Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 264-S2


__ADS_3

Semua berkumpul diruang keluarga, membahas dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Anggota keluarga terlihat lengkap hanya saja Gibran dan Elard yang kurang disini.


"Nak, dimana cucu menantu mama?" tanya Sandra pada Imelda.


"Sudah kembali keluar kota untuk menyelesaikan kuliah mereka ma, mungkin tinggal menunggu beberapa minggu untuk wisuda" jawab Imelda


"Wah sayang sekali, padahal mama belum bertemu dan berkenalan dengannya" balas Sandra dengan wajah lesu.


"Papa ingin pensiun secepatnya dan bermain bersama cicit-cicit papa. Jadi kalian cepatlah mengurus surat perpindahan nama dan cepat nikahkan anak-anak kalian" ucap Heru pada anak-anaknya.


"Papa kan sekarang tidak pernah kekantor lagi lalu apa yang disebut pensiun lagi?" geram Alvian dan memang hanya Alvian yang berani menjawab apa saja yang dikatakan oleh sang papa. Meskipun sudah berumur, tapi sifat konyol dan berani seolah sudah melekat dalam diri Alvian.


"Meskipun papa sudah tidak kekantor tapi masih ada beberapa perusahaan yang atas nama papa." bantah Heru.


"Sudah-sudah, dirumah jangan membahas masalah kantor. Maaf ya keluarga saya memang seperti ini jika sudah berkumpul" ucap Sandra tidak enak pada orang tua Marcel yang menyaksikan perdebatan mereka.


.

__ADS_1


.


Di kota lain, Gibran baru saja memasuki rumah barunya setelah tadi mengurus keperluan dan tempat tinggal Dela, bocah yang ditemukannya.


"Sayang bukankah ini terlalu berlebihan?" Jasmine yang baru saja turun dari mobil menatap sekeliling rumah barunya. Meskipun satu lantai, rumah ini terlihat mewah dan elegan.


"Apa kau tidak suka?" tanya Gibran memeluk Jasmine dari belakang.


"Aku suka, taoi bukankah kita disini hanya tinggal beberapa minggu? lalu siapa yang akan menghuni rumah ini?" tanya Jasmine menatap wajah Gibran yang bersenderkan bahunya.


"Biarkan bocah-bocah itu yang menghuni rumah ini setelah kita pergi, ini cukup luas bukan jika untuk mereka? aku sudah menyiapkan orang tua yang akan mengawasi mereka disini, aku juga sudah menyiapkan beberapa guru yang akan mengajar mereka dirumah ini. Aku sengaja tidak menyekolahkan mereka disekolah umum karna itu masih berbahaya untuk mereka, terlebih lagi masih ada beberapa orang yang mengincar mereka" penjelasan Gibran membuat Jasmine langsung membalikkan badannya dan memeluk tubuh suaminya. Tidak menyangka jika suaminya berpikir jauh seperti itu dan mendukung dirinya.


"Ayo masuk, aku sudah tidak bisa menahannya" goda Gibran semakin menempelkan tubuh Jasmine dengan tubuhnya.


Pipi Jasmine merona, meskipun begitu dirinya mengangguk. Sentu.han demi sentuhan Gibran menjadi candu baginya.


Gibran merangkul pingang istrinya, mengajaknya masuk kedalam rumah dan tak lupa mengunci pintu kembali agar tidak ada yang menganggu penyatuan cinta mereka. Sepertinya Gibran memang sudah tidak bisa menahannya karena baru saja mengunci pintu Gibran sudah menyerang istrinya dengan ciuman bertubi-tubi, tangannya bahkan juga sudah berkeliling.

__ADS_1


.


.


Berbeda dengan mereka yang menikmati kebahagiaannya, seorang gadis cantik sedang mengalami patah hati yang amat sangat. Entah sudah berapa jam dirinya duduk bersenderkan pintu apartement memeluk kedua lututnya. Menunpahkan segala isak tangisnya. Kekasih yang menjadi sandaran baginya kini berkhianat padanya. Bahkan setelah pertengkaran hebat tadi Dareen langsung pergi dan membawa Arsy tanpa berpamitan padanya. Kini tidak ada harapan untuk hidup lagi, orang yang membuatnya kuat sudah menghancurkan hatinya. Segera bangkit dan mengusap air matanya sangat kasar. Mengambil tasnya dan menumpahkan semua isinya untuk mencari sesuatu yang dapat menenangkannya.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Agatha adalah gadis rapuh yang harus selalu bergantung obat agar tenang dan nyaman. Obat yang masih berisi setengah itu diambil semua oleh Agatha untuk diminum agar hatinya tenang dan tidak merasakan sakit lagi.


Segenggam obat ditangan kanannya dan segelas air putih ditangan kirinya, Agatha berniat mengakhiri semua disini.


Gubrakk


Pintu terbuka paksa, terlihat beberapa petugas keamanan dan Dareen yang muncul dengan wajah paniknya. Agatha benar-benar diposisi terlemah sampai tidak menyadari kehadiran mereka.


"Kau gila Agathaaa" Dareen langsung berlari dan menepis tangan Agatha hingga obat itu berceceran.


Jika saja Dareen terlambat satu menit saja, entah apa yang terjadi pada Agatha nanti. Beruntung tadi Chayra menghubunginya.

__ADS_1


"Dareen apa kau tahu jika Agatha mengonsumsi obat depresi untuk membantu membuatnya tenang? aku lupa saat ingin menanyakan hal ini padamu, sebenarnya aku sudah mengetahui ini dari lama tapi aku baru ingat. Waktu itu aku melihat ditas Agatha ada obat dan aku mengambilnya satu dan menanyakan obat apa itu pada mommyku. Tetaplah disisi Agatha saat Agatha merasa sedih. Dia butuh sandaran yang bisa menguatkan." penjelasan Chayra ditelepon membuat Dareen yang baru saja sampai dirumah sakit langsung memutar kembali mobilnya dan meninggalkan Arsy dirumah sakit sendirian.


"Aku ingin pergi, aku tidak ingin merasakan sakit lagi" ucap Agatha dengan tatapan kosong, bahkan pelukan Dareen pun tidak ditolak ataupun dibalas olehnya.


__ADS_2