
"Kalian silahkan pulang dulu nanti Andra nyusul" jawab Andra tanpa mengalihkan pandangannya dari batu nisan yang bertuliskan nama Nesya itu.
Keluarga Gunawan pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu begitu juga Riko yang ikut mengajak Imelda pulang karena fisik Imelda sedikit kelelahan.
Sekarang tinggalah Andra yang duduk di samping pusara sang kekasih dan Alvian yang setia menunghu sang kakak dengan berdiri di belakangnya. Begitu juga Ibu dan adik Nesya yang masih memeluk tanah basah itu. Andra trus menatap batu nisan itu. Tidak menyangka bahwa sang kekasih telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Maafkan aku. Maafkan aku karena aku tidak tau kau sedang berjuang melawan penyakit ganas itu sendirian. Aku menyesal maafkan aku" ucap Andra dengan air mata kembali menetes.
Alvian pun menghela nafasnya dan ikut berjongkok disamping Andra.
__ADS_1
"Jika kak Andra sayang dengan kak Nesya seharusnya kak Andra melakukan apa pesan kak Nesya. Bukankah kak Nesya berpesan bahwa kak Andra harus tabah dan selalu tersenyum? Bagaimana dengan kondisi adik dan ibu kak Nesya jika kondisi kakak seperti ini. Kak Nesya juga pasti akan sedih saat melihat kondisi kak Andra. Seharusnya kak Andra menenangkan adik dan ibu kak Nesya" penjelasan Alvian membuat Andra sedikit tersadar dan langsung menoleh kedepannya dan ternyata ada adik Nesya dan ibunya sedang menangis dengan posisi berpelukan.
"Bu ayo kita pulang" ucap Andra dan Alvian yang mendengar pun tersenyum lega karena Andra masih mau mendengarkan ucapannya.
Andra pun membantu ibu Nesya untuk berdiri sedangkan Alvian membantu adik Nesya. Setelah menyusuri jalanan komplek, akhirnya mereka sampai dirumah minimalis milik keluarga Nesya itu. Sesampainya disana, ternyata ada seorang pria paruh baya berambut gondrong sedang duduk dan memakan camilan yang ada diruang tamu.
"Dimana anakku?" Tanya Pria tersebut yang ternyata adalah ayah kandung Nesya.
"Oh ya? Aku tidak peduli meskipun dia mati. Kan masih ada kau yang bisa memberiku uang hahah" ucap Gito (Ayah Nesya) tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Andra dan Alvian pun menjadi emosi saat mendengar ucapan Gito. Mereka sedikit paham akan masalah yang dihadapi Nesya dan ibu nya.
"Nakk bisakah kalian tunggu diluar sebentar?" Tanya Ibu Nesya pada Andra dan Alvian.
"Iya bu" meskipun mereka berdua sudah ingin menghajar Gito namun mereka tetap menuruti apa yang diperintahkan oleh Ibu Nesya karena ini bukan urusan mereka.
Setelah beberapa saat menunggu diluar terdengar suara tangisan cukup keras dan juga teriakan kesakitan dari dalam rumah. Andra dan Alvian pun langsung berlari kedalam dan mereka melihat Ibu Nesya dijambak oleh Gito dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengacak-acak isi lemari ibu Nesya.
Dengan cepat, Alvian langsung menarik Gito dan menghajarnya sedangkan Andra membantu Ibu Nesya berdiri. Sedangkan para warga yang sedari tadi sepi pun mulai berdatangan di rumah Nesya.
__ADS_1
Salah satu warga langsung berlari mencari keberadaan adik Nesya. Dan benar saja, Adik Nesya sedang pingsan di lantai kamar Nesya seraya memeluk boneka kesayangannya.
"Tolongg" teriak Bu Jiem, tetangga yang paling dekat dengan keluarga Nesya.