Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 237-S2


__ADS_3

"Sayang ada apa?" Marcell yang mendengar suara tangisan dari gadis cantiknya langsung berlari dan memeluk erat gadis yang baru saja dilamarnya beberapa menit lalu. Masih dengan tangisannya, Chayra menunjukkan pesan yang tertukis diaplikasi chat milik calon suaminya.


"Kakk aku merindukanmu, kenapa kakak lama sekali disana? kakak akan memenuhi janji untuk menikahiku bukan?" pesan yang dikirim oleh Alena membuat Chayra terbakar emosi, bukan hanya Chayra tapi juga Marcell. Tidak niat merahasiakannya hanya saja Marcell tidak pernah membuat janji seperti itu.


"Apa ini alasanmu tidak mengabariku selama ini? apa ini juga alasanmu tidak pernah pulang ke negara ini hamour dua tahun ini? haa? jelaskan padaku Marcell!!" Chayra melepaskan pelukan Marcell dengan paksa bahkan tangannya tak segan memukul dada bidang itu.


"Sayang aku akan jelaskan tenanglah dulu" Marcell kembali mendekap Chayra dalam pelukannya. Tak peduli meskipun Chayra memberontak.


"Apa yang ingin kau jelaskan? bukankah kau akan menikahi gadis itu? lalu kenapa kau kembali kesini dan melamarku?" teriak Chayra dengan suara yang semakin melemah. Bahkan dirinya hanya pasrah saat Marcell memeluk erat tubuhnya.

__ADS_1


"Sayang aku tidak pernah membuat janji murahan seperti itu" jawab Marcell dengan tegas.


"Lalu apa itu? jika kau tidak membuat janji, wanita itu juga tidak akan menagih" bantah Chayra masih dengan isak tertahan. Marcell menghela nafasnya pelan kemudian menuntun Chayra untuk kembali duduk.


"Sekarang dengarkan aku" Marcell menangkup pipi Chayra yang basah air mata itu, perlahan ibu jarinya mengusap air mata yang mengalir dengan derasanya. Mata cantik nan sembab itu menyiratkan kekecewaan yang mendalam.


"Penyakit Alena kambuh, aku harus menemaninya berobat lagi disana dan itu sebabnya aku juga pindah kuliah" Marcell berhenti sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya "Sebenarnya aku juga malas dengan sifat manjanya, tapi karena hutang budi orang tuaku terhadap keluarganya itu yang harus membuatku menuruti semua keinginan mereka"


"Tidak. Aku rela dibunuh daripada aku harus menikah dengan Alena" jawab Marcell dengan penuh ketegasan disetiap ucapannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa kau tidak menghubungiku?" tanya Chayra dengan wajah yang masih sama ketusnya.


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin Alena mengambil ponselku dan mengatakan hal yang tidak-tidak kepadamu" jawab Marcell menundukkan kepalanya, sebenarnya itu bukan alasan utama Marcel, ada alasan lain yang membuatnya tidak menghubungi Chayra selama itu.


"Aku yakin ada lagi yang kau sembunyikan dariku selain masalah Alena" selidik Chayra.


"Sebenarnya alasanku pertama kali pindah ke negara itu karena ibuku memutuskan untuk merawat ayahku yang sakit keras disana. Dan untuk alasan tidak menghubungimu tadi bukan alasan utama. Alasan utama ku karena ayahku meninggal dunia saat itu dan aku yang terpukul tidak ingin diganggu oleh siapapun saat itu" Marcell menarik nafas pelan kemudian menghembuskannya.


"Maafkan aku karena sudah berpikir negatif tentangmu" Chayra menyesali kebodohannya yang terbawa emosi tanpa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Marcell memeluk Chayra dengan erat, ingatan tentang ayahnya kembali berkeliaran diotak cerdasnya. Bahkan air mata tak kuasa ditahannya.

__ADS_1


"Maafkan aku juga karena tidak ada disaat kau terpuruk" Chayra membalas pelukan Marcell tak kalah eratnya. Marcell hanya mengangguk dan melepaskan pelukannya kemudian mengecup bibir yang sudah menjadi candunya itu.


"Sebentar lagi libur semester bukan? jadi ikutlah denganku ke negara itu. Aku akan mengajakmu menemui ibu dan kita jalan-jalan" saran Marcell membuat Chayra mendongakkan kepalanya, menatap manik mata tajam yang sudah berhasil menghujam hatinya.


__ADS_2