
"Hallo, jangan pernah menghubunginya lagi" jawab orang tersebut kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Si-siapa kau?" tanya Imelda terkejut tapi sama sekali tidak nendapat jawaban karena telepon nya sudah terputus. Imelda pun langsung memeluk Sandra hingga membuat Heru, Riko, dan Sandra pun menjadi khawatir dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Dinda hingga membuat Imelda menangis seperti ini.
"Kenapa sayang?" tanya Sandra seraya mengelus rambut Imelda.
"Tolong Dinda ma, Dinda dalam bahaya" jawab Imelda dengan terisak. Riko langsung mengambil ponsel Imelda dan mencoba menghubungi Dinda kembali tapi handphone milik Dinda sudah tidak aktif. Tapi, Riko mendapat petunjuk jika Dinda berada di hotel GW hotel's dengan nomor kamar 143A.
Beruntung tadi Dinda sempat mengirim lokasinya. Riko sangat yakin jika Dinda dalam bahaya karena terlihat saat Dinda mengirim pesan pada Imelda disertai dengan emoji SOS.
"Aku akan menyelamatkan Dinda sayang" jawab Riko kemudian pamit pada semua orang yang masih tersisa diruang keliarga. Tidak lupa Riko juga mengecup kening Imelda.
__ADS_1
"Hati hati nak" jawab Sandra yang dijawab anggukan oleh Riko.
"Jangan sendiri nak, ajak kedua kakakmu" ucap Heru.
"Tidak perlu pa, Riko akan menghubungi Cleo dan meminta bantuannya, karena tidak mungkin mengajak kak Andra dan kak Alvian karena mereka sedang menuruti kemauan calon keponakannya" jawab Riko disertai senyuman.
"Yasudah, hati-hati. Kabari papa jika kau butuh bantuan" jawab Heru.
"iya pa" balas Riko kemudian langsung pergi tidak lupa dia juga mengirim pesan untuk Cleo agar datang ke hotel milik keluarga Gunawan itu.
"Sebenarnya ada apa? bukankah ini akhir pekan? kenapa kau malah memanggilku?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Cleo, karena tidak biasanya Riko menghubungi nya saat akhir pekan.
__ADS_1
"Banyak tanya. Cepat minta pihak hotel untuk membuka paksa kamar nomor 143A" jawab Riko dan langsung melenggang masuk meninggalkan Cleo yang masih dirundung rasa penasaran.
Cleo pun langsung menuju meja resepsionist dan meminta apa yang diperintahkan oleh Riko. Manajer hotel yang mengenali Riko pun langsung menyuruh pihak resepsionist untuk memberikan kunci cadangannya. Dengan sedikit berlari, mereka menuju lantai dimana kamar nomor 143 berada. Beberapa pihak keamanan juga ikut dalam mengemban misi yang mereka sama sekali belum tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Cepat buka pintunya" titah Riko.
Tanpa membutuhkan waktu lama, pintu terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya yang berusaha melecehkan seorang gadis yang tak lain adalah Dinda. Beruntung Riko datang tepat waktu, sehingga Dinda belum kehilangan mahkota nya karena kelakuan bapak-bapak tua bejat itu.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak pria paruh baya tersebut seraya memungut bajunya yang berceceran, sedangkan Dinda langsung menutupi bagian atas tubuhnya yang sudah setengah polos.
"Rupanya tuan Jek, aku tidak menyangka bahwa pengusaha yang terkenal suka membatalkan kontrak seenaknya juga seorang yang sangat menjijikkan" ucap Riko seraya bertepuk tangan kemudian duduk disofa seraya menyilangkan kedua kakinya. Ya, pria paruh baya tersebut adalah Tuan Jek, pengusaha yang suka membatalkan kontrak kerjasama sepihak dengan alasan yang tidak jelas.
__ADS_1
"Cih, apa mau mu? kenapa kau mengganggu waktu bersenang-senangku. Apa dia selingkuhanmu? Apa kamu tidak takut dibuang dari keluarga Gunawan dan Yunanda karena kamu sudah berkhianat" Sebenarnya tuan Jek sudah sangat malu dan gugup, tapi dia menutupi nya dengan mengkambing hitamkan Riko.
"Sangat pandai berbicara. Aku sangat kasihan pada keluarga istri mu yang selalu menganggap kau adalah pria baik-baik hingga rela menyerahkan perusahaan Criss Fashion ke tangan pria bejat sepertimu" jawab Riko mencoba mengontrol emosinya, jangan tanyakan kenapa Riko bisa tahu betapa liciknya Tuan Jek, sebenarnya satu bulan yang lalu pria paruh baya tersebut pernah mengajukan kontrak kerjasama dengan perusahaan Yunanda dan ditolak oleh Riko karena Riko menyuruh Cleo menyelidiki Tuan Jek.