Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 284-S2


__ADS_3

"Maafkan aku sayang" lirih Gibran entah sudah berapa kali.


Hari sudah pagi, Gibran masih setia menggenggam tangan Jasmine tapi dengan keadaan duduk terlelap. Begitu juga dengan Jasmine yang sedari semalam seolah belum ingin membuka matanya.


"Gibrann" Imelda menepuk halus punggung putranya, membangunkan agar putranya membersihkan diri dan sarapan.


"Mom" lirih Gibran menoleh ke sang mommy kemudian kembali menoleh kearah istrinya.


"Mandi dulu, bersihkan dirimu. Mommy akan menjaga Jasmine, mommy sudah membawa beberapa baju ganti untukmu. Nanti setelah membersihkan diri, makanlah"


Gibran diam, ia masih belum ingin beranjak dari tempat duduknya. Bahkan meninggalkan istrinya untuk mandi pun ia tak sanggup.


"Gibran, jangan buat Jasmine semakin sedih saat melihatmu hancur seperti ini" ucap Riko, jika daddynya sudah angkat bicara maka ia akan menurut.


Ia mengambil kaos dan celana santai, membawanya kekamar mandi yang ada diruangan itu. Sesekali ia menoleh kebelakang, merasa berat ketika meninggalkan istrinya.


"Auhh" Imelda yang sedang berbincang dengan yang lainnya langsung berdiri ketika mendengar rintihan Jasmine, tapi Gibran masih mandi.


Imelda langsung memencet tombol disamping ranjang Jasmine untuk memanggil dokter, tidak lama dokter dan perawat berlarian masuk kedalam untuk mengecek kondisi Jasmine.

__ADS_1


"Kondisinya sudah membaik, hanya menunggu bekas operasi kering dan pemulihan saja" ucap dokter setelah selesai memeriksa kondisi Jasmine.


"Jasmine, apa yang terjadi?" Panik Gibran saat ia baru saja keluar kamar mandi tapi dokter dan perawat ada diruangan rawat istrinya.


"Operasi?" Lirih Jasmine menoleh kesekelilingnya, mencari jawaban melalui semua orang yang ada diruangan itu.


"Sayang" Jasmine menoleh kearah Gibran, melihat Gibran yang ingin meneteskan air mata membuat Jasmine teringat pada anaknya.


"Sayang, anak kita tidak apa kan? Dia kuat kan? Ahh maafkan bunda lalai ya sayang" ucap Jasmine mengelus perutnya.


"Ahh" rintih Jasmine saat merasakan nyeri diperutnya.


"Sayang, kenapa menangis?" Ucap Jasmine masih tidak mengerti.


"Sayang yang kuat ya, kalian akan mendapatkan gantinya" ucapan Imelda membuat Jasmine semakin bingung, ia menoleh kearah sang daddy mertua yang juga menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak mengerti maksut kalian" ucap Jasmine memukul kepalanya.


"Dok apa yang terjadi, kenapa mereka semua menangis?" Bingung Jasmine karena semua orang tidak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Maaf nona, janin anda tidak bisa diselamatkan akibat benturan yang sangat keras" bagai dihantam, Jasmine langsung diam tapi dengan air mata yang menetes.


"Tidak, dokter pasti bohong kan. Anakku itu kuat, bahkan mama Dinda bilang anakku sangat sehat" mendengar ucapan Jasmine, membuat Imelda langsung memeluk suaminya. Ia tidak kuasa menahan tangisnya saat melihat anak-anaknya sehancur ini


"Sayang, maafkan aku" ucap Gibran menggenggam erat tangan Jasmine masih dengan air mata yang menetes.


"Sayang katakan padaku bahwa mereka bohong" ucap Jasmine masih tidak percaya.


"Sayang jawab, mereka bohong kan" teriak Jasmine semakin histeris dan memukul kepalanya sendiri.


"Apa kalian tahu? Anakku sedang berlarian, tadi aku bermain dengannya dialam mimpi. Dia sehat, kenapa kalian bilang dia tidak ada" ucap Jasmine membuat Gibran semakin hancur.


"Sayang, jangan seperti ini" lirih Gibran memeluk istrinya yang semakin histeris.


"Hiks hiks, kalian bohong, dia masih didalam perutku" Gibran menggeleng, tidak berniat melepaskan pelukan istrinya.


"Sayang, tuhan lebih sayang anak kita" ucap Gibran, membuat Jasmine memukul punggung Gibran.


"Aku benci, aku benci diriku sendiri yang tidak bisa menjaga bayiku" lirih Jasmine, kemudian tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Sayang" panik Gibran.


__ADS_2