Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 245-S2


__ADS_3

"Selamat sore, wah sepertinya aku mengganggu" ucapan seorang pria yang baru saja datangmengalihkan perhatian mereka. Suasana yang semula haru kini berubah menjadi senyuman bahagia.


"Lohh Elard, Alesha, dan Marcell, kalian kok bisa barengan" pertanyaan Imelda membuat tiga orang itu skaing pandang.


"Sebenarnya tidak barengan mom, hanya saja tadi aku bertemu dengannya waktu didepan jadi kita masuk bersama" mendengar jawaban dari Elard, Imelda mengangguk kemudian mengajak mereka semua masuk kedalam rumah.


"Ehh ada tamu, siapa mom?" Alesha menangkap sosok Jasmine yang berada dipelukan Gibran, samgat aneh menurutnya karena setahu dirinya Gibran tidak akan menyentuh wanita dengan sangat intim seperti itu.


"Istri kakakmu" mata ketiga orang tersebut membola, menatap Jasmine yang tersenyum dan mengangguk berniat menyapa.


"Yang dilamar Ara yang nikah kak Gibran" sindir Elard seraya langsung berlari masuk kedalam karena tidak ingin mendapat akukan dari kakak sepupu tertuanya.


"Ayo masuk" kini tinggal dua orang yang berada ditaman itu, Jasmine masih menikmati angin sejuk seraya menghirup keringat ditubuh Gibran yang entah sejak kapan menjadi candunya.

__ADS_1


"Sebentar, aku ingin seperti ini sebentar saja" Gibran mengangguk dan sesekali mengecup pucuk kepala Jasmine.


"Tanyakan saja apa yang mengganjal dihatimu" seolah bisa merasakan keraguan dihati sang istri, Gibran memutuskan untuk bertanya.


"Siapa pria dan gadis itu kenapa aku merasa tidak asing dengan mereka" tanya Jasmine seraya menatap bola mata teduh penuh kasing sayang itu.


"Yang baru saja tiba dan langsung dipeluk Chayra tadi adalah Marcell, calon suami Chayra. Pria yang satunya tadi ialah Elard Lamont, dia anak dari papa Andra, Andra Gunawan kau pasti tahu bukan. Dan untuk gadis itu adalah Alesha, anak tunggal dari ayah Alvian Gunawan, kau juga pasti sudah tahu" Jasmine menegakkan badannya saat mendengar penjelasan dari sang suami. Hidupnya berubah dengan drastis, bahkan Jasmine memiliki orang yang sangat kuat dikelilingnya.


"Maafkan aku jarena mengganggu acara penting di keluargamu, aku -" belum sampai Jasmine menyelesaikan ucapannya, benda kenyal sudah menempel dibirnya. Tangan yang semula berada dipunggung kini mulai turun seirama hasrat yang melambung.


Tapi naas, Jasmine langsung melepaskan tautan bibirnya saat tangan Gibran baru saja akan masuk kedalam kaus yang digunakan sang istri.


"Aku lapar" Jasmine menunduk malu, meskipun awalnya dirinya berkata itu hanya untuk alasan tapi sebenarnya dirinya juga benar-benar lapar.

__ADS_1


"Maafkan aku karena melupakan makan siangmu sayang" Gibran merasa bersalah, bagaimana bisa dirinya melupakan makan siang sang istri. Gibran langsung berdiri dan menarik tangan Jasmine untuk menemani Jasmine makan siang meskipun sudah terlewat, bahkan dirinya saja sudah makan tadi. Keterlaluan bukan?.


Masuk kedalam rumah, terdengar suara tawa menggema dari ruang keluarga. Bahkan kini seperti banyak orang. Gibran mempertajam pendengarannya, suara dan tawa diruang keluarga seolah tidak asing baginya. Jika hanya ada dua sepupu kurang ajarnya itu, Gibran tidak akan seperti ini. Tapi ini sepertinya keluarga besarnya sedang berkumpul, ada acara apa? batin Gibran bertanya-tanya.


"Makanlah sayang" Gibran menampik pikirannya, dan menarik kursi untuk Jasmine duduk. Jasmine tersenyum, baru saja ingin mengambil makanan tangamnya sudah dicekal oleh Gibran, tanpa Gibran berbicara pelayan dengan sigap mengambilkan makanan dan menawari lauk yang diinginkan Jasmine.


"Sayang, ini terlalu berlebihan" lirih Jasmine merasa ini bukan dirinya, karena dirinya terbiasa mandiri sejak kecil.


"Mereka akan sedih jika tidak bisa menjalankan tugasnya" jawab Gibran mengambil alih piring yang disodorkan oleh pelayan untuk Jasmine.


"Aku akan makan sendiri" Gibran mengangguk, kemudian meletakkan piring didepan Jasmine dengan hati-hati.


"Wahh apa ini cucu menantu Grandma?" suara itu mengejutkan dua orang yang sedang duduk dimeja makan, Jasmine tersenyum kikuk seraya mencengkeram kaus yang digunakan Gibran dibawah meja, sedangkan Gibran hanya menggaruk tengkuknya kemudian menggenggam tangan istrinya yang sudah dingin.

__ADS_1


__ADS_2