
"Apa kakak jadi melanjutkan S2 kakak di negara J?" Mendengar pertanyaan Chayra membuat Gibran menolehkan kepalanya dan menatap wajah adiknya yang terlihat sendu. Gibran bangkit dari posisi tidurannya menjadi duduk bersandar dikepala tanjang. Menghela nafasnya, Gibran menatap pada Chayra yang sedang tidur tengkurap dengan menhadap kearahnya.
"Tidak Araa, kakak akan tetap disini" Gibran tersenyum lembut, Chayra pun langsung duduk dan memeluk Gibran.
"Terima kasih kak" Chayra memeluk dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Gibran. Gibran mengelus kepala Chayra dengan lembut. "Tapi jika kakak mau kuliah di luar negeri tidak apa kakk, kan ada kak Elard dan kak Eca yang bisa menjagaku" Chayra menegakkan kepalanya menatap wajah sang kakak yang masih terlihat bimbang. "Ara tau kakak masih bimbang, bagaimanapun negara J adalah engara impian kakak untuk melanjutkan study kakak" kembali menenggelamkan wajahnya, Chayra berucap dengan sendu.
"Kakak akan kuliah di luar kota saja jadi kakak bisa menjengukmu setiap akhir pekan" ini keputusan akhir yang diambil oleh Gibran, dengan kuliah disini Gibran akan tetap bisa bertemu dengan keluarganya meskipun itu satu minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali.
"Apa Ara boleh ikut kuliah satu kampus dengan kakak, pasti disana juga ada S1 kan?" Chayra bertanya dengan tatapan memohon.
"Jika kau ikut dengan kakak maka siapa yang akan menjaga mom dan dad? mereka pasti akan kesepian jika kau juga ikut kakak. Jadi tetaplah disini, oh ya kau kan juga ingin secepatnya melihat kakak mempunyai pasangan kan? kalau kau terus membuntuti kakak kemanapun kakak pergi bagaimana bisa ada wanita yang mendekati kakak? mereka pasti akan takut denganmu" goda Gibran, sebenarnya Gibran sama sekali belum memikirkan pasangan.
__ADS_1
"Apa jika suatu saat kakak sudah mempunyai pasangan kakak akan melupakan Ara?" mata cantik itu bekaca-kaca.
"Ehh siapa bilang? kakak tidak akan melupakan adik cantik kakak ini" Gibran memeluk Chayra dengan erat.
"Sekarang ayo temani kakak belanja keperluan kakak" dengan cepat, Chayra langsung melepaskan pelukannya dan melompat turun dari ranjang.
"Ara siap-siap dulu kakk, tunggu araa" teriak Chayra seraya berlari keluar kamar Gibtan, sedangkan Gibran hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya.
Gibran tersenyum dan berjalan menyusul Chayra yang sudah keluar terlebih dahulu. Menaiki mobil sportnya, Gibran terlihat semakin tampan dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya.
"Kakak ingin membeli apa?" tanya Chayra memecah keheningan didalam mobil.
__ADS_1
"Kakak ingin merubah penampilan kakak saat kuliah nanti" jawab Gibran seraya tersenyum tipis.
"Apa kakak ingin jadi bencong?" tanya Chayra seraya menatap Gibran intens. Pertanyaan Chayra mendapat sentilan kening dari Gibran. "Aww" rintih Chayra seraya mengusap keningnya.
"Ayo turun" setelah sampai di pusat perbelanjaan dan memarkirkan mobilnya, Gibran mengajak Chayra untuk turun. Memeluk manja lengan sang kakak, membuat para wanita yang berkunjung di pusat perbelanjaan tersebut menatap iri pada Chayra.
Memasuki toko satu dan yang lainnya, Chayra dibuat lelah saat kakaknya seolah belum menemukan apa yang dicarinya. "Kakk sebenarnya kakak mencari perlengkapan apa?" bertanya seraya menghentakkan kakinya, Gibran dibuat tertawa karena berhasil mengerjai adiknya. Gibran mengambil ponselnya disaku dan menunjukkan gambar pada Chayra. Chayra menutup mulutnya dan memukul keningnya. "Apa kakak yakin kakak akan mengubah penampilan kakak seperti ini?" Pertanyaan Chayra diangguki oleh Gibran.
"Kenapa kakak tidak bilang dari tadi?" gerutu Chayra seraya menarik tangan Gibran keluar dari toko tersebut. Memasuki toko kacamata, Chayra memilihkan beberapa kacamata bulat untuk dipakai Gibran.
"Kakak suka yang mana?" menunjukkan berbagai macam kacamata bulat didepannya, Chayra dibuat bingung karena Gibran hanya diam melihatnya memilih keperluan untuk merubah penampilan sang kakak.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...