
Riko benar-benar menepati janjinya yang hanya mandi saja tanpa melakukan sesuatu yang bisa membuat Imelda lelah. Meskipun hasratnya kembali bangkit, tapi Riko tidak mau menuntaskannya karena Riko khawatir dengan kondisi Imelda yang masih lemah.
Setelah selesai mandi, mereka berdua turun untuk makan karena perutnya yang sudah minta diisi.
"Dimana papa dan mama bi?" Tanya Imelda pada salah satu pelayan yang tidak sengaja bertemu dengannya saat menuruni tangga.
"Tuan sedang berada di halaman belakang bermain bulu tangkis sedangkan nyonya di taman bunga nona" jelas sang pelayan tersebut.
"Papa bermain dengan siapa bi?" Tanya Imelda karena setau Imelda, Andra dan Alvian tidak dirumah.
"Bersama dengan adik tuan muda Riko nona" jawab pelayan tersebut hingga membuat Imelda dan Riko saling pandang kemudian Riko menatap pelayan tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Siapa namanya bi?" Tanya Riko heran.
"Tuan besar tadi memanggilnya dengan nama Deny tuan muda" jawab pelayan tersebut dan Riko pun menghembuskan nafas kasar dan akan berlari menyusul tapi Imelda menahannya.
"Biarkan saja. Sebaiknya kita makan terlebih dahulu setelah itu kita baru menyusulnya" ucap Imelda seraya tersenyum lembut.
Mereka pun langsung duduk diruang makan dan mulai menyantap makanannya. Setelah selesai, mereka langsung menuju halaman belakang. Dan benar saja, di halaman belakang ternyata sudah ada Deny yang sedang mengerucutkan bibirnya sedangkan Heru tertawa terbahak-bahak.
Imelda dan Riko pun saling pandang. Riko sudah mengira jika Deny kalah. Karena Deny payah dalam urusan bulu tangkis tapi hebat dalam urusan basket.
__ADS_1
"Nak adikmu sangat payah." Ucap Heru dengan gelak tawanya.
"Dia memang seperti itu pa selalu payahh" ejek Riko seraya tersenyum.
"Sayang aku menyusul mama di taman dulu ya" pamit Imelda karena Imelda tidak mungkin ikut bergabung dengan para lelaki.
"Apa kau tidak mau melihatku bermain mel?" Ucap Deny dan mendapat tatapan tajam dari Riko.
"Panggil dia kakak. Sekarang dia kakak iparmu" ucap Riko tegas seraya langsung menarik pinggang Imelda.
"Cih. Dasar posesif" gerutu Deny.
"Sayang" ucap Imelda seraya meninggalkan sedikit kepalanya menatap Riko.
"Aku mau menyusul mama" jawab Imelda.
"Iya sayang lalu?" Tanya Riko polos hingga membuat Imelda sedikit geram.
"Gimana aku mau kesana jika tanganmu terus memelukku seperti ini" jawab Imelda seraya tersenyum dipaksakan.
"Hehe maaf sayang" jawab Riko dan langsung melepaskan tangannya.
__ADS_1
Setelah Riko melepaskan tangannya, Imelda langsung berjalan menuju taman bunga.
"Ma" panggil Imelda seraya memeluk Sandra dari belakang.
"Loh sayang. Kok kesini? Suamimu mana? Sudah makan? Sebaiknya kamu istirahat saja" ucap Sandra lembut dengan langsung melontarkan banyak pertanyaan dan membalikkan badannya kemudian membalas pelukan Imelda.
"Kak Riko sedang bermain bulu tangkis dengan papa dan Deny ma" jawab Imelda yang diangguki oleh Sandra.
"Apa kalian sudah makan?" Tanya Sandra.
"Sudah ma" jawab Imelda seraya menganggukkan kepalanya.
Sandra langsung mengajak Imelda duduk di kursi yang ada ditaman tersebut. Imelda menyenderkan kepalanya dibahu Sandra.
"Kenapa putri mama berubah jadi manja?" Goda Sandra dengan sedikit terkikik.
"Melda takut ma" jawab Imelda kembali memeluk Imelda.
"Apa yang membuatmu takut sayang? Katakan pada mama." Ucap Sandra lembut.
"Melda takut diculik lagi. Melda takut jauh dari kalian untuk kesekian kalinya" jawab Imelda seraya menitikkan air mata.
__ADS_1
"Tidak perlu takut sayang. Kita semua akan menjagamu. Jangan takut ya sayang" jawab Sandra seraya mencium pucuk kepala Imelda dan Imelda hanya mengangguk.
"Sekarang Melda punya keluarga yang lengkap. Melda punya papa dan mama yang selalu menyayangi Melda. Melda juga punya dua kakak yang sangat menyayangi Melda. Apalagi sekarang Melda sudah punya suami, pasti Melda akan aman karena banyak yang menyayangi Melda" jawab Sandra dan mencium kening Imelda.