS_1
Nanti malam gak janji up ya.. Tapi di usahakan 💕 kalau like sama komennya juga banyak ✌